TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Limbah yang kerap dianggap tak bernilai di dapur rumah tangga kini menjelma menjadi kekuatan ekonomi sekaligus solusi lingkungan di Kabupaten Batang.
Dalam waktu delapan bulan, gerakan pengumpulan minyak jelantah yang digagas Tim Penggerak PKK Batang tidak hanya menghasilkan omzet puluhan juta rupiah, tetapi juga menorehkan Rekor MURI dengan capaian 10.000 liter.
Di balik angka tersebut, tersimpan cerita perubahan perilaku masyarakat yang tidak instan.
Baca juga: Batang Pecahkan Dua Rekor Sekaligus di HUT ke 60, Dari Tari Babalu hingga Minyak Jelantah
Ketua TP PKK Batang, Faelasufa Faiz Kurniawan mengungkapkan bahwa gerakan ini dimulai dari langkah sederhana mengetuk pintu rumah warga hingga menyambangi pelaku usaha kecil.
“Awalnya kami harus meyakinkan masyarakat bahwa minyak jelantah itu bukan sekadar limbah, tapi punya dampak buruk jika dibuang sembarangan, sekaligus punya nilai ekonomi jika dikelola,” kata Faelasufa kepada Tribunjateng.com usai menerima penghargaan di Lapangan Darcin Kampus Batang, Jumat (10/4/2026).
Edukasi tersebut berbuah hasil. Masyarakat mulai mengumpulkan minyak bekas pakai, yang kemudian dibeli oleh PKK dengan harga Rp7.000 per liter.
Skema ini tidak hanya mendorong partisipasi warga, tetapi juga menciptakan sumber pendapatan baru.
Total perputaran uang dari program ini pun telah mencapai sekira Rp63 juta. Namun, dampaknya tak berhenti di tingkat lokal.
Minyak jelantah yang terkumpul disalurkan ke pihak pengolah untuk diproses menjadi bahan bakar alternatif, termasuk bioavtur bahan bakar pesawat ramah lingkungan yang kini tengah didorong pengembangannya secara nasional.
Gerakan ini pun selaras dengan arah kebijakan energi berkelanjutan yang digaungkan Presiden Prabowo Subianto, yang menekankan pentingnya pemanfaatan limbah sebagai sumber energi baru terbarukan.
Kolaborasi menjadi kunci keberhasilan berikutnya.
PKK Batang kini menggandeng berbagai pihak, mulai dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) hingga perusahaan daerah guna memperluas jangkauan pengumpulan jelantah.
Baca juga: Ribuan Pelajar Batang Kompak Tampilkan Tari Babalo, Semangat Lestarikan Budaya Lokal
Menurut Ketua Pokja Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah, Setyo Prabowo, potensi pengumpulan dari sektor institusi sangat besar.
“Satu titik SPPG bisa menghasilkan 50 sampai 60 liter minyak jelantah per hari. Jika ini terkelola, dampaknya akan luar biasa,” jelasnya.
Bagi Faelasufa, inisiatif ini merupakan contoh nyata ekonomi sirkular yang bekerja di tingkat akar rumput.
Limbah yang sebelumnya terbuang kini kembali masuk ke rantai produksi dengan nilai yang lebih tinggi.
“Kalau sebelumnya minyak jelantah dibuang dan mencemari lingkungan, sekarang justru menjadi bagian dari siklus ekonomi baru yang bermanfaat,” tegasnya.
Lebih dari sekadar capaian rekor, gerakan ini menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari hal kecil bahkan dari sisa minyak di dapur.
Di tangan masyarakat Batang, jelantah bukan lagi limbah, melainkan emas cair yang menggerakkan ekonomi, menjaga lingkungan, dan berkontribusi pada masa depan energi yang lebih bersih. (*)
Baca juga: Disdikbud Batang Pastikan TKA Berjalan, Tekankan Kejujuran dan Kenyamanan Siswa