TRIBUNMADURA.COM, KEDIRI - Pondok Pesantren Lirboyo Kediri menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam tertua di Jawa Timur yang terus eksis dan berkembang hingga saat ini, Jumat (10/4/2026).
Berdiri sejak awal abad ke-20, pesantren ini tidak hanya berperan dalam pendidikan keagamaan, tetapi juga dalam pembinaan sosial kemasyarakatan.
Dilansir dari laman lirboyo.net Ponpes Lirboyo didirikan pada tahun 1910 M oleh KH Abdul Karim, seorang ulama asal Magelang, Jawa Tengah.
Kehadirannya di Kediri menjadi tonggak awal berdirinya lembaga pendidikan berbasis pesantren yang mengedepankan pengajaran kitab-kitab klasik (salaf).
Pada masa awal berdirinya, sistem pendidikan masih bersifat sederhana dengan metode sorogan dan bandongan. Namun demikian, fondasi keilmuan yang kuat telah diletakkan sejak awal, sehingga mampu menarik minat masyarakat untuk menimba ilmu agama di pesantren ini.
Baca juga: Alasan Kiai Kediri Berharap Muktamar NU ke-35 Kembali Digelar di Pondok Pesantren
Sepeninggal KH Abdul Karim, kepemimpinan Pondok Lirboyo dilanjutkan oleh generasi kedua, yakni kedua menantunya, KH Marzuqi Dahlan dan KH Mahrus Aly.
Di bawah kepemimpinan keduanya, Pondok Lirboyo mengalami perkembangan signifikan.
Sistem pendidikan mulai lebih terstruktur, jumlah santri meningkat, serta jaringan dakwah semakin luas.
Keduanya juga berperan dalam memperkuat identitas pesantren sebagai lembaga pendidikan salaf yang tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Memasuki generasi ketiga, Ponpes Lirboyo terus menunjukkan akselerasi pertumbuhan. Hal ini terlihat dari peningkatan jumlah fasilitas, pengembangan unit pendidikan, serta semakin luasnya peran pesantren dalam kehidupan masyarakat.
Baca juga: Pondok Pesantren Annuqayah: Dari Langgar Sederhana hingga Jadi Lembaga Pendidikan Terpadu di Madura
Pondok Lirboyo menempatkan pendidikan keagamaan sebagai fokus utama, dengan tetap mengintegrasikan nilai-nilai sosial kemasyarakatan.
Pesantren ini konsisten mempertahankan tradisi salafiyah, yakni sistem pendidikan berbasis kitab kuning dan metode klasik pesantren.
Pendekatan tersebut tidak hanya bertujuan mencetak santri yang alim dalam ilmu agama, tetapi juga memiliki kepedulian sosial.
Para santri diharapkan mampu menjadi penerus perjuangan ulama dalam menyebarkan syiar Islam di tengah dinamika masyarakat yang terus berubah.
Selain itu, pendidikan di Pondok Lirboyo juga diarahkan untuk membentuk karakter, akhlak, serta kemandirian santri dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Jejak Sejarah Pondok Pesantren Nurul Jadid Probolinggo: Dari Desa Mati hingga Pusat Peradaban Islam
Untuk menunjang pengembangan potensi santri, Pondok Lirboyo menyediakan berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang beragam dan terstruktur.
Kegiatan ini menjadi wadah pembelajaran non-formal yang memperkaya keterampilan santri di luar kelas.
Di bidang organisasi, santri dilatih melalui berbagai forum seperti Jam’iyah Far’iyah, Jam’iyah Wilayah, hingga Jam’iyah Pusat. Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan jiwa kepemimpinan, tanggung jawab, serta kemampuan manajerial.
Sementara itu, berbagai kursus juga diselenggarakan, antara lain seni baca Alquran, Bahasa Arab dan Inggris, MC, ilmu falak, jurnalistik, komputer, kepribadian, hingga pidato.
Ragam kegiatan ini menunjukkan bahwa Pondok Lirboyo tidak hanya fokus pada aspek keilmuan agama, tetapi juga keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Baca juga: Sejarah Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Ikon Dakwah Situbondo
Dalam memperluas dakwah, Pondok Lirboyo memiliki Lembaga Ittihadul Muballighin sebagai badan otonom Himasal yang bergerak di bidang keagamaan.
Lembaga ini menjadi ujung tombak dalam menjembatani pesantren dengan masyarakat luas.
Kegiatan dakwah rutin dilaksanakan setiap malam Jumat serta pada hari-hari besar Islam. Selain itu, program Safari Ramadan yang digelar setiap tahun menjadi salah satu agenda unggulan dalam menyebarkan nilai-nilai keislaman ke berbagai daerah.
Lembaga ini juga berperan dalam memfasilitasi permintaan tenaga pengajar dari luar pesantren, serta menyediakan kajian ilmiah keagamaan bagi sekolah umum dan organisasi masyarakat.
Dengan demikian, peran Pondok Lirboyo tidak hanya terbatas di lingkungan internal, tetapi juga aktif dalam pemberdayaan umat.
Sebagai lembaga pendidikan, Pondok Lirboyo memiliki sejumlah unit yang menjadi pilar utama dalam proses pembelajaran. Di antaranya adalah Madrasah Hidayatul Mubtadiin yang menjadi pusat pendidikan formal di lingkungan pesantren.
Selain itu, terdapat program Tahfidzil Qur’an dan Tartilil Qur’an yang fokus pada penguatan hafalan serta kemampuan membaca Alquran secara baik dan benar.
Pengajian kitab-kitab salaf juga tetap menjadi ciri khas utama yang tidak terpisahkan dari sistem pendidikan di pesantren ini.
Keberadaan unit-unit pendidikan tersebut menunjukkan komitmen Pondok Lirboyo dalam menjaga kualitas pendidikan berbasis tradisi keilmuan Islam klasik.
Baca juga: Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo Tetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah Jatuh pada 20 Maret 2026