Letusan Gunung Tambora 1815 menjadi salah satu letusan gunung berapi terdahsyat yang tercatat di zaman modern, menyebabkan tahun tanpa musim panas di Eropa dan Amerika.
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Letusan Gunung Tambora pada 10 April 1815 tak hanya dirasakan masyarakat di sekitar Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Letusan dahsyat itu juga dirasakan oleh manusia di seluruh dunia.
Dari kekalahan Napoleon Bonaparte pada pertempuran Waterloo, datangnya “tahun tanpa musim panas”, hingga kelahiran sepeda, disebut menjadi dampak langsung dari meletusnya Gunung Tambora. Untuk skala lokal, letusan Gunung Tambora menyebabkan lenyapnya tiga kerajaan yang ada di Sumbawa: Tambora, Pekat, dan Sanggar.
Erupsi Gunung Tambora 10 April 1815 disebut memiliki skala Volcanic Explosivity Index (VEI) 7 (dari 1-8). Sebuah laporan ilmiah menganalisis bagaimana dampak letusan Gunung Tambora menyebabkan dunia lumpuh.
Letusan Gunung Tambora juga disebut berdampak terhadap jalannya Perang Napoleon yang berakhir dengan kekalahan Napoleon di Waterloo ketika menghadapi tentara Sekutu.
Disebutkan bahwa muntahan abu vulkanik yang mengandung listrik Gunung Tambora melesat ke atmosfer bumi hingga menyebabkan memburuknya cuaca global. Letusan Tambora juga disebutkan mengubah sejarah Eropa pasca-peperangan di Waterloo.
Ketika itu, cuaca Eropa memburuk sehingga medan peran yang dilalui tentara Napoleon menjadi berlumpur. Kondisi medan yang sedemikian rupa itulah yang kemudian dimanfaatkan tentara sekutu untuk meringkus pasukan Napoleon.
Para sejarawan percaya, Gunung Tambora di Pulau Sumbawa yang meletus dua bulan sebelum peperangan itulah yang telah mengantarkan dunia pada “Tahun Tanpa Musim Panas” pada 1816. Akibat letusan itulah turun hujan lebat di Eropa yang menguntungkan pasukan sekutu untuk mengalahkan Napoleon Bonaparte.
Temuan itu kemudian dipublikasikan dalam Jurnal Geologi, menunjukkan bahwa letusan telah menghempaskan abu jauh lebih tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya ke atmosfer - hingga 100 kilometer di atas tanah. “Penelitian saya, bagaimanapun, menunjukkan bahwa abu vulkanik dapat didorong ke atmosfer oleh kekuatan listrik,” ungkap Dr Grenge, sang peneliti.
Serangkaian percobaan menunjukkan bahwa kekuatan elektrostatik dapat mengangkat abu jauh lebih tinggi daripada dengan daya apung sendiri. Dr Genge menciptakan sebuah model untuk menghitung seberapa jauh abu vulkanik yang bermuatan bisa naik, dan menemukan bahwa partikel yang lebih kecil dari 0,2 juta meter dalam diameter bisa mencapai ionosfer selama erupsi besar.
Gumpalan dan abu vulkanik keduanya dapat memiliki muatan listrik negatif dan dengan demikian mendorongnya tinggi di atmosfer. "Efeknya sangat mirip seperti dua magnet didorong menjauh satu sama lain jika kutub mereka cocok," tambahnya.
Hasil eksperimen ini konsisten dengan catatan sejarah dari letusan lainnya. Lantaran minimnya catatan cuaca di tahun 1815, jadi untuk menguji teorinya, Dr Genge memeriksa catatan cuaca setelah letusan 1883 gunung berapi Indonesia lainnya, yakni Gunung Krakatau.
Data menunjukkan suhu rata-rata yang lebih rendah dan mengurangi curah hujan segera setelah letusan dimulai, dan curah hujan global lebih rendah selama letusan daripada periode sebelum atau sesudahnya.
Dia juga menemukan laporan gangguan ionosfer setelah letusan Gunung Pinatubo pada tahun 1991, Filipina, yang mungkin disebabkan oleh abu bermuatan di ionosfer dari gunung api. Selain itu, tipe awan khusus, yakni awan noctilucent muncul lebih sering daripada biasanya setelah letusan Krakatau.

Dr Genge mengemukakan bahwa awan ini memberikan bukti pada terangkatnya debu elektrostatik dari letusan gunung berapi besar.
Dr Genge mengatakan: "Victor Hugo dalam novel Les Miserables berkata tentang Pertempuran Waterloo: langit yang sangat gelap yang cukup untuk membawa runtuhnya Dunia. Sekarang kita selangkah lebih dekat untuk memahami bagian Tambora dalam Pertempuran itu."
Pertempuran Waterloo berlangsung di Belgia pada 18 Juni 1815. Perang ini menandai kekalahan Napoleon Bonaparte, yang telah menaklukkan sebagian besar Eropa pada awal abad ke-19. Ini adalah pertempuran antara Wellington, dengan tentara Inggris dan Sekutunya, dan Napoleon dengan Garda Kerajaan Prancisnya.
Sementara itu, Gunung Tambora meletus pada 10 April 1815. Letusan itu melontarkan sekitar 140 miliar ton magma. Tak hanya membunuh lebih dari 71.000 orang di Pulau Sumbawa, abu yang dilepaskannya juga menciptakan anomali iklim global.
Live Science menyebut letusan Gunung Tambora di Pulau Sumbawa pada 1815 sebagai letusan gunung berapi terbesar dalam sejarah. 10 ribu orang tewas secara langsung akibat letusan dan sisanya menyusul karena bencana kelaparan dan penyakit yang mendera.
Letusan Gunung Tambora dirasakan hingga Eropa dan Amerika. Masyarakat di dua wilayah itu didera bencana kelaparan akibat abu vulkanis Tambora yang menyebabkan tahun tanpa musim panas.
Jika kehancuran di sekitar Tambora disebabkan terpaan awan panas, kematian massal berskala global justru disebabkan pendinginan Bumi pasca-letusan.
Pada 1816 tidak terjadi musim panas sehingga dikenal sebagai “tahun tanpa musim panas”.
Pada 4 Juni 1816, cuaca penuh es dilaporkan muncul di Connecticut, AS, dan dan pada hari berikutnya, hampir seluruh New England digenggam oleh dingin. Lalu pada 6 Juni 1816, salju turun di Albany, New York, dan Dennysville, Maine.
Kondisi serupa muncul untuk setidaknya tiga bulan dan menyebabkan gagal panen di Amerika Utara. Kanada mengalami musim panas yang sangat dingin. Salju setebal 30 cm terhimpun di dekat Kota Quebec dari tanggal 6 sampai 10 Juni 1816.
Tahun 1816 adalah tahun terdingin kedua di Belahan Bumi Utara sejak tahun 1400 Masehi, setelah letusan gunung Huaynaputina di Peru tahun 1600.
Total penurunan suhu bumi saat itu mencapai 0,4 sampai 0,7 derajat celcius. Dampaknya adalah kegagalan panen global. Sungai es mulai terlihat pada bulan Juli di Pennsylvania. Ratusan ribu orang mati kelaparan di seluruh dunia.
Yang bisa dibilang sebagai "berkah", letusan Tambora ternyata menginspirasi penemuan sepeda di Eropa. Abu yang disemburkan Tambora mempengaruhi suhu rata-rata dunia turun hingga 3 derajat celcius. Letusan ini juga membuat sejumlah negara di belahan bumi utara tak memiliki musim panas selama satu tahun.
Tanaman gagal dipanen dan banyak binatang ternak mati karena kelaparan. Salah satunya adalah kuda yang ketika itu banyak dimanfaatkan manusia untuk sarana transportasi berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Kondisi inilah yang kemudian menginspirasi pembuatan sepeda. Pada 1817, orang Jerman bernama Karl von Drais membuat kendaraan dengan dua roda.
Ketika itu namanya belum sepeda. Ada yang menyebutnya draisienne, dandy horse, hingga hobby horse. Ketika itu, sepeda belum menggunakan mesin berkecepatan aerodinamis seperti sepeda yang saat ini ada.
Sepeda itu juga beratnya masih 23 kg, rodanya juga terbuat dari kayu, tempat duduknya dari kulit yang dipaku ke kerangka, sementara bagian stang terbuat dari bahan yang sama dengan roda yakni dari bahan kayu. Pengguna menggerakkan sepeda itu dengan mengarahkan kakinya ke depan.
Drais membawa sepeda temuannya ke Perancis dan Inggris sehingga menjadi begitu populer. Salah seorang warga Inggris, Denis Johnson, pun membuat dengan versinya sendiri dan menjualnya kepada para bangsawan London.
Sepeda yang ketika itu menuai kesuksesan selama beberapa tahun hingga akhirnya dilarang karena dinilai membahayakan para pejalan kaki. Setelah sempat menghilang, sepeda kembali muncul di tahun 1860-an. Kali ini, roda sudah terbuat dari baja sementara kerangka masih berbahan dasar kayu.
Saat itu orang-orang mengenal sepeda sebagai si kaki cepat. Hingga kemudian terciptalah pedal yang mengubah cara kerja sepeda, dari yang sebelumnya digerakkan menggunakan kekuatan yang digerakkan ke depan.
Seorang asal Jerman bernama Karl Kech mengklaim bahwa dialah orang pertama yang menyertakan pedal ke sepeda pada tahun 1862. Tapi paten pertama untuk pedal ini diberikan bukan kepada Kech melainkan Pierre Lallement, pembuat kereta Perancis pada tahun 1866.

Lahirkan cerita Frankenstein
Letusan Tambora tidak hanya menyebabkan bencana. Ia juga “melahirkan” karya-karya agung nan jenius yang selalu dikenang oleh zaman. Satu di antaranya adalah novel horor ilmiah Frankenstein.
Mary Godwin masih 18 tahun saat berlibur bersama Percy Bysshe Shelley ke Danau Jenewa, Swiss, pada musim panas 1816. Mereka tinggal di pondokan milik Lord Byron, dan mengangankan bisa menemui cerahnya musim panas.
Namun, Mary hanya menjumpai kemuraman, “Segalanya basah, musim panas tak bersahabat dan hujan yang tak berhenti-henti membuat kami hanya meringkuk di dalam rumah.”
Di pinggir Danau Jenewa, pada tahun suram itulah, Mary melahirkan Frankenstein, novel horor ilmiah tentang manusia yang diciptakan di laboratorium. Mary menyelesaikan tulisannya tersebut pada Mei 1817 dan terbit pada 1 Januari 1818 dan menggunakan nama samaran Percy Shelley.
Tak hanya tamu, sang tuan rumah juga merasakan suasana tersebut. Dia lantas menciptakan puisi liris yang berkisah tentang semesta yang gelap dan kematian. Judulnya Darkness.
Dalam puisinya itu, Byron menggambarkan suasana saat itu sebagai, “Menyerupai mimpi, tapi bukan mimpi.”

Lenyapnya tiga kerajaan
Letusan dahsyat Gunung Tambora pada April 1815 juga disebut menjadi penyebab lenyapnya tiga kerajaan lokal. Yaitu Kerajaan Tambora, Pekat, dan Sanggar.
Bukti-bukti keberadaan peradaban itu terungkap melalui penelitian yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Bali sepanjang 2008-2015 dengan menggunakan metode survei dan ekskavasi. Selama kurun waktu tersebut, peneliti menemukan bukti yang mengungkap adanya kehidupan atau peradaban di sekitar Gunung Tambora.
Salah satunya adalah temuan dua kerangka manusia yang sudah terarangkan di situs Tambora. Saat ditemukan, kedua individu tersebut masih berada di dalam rumah mereka.
“Asumsi sementara, mereka tak sempat menyelamatkan diri (ketika Gunung Tambora meletus),” ungkap I Putu Yuda Haribuana, Peneliti Balai Arkeologi Bali dalam Webinar bertajuk Jejak-Jejak Peradaban Tambora: Secercah Harapan di Balik Bencana, dikutip Kompas.com dari kanal YouTube Balar Bali, Jumat, 30 Juni 2021, lalu.
Sementara bukti lain yang ditemukan adalah sisa-sisa komponen bangunan dari kayu yang juga telah terarangkan. Temuan itu menunjukkan bahwa di lokasi tersebut dulunya terdapat permukiman.
Putu mengatakan, sumber daya alam dan letak geografis Tambora juga sangat mendukung adanya sebuah kerajaan, seperti lingkungan hutan dan laut yang berdampingan dengan Tambora. Tak hanya itu saja yang ditemukan para tim peneliti.
Dari survei di lingkungan Tambora, ahli menemukan bekas benteng maupun pelabuhan yang mendukung teori adanya keberadaan kerajaan itu.
Selain menemukan sisa-sisa permukiman, peneliti juga berhasil menemukan benda-benda yang digunakan penduduk Tambora kala itu. Seperti misalnya botol keramik, mangkuk, cepuk, uang logam Belanda, mata tombak, pisau, bandul, kalung, cincin, dan perhiasan logam lainnya.
Yang menarik, menurut Putu, temuan-temuan itu menjadi bukti bahwa penduduk Tambora sudah melakukan kontak perdagangan dengan dunia luar.
Wilayah Tambora kemudian kembali dihuni lagi sekitar tahun 1907. Orang-orang mulai berdatangan dan menanam kopi. Lahan tanaman kopi pun saat itu mencapai luas 80.000 Hektar.
Meski sudah berhasil mengungkap kehidupan peradaban di Tambora, namun Putu menyebut jika masih banyak hal yang masih bisa ditelusuri. “Luas kawasan gunung Tambora kurang lebih 1500 km persegi, sehingga masih banyak yang bisa kita eksplorasi,” begitu katanya.
Begitulah dahsyatnya letusan Gunung Tambora April 1815. Tak hanya menewaskan puluhan ribu orang dan menjadi penyebabnya lenyapnya tiga peradaban di Sumbawa, letusan Tambora juga punya dampak besar hingga Eropa dan Amerika.