Kisah Alvi, Freelancer Muda yang Ubah Perjuangan Antre Emas Menjadi Peluang Bisnis Menggiurkan
Siti Fatimah April 10, 2026 11:11 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG -Di usianya yang baru 24 tahun, Alvi tak hanya sekadar ikut tren investasi. Freelancer muda ini justru melihat celah bisnis dari sesuatu yang dulu ia anggap sekadar membeli emas. 

Awalnya sederhana. Ia mengenal investasi logam mulia dari sang kakak yang lebih dulu rutin membeli emas Antam sejak beberapa tahun lalu. 

“Saya mulai ikut-ikutan itu sekitar 2025. Kalau kakak sudah dari 2023, waktu itu harga emas tak semahal sekarang," kata Alvi, saat berbincang dengan Tribunjabar.id, Jumat (10/4/2026). 

Namun, perjalanan Alvi tak selalu mulus.

Ia sempat merasakan langsung berburu emas di butik, bahkan harus rela menginap demi antrean.

“Dulu sistemnya offline. Kalau mau beli emas Antam, harus nginep dulu di sekitar butik biar dapat tiket antrean. Kita sampai bikin tenda dari magrib, padahal bukanya pagi,” ujarnya.

Baca juga: Cicil Emas Jadi Strategi di Tengah Fluktuasi Harga, Pakar Ekonomi: Momentum Investasi Aman

Momen itu justru menjadi titik balik.

Dari obrolan dengan sesama antrean, Alvi mulai menangkap peluang, emas bukan hanya instrumen investasi, tapi juga bisa jadi ladang usaha.

Apalagi, kondisi pasar berubah cepat. Ketika harga emas melonjak, minat masyarakat ikut terdongkrak, terutama dari kalangan anak muda.

“Banyak yang bandingin sama elektronik. Kalau elektronik makin lama makin turun, emas malah sebaliknya. Itu yang bikin banyak yang mulai minat,” katanya.

Ia menyebut, harga emas sempat menyentuh kisaran Rp3,3 juta hingga Rp3,4 juta per gram di toko emas saat situasi global memanas, termasuk konflik Timur Tengah. 

Kini, harga mulai terkoreksi di kisaran Rp2,8 juta per gram, dengan harga buyback sekitar Rp2,6 jutaan.

Melihat permintaan tinggi dan akses yang terbatas, Alvi bersama kakaknya mulai membeli emas untuk investasi, kemudian dijual kembali saat harga tinggi. Margin yang diambil tak besar, namun cukup konsisten.

Konsumen yang disasarnya pun masih di lingkup pertemanan. 

“Enggak ambil untung besar. Yang penting muter saja. Karena memang barangnya susah didapat,” ucapnya.

Modal awal yang mereka siapkan pun tak kecil. Alvi mengaku menggelontorkan dana di atas Rp200 juta, dengan tujuan awal mengamankan aset. 

Namun, perputaran pasar membuat modal tersebut relatif cepat kembali, terutama saat harga emas naik tajam di pertengahan 2025.

Menurut Alvi, pembeli didominasi anak muda yang membeli dalam gram kecil, terutama 1 gram.

“Banyak yang punya target, misalnya tiap bulan beli 1 gram. Ada juga yang buat persiapan nikah atau sekadar amankan uang,” ujarnya.

Baca juga: Harga Emas Hari Ini Jumat 10 April 2026 Kompak Turun, Antam Kembali ke Rp2,9 Juta

Meski begitu, segmen lain seperti ibu rumah tangga hingga pengusaha tetap ada, terutama untuk pembelian dalam jumlah besar. Namun jumlahnya tidak sebanyak pembeli gramasi kecil.

Dikatakannya, perubahan sistem pembelian juga ikut membentuk dinamika pasar.

Dari antrean fisik yang rawan konflik, kini beralih ke sistem online yang lebih praktis meski tetap kompetitif.

“Dulu antrean memakai absen, dan itu rawan konflik. Kemudian tahun kemarin kalau beli offline pakai KTP kemudian diacak. Jadi meski sudsh datang pagi, bisa saja tidak dapat." 

"Sekarang harus standby dari pagi, jaringan harus kuat. Bahkan saya pakai WiFi sama data sekaligus biar bisa dapat,” katanya.

Bagi Alvi, peralihan ke sistem digital memang mengurangi drama antrean, tapi tidak serta-merta mempermudah akses. Justru, keterbatasan itulah yang tetap menjaga permintaan tinggi.

Di tengah tren ini, Alvi juga mulai melirik emas digital sebagai alternatif.

Meski masih lebih nyaman dengan emas fisik, ia tak menutup kemungkinan untuk diversifikasi.

“Kalau digital menarik juga, karena lebih praktis. Tapi tetap, emas fisik masih jadi utama,” ujarnya

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.