TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Tangis Muswan Tiara (37) pecah setiap kali mengingat anak sulungnya. Di tengah kebanggaan karena sang anak berhasil menembus Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) 2026 di Universitas Andalas, ia justru harus merelakan buah hatinya menjalani perawatan di rumah sakit jiwa.
Anak yang selama ini ia kenal pendiam, mandiri, dan tak pernah menyusahkan orang tua itu, kini berjuang melawan depresi yang diduga dipicu perundungan di lingkungan sekolahnya, SMA Pertiwi 2 Padang.
Tiara masih mengingat jelas bagaimana kehidupan mereka berubah. Sejak suaminya meninggal dunia saat anaknya masih duduk di bangku SMP, ia membesarkan tiga anak seorang diri. Namun, kehilangan sosok ayah tak pernah membuat anak sulungnya berubah.
“Anak saya anak yang baik, sopan. Apapun yang terjadi selalu dia simpan sendiri,” ujar Tiara dengan suara bergetar.
Baca juga: Mental Korban Perundungan di Padang Terguncang, Tiara: Anak Saya Bahkan Diancam dengan Kapak
Bahkan, di usia sekolah, anaknya memilih bekerja sampingan demi membantu kebutuhan sendiri. Ia mengangkat buah-buahan di pasar, sekadar untuk menambah uang saku hingga membayar biaya sekolah.
Di balik kerja keras itu, tersimpan prestasi yang membanggakan. Anak tersebut dinyatakan lulus SNPMB 2026 dan diterima di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas.
Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama.
Perubahan drastis mulai terlihat setelah ia diduga menjadi korban perundungan di sekolah. Kata-kata ejekan yang terdengar sepele justru meninggalkan luka mendalam.
“Dia sering diolok-olok dengan sebutan nasi goreng, mata juling, gigi ompong, sampai anak yatim,” tutur Tiara.
Sebutan “nasi goreng” bukan tanpa alasan. Itu merujuk pada bekal sederhana yang setiap hari ia siapkan untuk anaknya.
“Kami bukan orang mampu. Hanya itu yang bisa saya berikan,” katanya lirih.
Ejekan lain pun menyasar kondisi fisik sang anak. Bahkan, keinginan untuk mengubah bentuk gigi sempat diungkapkan, diduga karena tekanan yang ia rasakan.
Bagi Tiara, sekolah yang seharusnya menjadi tempat belajar dan berlindung, justru berubah menjadi ruang yang menakutkan bagi anaknya.
Tak ingin kondisi semakin memburuk, Tiara mengambil keputusan berat. Ia menitipkan anaknya ke rumah sakit jiwa di Kota Padang untuk mendapatkan perawatan intensif.
Sejak saat itu, ia belum bisa bertemu langsung dengan anaknya. Komunikasi hanya terjalin melalui pihak rumah sakit.
“Katanya memang seperti itu pola pengobatannya. Saya hanya bisa berkomunikasi lewat grup chat,” ujarnya.
Baca juga: Korban Perundungan di Padang Dinyatakan Lulus SNPMB di Unand, Mampu Biayai Sekolah Sendiri
Dari informasi yang ia terima, kondisi anaknya masih diliputi ketakutan, terutama saat harus berinteraksi dengan orang baru. Meski begitu, ia masih mau makan ketika diberi.
Di tengah situasi yang menguras emosi, persoalan lain ikut menghimpit. Tiara yang hanya seorang ibu rumah tangga kini dihadapkan pada beban biaya pengobatan.
Ia mengaku belum mengetahui secara pasti skema pembiayaan perawatan anaknya di rumah sakit. Untuk itu, ia mencoba mengurus bantuan melalui Dinas Sosial, termasuk pengajuan Kartu Indonesia Sehat (KIS).
“Untuk saat ini semua biaya masih saya tanggung sendiri. Saya juga belum tahu bagaimana ke depannya,” ucapnya.
Di balik segala keterbatasan, Tiara hanya berharap satu hal sederhana agar anaknya bisa pulih dan kembali menjalani hidup seperti semula melanjutkan mimpi yang sempat ia raih, menjadi mahasiswa di kampus impiannya.
Satreskrim Polresta Padang tengah menyelidiki dugaan kasus perundungan yang terjadi di SMA Pertiwi 2 Padang, Sumatera Barat. Penyelidikan dilakukan setelah adanya laporan dari keluarga korban serta beredarnya video yang diduga memperlihatkan kejadian tersebut.
Kasat Reskrim Polresta Padang, Kompol Muhammad Yasin, mengatakan pihaknya saat ini masih dalam tahap awal penyelidikan dengan mengumpulkan keterangan dari sejumlah pihak.
“Laporan sudah kami terima. Saat ini kami masih melakukan penyelidikan dengan meminta keterangan dari beberapa pihak,” ujarnya, Kamis (9/6/2026).
Menurutnya, kepolisian akan memanggil pihak-pihak terkait, termasuk dari lingkungan sekolah, guna mendalami dugaan peristiwa tersebut.
Baca juga: Keluarga Korban Perundungan SMA Pertiwi 2 Padang Lapor Polisi, Lampirkan Bukti Percakapan
“Kami akan lakukan pemanggilan terhadap pihak sekolah maupun pihak lain yang berkaitan untuk memastikan kronologi kejadian,” katanya.
Yasin menambahkan, proses penyelidikan masih berjalan sehingga pihaknya belum dapat merinci jumlah saksi yang telah diperiksa. Ia memastikan perkembangan kasus akan disampaikan secara berkala.
Selain itu, polisi juga memperhatikan kondisi korban yang saat ini dikabarkan tengah menjalani pemeriksaan medis dan pendampingan.
“Dari informasi yang kami terima, korban sedang dalam penanganan dan pemeriksaan, termasuk secara kesehatan,” jelasnya.
Baca juga: Kadisdik Sumbar Tegaskan Zero Tolerance Perundungan, Kasus SMA Pertiwi 2 Padang Masih Ditelusuri
Ia menegaskan, penanganan perkara ini akan mengacu pada sistem peradilan anak, mengingat pihak-pihak yang terlibat masih berusia di bawah umur.
“Baik korban maupun terduga pelaku yang masih anak-anak akan ditangani sesuai dengan ketentuan sistem peradilan anak,” tegasnya.
Video dugaan perundungan yang melibatkan siswa SMA Pertiwi 2 Padang, Sumatera Barat (Sumbar) viral di media sosial dan memicu perhatian publik. Dalam video tersebut, terlihat pihak sekolah, orang tua korban, serta empat siswa yang diduga terlibat.
Keluarga korban tampak emosional saat menyampaikan kondisi anaknya yang disebut mengalami gangguan psikis akibat dugaan perundungan.
Informasi yang beredar menyebutkan korban saat ini tengah menjalani observasi di salah satu rumah sakit jiwa di Kota Padang.
Menanggapi hal itu, Kepala SMA Pertiwi 2 Padang, Syafril, menyatakan pihak sekolah belum dapat membenarkan tudingan perundungan tersebut dan masih melakukan penelusuran.
“Kami tidak serta-merta menerima tuduhan itu. Saat ini kami masih melakukan penelusuran untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).
Baca juga: Breaking News: Sebuah Mobil Terjun ke Jurang Kawasan Gunung Padang, Nyaris Masuk Laut
Ia menjelaskan, peristiwa dalam video bermula saat pihak keluarga datang ke sekolah dalam kondisi emosi, sehingga terjadi perdebatan yang kemudian direkam dan beredar di media sosial.
“Kami sempat menyarankan agar persoalan ini diselesaikan secara kekeluargaan, namun belum ada kesepakatan,” katanya.
Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah SMA Pertiwi 2 Padang, Desi Nofita Sari, mengatakan pihak sekolah berupaya bersikap objektif dan mengedepankan empati terhadap semua pihak.
“Kami memiliki empati besar, baik kepada siswa yang disebut sebagai korban maupun yang dituduh sebagai pelaku. Saat ini kami masih dalam tahap penelusuran fakta secara menyeluruh,” ujarnya.
Menurutnya, sekolah telah mengambil sejumlah langkah, di antaranya menghubungi keluarga korban, mendatangi siswa terkait, serta berdiskusi dengan orang tua dari siswa yang disebut terlibat.
“Kami tidak diam. Semua pihak kami hubungi dan kami lakukan evaluasi untuk mengetahui penyebab kejadian ini,” katanya.
Terkait dugaan perundungan, Desi menyebut pihak sekolah belum dapat memastikan kebenarannya karena proses penelusuran masih berlangsung.
“Informasi yang ada saat ini belum lengkap. Kami tidak bisa mengambil kesimpulan dari satu sisi saja. Semua pihak harus menyampaikan fakta secara adil,” ujarnya.
Ia menambahkan, berdasarkan pengamatan pihak sekolah, korban dikenal sebagai siswa yang cenderung pendiam dan kurang berinteraksi dengan teman-temannya.
“Korban ini anaknya pendiam. Sementara teman-temannya lebih periang. Bisa jadi ada perbedaan cara menerima candaan,” katanya.
Namun demikian, ia menegaskan hal tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya perundungan.
Baca juga: Harga Plastik di Padang Meroket Nyaris 100 Persen, Plastik Gula dari Rp28 Ribu Jadi Rp50 Ribu Sekilo
Pihak sekolah juga telah meminta keterangan dari empat siswa yang disebut sebagai pelaku.
Menurut Desi, para siswa tersebut mengaku tidak memahami tuduhan yang dialamatkan kepada mereka.
“Mereka mengaku hanya bercanda seperti biasa dan tidak merasa melakukan perundungan,” ujarnya.
Saat ini, kondisi korban masih dalam tahap observasi di rumah sakit dan belum dapat ditemui.
Pihak sekolah menyatakan akan terus melakukan penelusuran mendalam guna memastikan fakta yang sebenarnya, serta menegaskan komitmen untuk menangani kasus ini secara adil.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat, Habibul Fuadi, menegaskan pihaknya tidak akan mentolerir segala bentuk perundungan di lingkungan sekolah.
Pernyataan itu disampaikan menyusul viralnya video dugaan perundungan yang melibatkan siswa SMA Pertiwi 2 Padang dan menjadi perhatian publik.
“Tidak ada toleransi untuk perundungan di sekolah. Kami akan memantau kasus ini melalui mekanisme yang ada,” ujar Habibul Fuadi saat dihubungi, Rabu (8/4/2026).
Ia menjelaskan, penanganan kasus dilakukan secara berjenjang, dimulai dari pihak sekolah, kemudian dilanjutkan oleh pengawas satuan pendidikan guna memastikan penyelesaian berjalan objektif dan kejadian serupa tidak terulang.
“Ada mekanisme berjenjang. Sekolah terlebih dahulu melakukan penanganan, lalu diawasi oleh pengawas satuan pendidikan. Ini penting agar pembinaan berjalan maksimal,” katanya.
Menurutnya, peran guru dalam mendidik siswa sangat kompleks, sehingga diperlukan pembinaan berkelanjutan.
“Namanya mendidik tidak bisa sekali jadi. Orang dewasa saja masih banyak yang melakukan kesalahan, apalagi anak-anak. Di sinilah peran guru sangat berat,” ujarnya.
Habibul menambahkan, pihaknya akan terus meningkatkan pengawasan dan pembinaan di seluruh sekolah di Sumbar agar kasus serupa tidak kembali terjadi.
Baca juga: Insiden Mobil Masuk Jurang di Gunung Padang Gegerkan Warga, Amin Sebut Baru Pertama
“Kami minta seluruh kepala sekolah meningkatkan pembinaan kepada siswa. Perundungan tidak boleh terjadi di mana pun karena dampaknya merugikan semua pihak,” tegasnya.
Sementara itu, terkait video yang beredar, pihak SMA Pertiwi 2 Padang menyatakan masih melakukan penelusuran untuk memastikan kebenaran dugaan perundungan tersebut.
Kepala SMA Pertiwi 2 Padang, Syafril, mengatakan pihaknya belum dapat menyimpulkan adanya perundungan dan masih mengumpulkan fakta dari berbagai pihak.
“Kami masih melakukan penelusuran untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi,” katanya.
Baca juga: Harga Plastik di Padang Melonjak, Pedagang Sebut Dampak Gangguan Pasokan Global
Hal senada disampaikan Wakil Kepala Sekolah, Desi Nofita Sari. Ia menegaskan sekolah berupaya bersikap objektif dan mengedepankan empati terhadap semua pihak, baik yang disebut sebagai korban maupun yang dituduh sebagai pelaku.
Saat ini, korban dikabarkan tengah menjalani observasi di salah satu rumah sakit jiwa di Kota Padang dan belum dapat ditemui.
Pihak sekolah menyatakan akan terus melakukan pendalaman guna memastikan fakta yang sebenarnya, serta menangani persoalan tersebut secara adil.(*)