Penimbunan 1000 Tabung LPG Melon di Lumajang Dibongkar Bupati, Ini Tanggapan Pertamina
Dyan Rekohadi April 10, 2026 07:32 PM

 

SURYA.CO.ID, LUMAJANG - Pertamina Patra Niaga angkat bicara soal penimbunan 1000 tabung elpiji melon di Kabupaten Lumajang, di tengah kelangkaan barang.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Jatimbalinus, Ahad Rahedi mengakui, ada indikasi penimbunan elpiji yang dilakukan pangkalan di Dusun Kebonsari Kabupaten Lumajang sebanyak 1000 tabung kosong.

"Pangkalan tersebut yang menjadi perpanjangan tangan agen untuk menyalurkan ke pangkalan lain dan pengecer sekitar. Kemudian menyebabkan harga berbedar menjadi di atas HET dan menyebabkan kekurangan pasokan di masyarakat," ujarnya melalui keterangan tertulis, Jumat (10/4/2026).

Baca juga: Kelangkaan LPG Lumajang, Tambahan 18 Ribu Tabung Belum Atasi Antrean

Sanksi dari Pertamina

Menurutnya, Pertamina Patra Niaga melalui agen langsung memberikan sanksi berupa Pemutusan Hubungan Usaha (PHU) kepada pangkalan tersebut

"Dan untuk agen terkait diberikan sanksi pemotongan alokasi," terang Ahad. 

Ahad menilai, hal ini sebagai peringatan terhadap semua agen dan pengkalan, supaya mereka menyalurkan elpiji subsidi tepat sasaran.

"Senantiasa mengecek secara disiplin terkait penjualan akhir ke konsumen. Ketika ada salah satu ketentuan yang tidak dipatuhi oleh pihak agen/pangkalan resmi Pertamina, maka akan diberikan sanksi berupa stop alokasi sampai dengan PHU," bebernya.

Ahad mengaku sampai saat ini masih memantau penyaluran elpiji melon di Lumajang, sabab masyarakat daerah ini sudah tiga pekan kesulitan LPG 3 Kilogram. 

"Sebagai mitigasi, Pertamina telah melaksanakan penyaluran tambahan pekan lalu sebanyak 18 ribu tabung yang mana jumlah ini mencapai 45 persen dari alokasi normal," paparnya  

Baca juga: LPG 3 Kg Tuban Langka Usai Sidak Wagub Jatim Emil Dardak, Warga Antre Sejak Pagi

 

Bupati Lumajang Tunjukkan Bukti 

Sebelumnya, Bupati Lumajang, Indah Amperawati mengungkapkan ada sebanyak 1000 tabung sengaja ditimbun oleh pangkalan. Kata dia, hal itu terungkap setelah dilakukan penelusuran dilapangan.

Menurutnya, sejumlah pangkalan diduga kuat telah menimbun lebih dari 1.000 tabung kosong, serta ada 500 tabung berisi sengaja mereka tahan.

“Ini titik masalahnya. Mereka menimbun, baru dijual dua hari kemudian dengan harga Rp 30-35 ribu,” ujarnya saat rapat koordinasi kelangkaan, Kamis (9/4/2026).

Dia menjelaskan hal ini sengaja mereka lakukan untuk memanfaatkan kepanikan masyarakat saat menjelang lebaran.

Sebab tabung gas melon di momen tersebut merupakan kebutuhan penting.

Selain itu, dia menilai hal tersebut dapat dilihat dari harga elpiji subsidi melambung jauh di atas harga resmi.

Ia mengungkapan ada warga yang rela membayar mahal asalkan tabung tersedia.

"Setidaknya lima pangkalan terlibat dalam praktik penimbunan dan menaikkan harga elpiji 3 kilogram. Ini perhatian serius bagi semua yang memiliki kewenangan terhadap distribusi elpiji 3 kilogram. Kami tidak bisa membiarkan hak masyarakat dirugikan,” jelas kata perempuan yang akrab disapa Bunda Indah ini.

Indah mengaku telah menyerahkan bukti pelanggaran pangkalan nakal tersebut kepada polisi berupa foto dan video, supaya mereka ditindak secara hukum.

"Bukti video dan foto juga kami serahkan kepada SBM Pertamina agar segera ditutup hari ini," bebernya.


Foto: TRIBUNJATINTIMUR.COM/ Dokumen Pertamina 



© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.