Kami menghormati proses hukum yang berjalan dan mendorong agar dilakukan secara profesional, transparan, dan memberikan keadilan bagi korban

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak terus memantau proses hukum yang berjalan di Pom Kodaeral (Polisi Militer Komando Daerah Angkatan Laut) V terkait insiden dugaan peluru nyasar yang melukai dua anak di Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

"Berkoordinasi dengan Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Provinsi Jawa Timur dan UPT PPA Kabupaten Gresik terkait monitoring perkembangan proses hukum yang berjalan di Pom Kodaeral V," kata Plt Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak KemenPPPA Indra Gunawan saat dihubungi di Jakarta, Jumat.

KemenPPPA mendorong agar proses tersebut berlangsung transparan, akuntabel, dan berkeadilan.

"Kami menghormati proses hukum yang berjalan dan mendorong agar dilakukan secara profesional, transparan, dan memberikan keadilan bagi korban dengan mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak," katanya.

Sejauh ini, UPT PPA Gresik intens melakukan koordinasi dengan keluarga korban, memantau keadaan dua korban, dan mengagendakan konseling psikososial lanjutan untuk korban.

"Kondisi fisik kedua korban masih dalam masa pemulihan pasca operasi pengambilan peluru dan pemasangan pen, namun kondisi mental belum dapat dinilai secara komprehensif sehingga memerlukan asesmen lanjutan," kata Indra Gunawan.

Sebelumnya, insiden dugaan peluru nyasar terjadi ketika murid-murid sedang mengikuti kegiatan sosialisasi sekolah di salah satu SMP Negeri di Gresik, Jawa Timur, Rabu (17/12/2025).

Ada dua anak yang menjadi korban peluru nyasar, yakni inisial DF (14) dan RO (15).

Sementara sekitar 2,3 kilometer dari sekolah korban, terdapat lapangan tembak TNI AL yang ketika itu sedang ada latihan menembak rutin.

Pasca insiden, keduanya langsung dilarikan ke Rumah Sakit Siti Khodijah Sepanjang, Jawa Timur, untuk menjalani perawatan intensif.

Dari hasil rontgen, ditemukan peluru bersarang di tangan kiri DF dan di punggung kanan RO.

Korban DF dan RO selanjutnya menjalani operasi besar untuk pengambilan peluru.

DF mengalami patah tulang di telapak tangan kirinya, dan dipasang pen.