Gencatan Senjata Gagal? Iran Pungut Tarif Kapal di Selat Hormuz, Trump Kesal: Itu Bukan Kesepakatan!
Listusista Anggeng Rasmi April 10, 2026 12:44 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melontarkan kritik keras terhadap Iran terkait pengelolaan jalur pelayaran strategis di kawasan Timur Tengah.

Ia menyoroti dugaan kebijakan Iran yang mengenakan biaya terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, yang dinilai bertentangan dengan kesepakatan sebelumnya.

Menurut Trump, tindakan tersebut tidak hanya melanggar komitmen, tetapi juga mencerminkan sikap yang tidak terhormat di mata internasional.

"Iran melakukan pekerjaan yang sangat buruk, bahkan bisa dibilang tidak terhormat, dengan mengizinkan minyak melewati Selat Hormuz. Itu bukan kesepakatan yang kita miliki!" tulis Trump di platform Truth Social, Jumat (10/4/2026).

Pernyataan ini muncul setelah adanya laporan bahwa Iran mulai memungut biaya dari kapal tanker minyak yang melintasi jalur vital tersebut.

Trump pun memberikan peringatan tegas agar kebijakan tersebut segera dihentikan.

"Ada laporan bahwa Iran memungut biaya dari kapal tanker minyak yang melewati Selat Hormuz. Sebaiknya mereka tidak melakukan itu, dan jika mereka melakukannya, sebaiknya mereka berhenti sekarang juga!" lanjutnya.

Beberapa menit setelah pernyataan pertama, Trump kembali menegaskan optimisme bahwa distribusi minyak dunia akan tetap berjalan.

"Sebentar lagi, Anda akan melihat minyak mulai mengalir, dengan atau tanpa bantuan Iran."

Baca juga: Perang Iran-AS Mereda Usai Gencatan Senjata, Israel Justru Serang Ibu Kota Lebanon, 254 Orang Tewas

PERANG IRAN AS - Ilustrasi Selat Hormuz.
PERANG IRAN AS - Ilustrasi Selat Hormuz. (Dok./Wikimedia Commons)

Selain isu pelayaran, Trump juga menyinggung soal ambisi nuklir Iran yang selama ini menjadi perhatian global.

Ia menegaskan bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir di bawah pengawasannya.

Dalam pandangannya, hasil dari ketegangan terbaru dengan Iran merupakan sebuah kemenangan nyata bagi pihaknya.

Menurutnya, media tersebut salah menyebut sikapnya sebagai deklarasi kemenangan prematur.

"Wall Street Journal, salah satu "Dewan Editorial" terburuk dan paling tidak akurat di dunia, menyatakan bahwa saya "menyatakan kemenangan prematur di Iran."

Sebenarnya, itu adalah sebuah kemenangan, dan tidak ada yang "prematur" tentang itu! Karena saya, Iran TIDAK AKAN PERNAH MEMILIKI SENJATA NUKLIR dan, dengan sangat cepat, Anda akan melihat minyak mulai mengalir, dengan atau tanpa bantuan Iran dan, bagi saya, itu tidak ada bedanya," tulis Trump di Truth Social, Jumat.

Tak berhenti di situ, Trump juga meminta media tersebut untuk menarik kembali pernyataannya dan lebih berhati-hati dalam menyampaikan kritik.

"Wall Street Journal, seperti biasa, akan menelan ludah mereka sendiri. Mereka selalu cepat mengkritik, tetapi tidak pernah mengakui kesalahan mereka, yang sebagian besar terjadi!" tulisnya.

IRGC Rilis Peta Jalur Aman bagi Kapal di Selat Hormuz untuk Hindari Ranjau

PETA SELAT HORMUZ - Tangkapan layar SNN dari sumber IRGC, Jumat (10/4/2026), memperlihatkan peta jalur aman bagi kapal yang ingin melintasi Selat Hormuz untuk hindari ranjau laut.
PETA SELAT HORMUZ - Tangkapan layar SNN dari sumber IRGC, Jumat (10/4/2026), memperlihatkan peta jalur aman bagi kapal yang ingin melintasi Selat Hormuz untuk hindari ranjau laut. ((Ist)/SNN/IRGC)

Baca juga: Murka Lebanon Digempur, Iran Kembali Tutup Selat Hormuz, Tuding AS-Israel Langgar Gencatan Senjata

Sebelumnya, Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan pada Kamis (9/4/2026), adanya ranjau di jalur pelayaran biasa di selat tersebut, yang menunjukkan dua jalur alternatif telah diidentifikasi untuk kapal-kapal di utara dan selatan Pulau Larak untuk menghindari kemungkinan tabrakan.

"Karena situasi perang di Teluk Persia dan Selat Hormuz, dan kemungkinan adanya ranjau anti-kapal di jalur lalu lintas zona utama Selat Hormuz, semua kapal yang bermaksud melintasi Selat Hormuz harus mematuhi prinsip keselamatan maritim dan menghindari kemungkinan tabrakan dengan ranjau laut, mereka harus berkoordinasi dengan Angkatan Laut IRGC di Selat Hormuz," bunyi pernyataan IRGC yang dipublikasikan media Iran, Student News Network (SNN).

Pernyataan tersebut disertai gambar peta dengan keterangan jalur utara yaitu dari Laut Oman ke utara, lalu menuju Teluk Persia.

Sedangkan jalur selatan yaitu dari Teluk Persia dan melewati sebelah selatan Pulau Lark, berlanjut ke Laut Oman.

Iran Ancam Tutup Selat Hormuz Lagi

Sebelumnya, media Fars Iran melaporkan bahwa Iran kemungkinan membatasi akses kapal untuk melewati Selat Hormuz setelah Israel meluncurkan serangan mematikan ke Lebanon pada Rabu (8/4/2026).

"Berdasarkan data yang diperoleh dari sistem pelacakan lalu lintas maritim, kapal tanker AUROURA, yang sedang bergerak menuju pintu keluar Selat Hormuz," lapor Fars.

"Kapal itu tiba-tiba mengubah arah di dekat pantai Musandam (dekat Khasab) dan berputar 180 derajat, kembali ke kedalaman Teluk Persia," lanjutnya.

Kapal ini, yang diklasifikasikan sebagai Kapal Tanker Produk Minyak, saat ini dilaporkan sedang berlayar ke arah barat/barat laut dan berada di dalam Teluk Persia.

Menurut para ahli maritim, pola pergerakan seperti itu (berbalik arah) di wilayah ini disebabkan oleh faktor operasional atau keputusan manajemen dan penerimaan perintah dari otoritas pengatur dan unit patroli maritim Iran.

Sementara itu, Iran tidak mengeluarkan pernyataan apa pun terkait kabar ini.

Serangan brutal Israel menewaskan lebih dari 200 orang dan melukai 1.000 lainnya di Beirut, Lembah Bekaa, Gunung Lebanon, Sidon, dan beberapa desa di Lebanon selatan pada hari Rabu.

Israel mengklaim serangan itu adalah serangan terkoordinasi terbesar terhadap fasilitas militer Hizbullah.

Hizbullah menanggapi dengan menyatakan mereka berhak membalas serangan tersebut.

Sementara itu, Iran bersikeras untuk memasukkan gencatan senjata di Lebanon sebagai bagian dari perjanjian gencatan senjatan AS-Iran, namun AS dan Israel menolaknya.

Perang AS-Israel Vs Iran

Amerika Serikat dan Israel memulai agresi terhadap Iran dengan meluncurkan serangan ke sejumlah wilayah pada 28 Februari 2026.

Serangan ini menjadi awal perang baru di Timur Tengah, yang dimulai hanya dua hari setelah putaran ketiga perundingan soal pembatasan program nuklir antara Washington dan Teheran di Jenewa, Swiss.

Selama ini, AS dan Israel menuduh Iran tengah mengembangkan senjata nuklir melalui pengayaan uranium.

Iran menegaskan program tersebut hanya untuk kepentingan energi sipil dan membantah upaya pengembangan senjata nuklir.

Setidaknya 1.900 orang dilaporkan tewas dalam serangan AS-Israel dan balasan Iran yang menyasar fasilitas militer kedua pihak di Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

Selain itu, Iran menghentikan pembicaraan tentang perjanjian nuklir dan memblokade Selat Hormuz, jalur utama distribusi energi dunia, yang memicu lonjakan harga minyak global dan kekhawatiran krisis energi.

Beberapa minggu lalu, Presiden AS Donald Trump menyatakan adanya upaya untuk kembali ke jalur diplomasi.

Pembicaraan tersebut dilakukan dengan dimediasi oleh Pakistan, menghasilkan kesepakatan gencatan senjata sementara selama dua minggu yang disepakati oleh AS-Iran pada 7 April 2026, serta didukung oleh sekutu AS, Israel.

(TribunNewsmaker.com/ Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.