Mengulas Sejarah Pesantren di Jawa Timur, Bertahan dari Masa Pra-Islam
Dwi Prastika April 10, 2026 11:22 PM

TRIBUNMADURA.COM – Sistem pendidikan pondok pesantren di Jawa Timur memiliki akar sejarah panjang yang bahkan telah muncul sebelum kedatangan Islam.

Hal ini menunjukkan, pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan keagamaan, melainkan hasil perkembangan budaya lokal yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat, Jumat (10/4/2026).

Berdasarkan sumber dari disperpusip.jatimprov.go.id, cikal bakal pesantren disebut berasal dari sistem kawikuan, yakni lembaga pendidikan pada masa Hindu Jawa.

Menurut Kern, kawikuan merupakan prototipe dari pondok yang kemudian berkembang menjadi pesantren seperti dikenal saat ini.

Baca juga: Alasan Kiai Kediri Berharap Muktamar NU ke-35 Kembali Digelar di Pondok Pesantren

Awal Mula Berdirinya Pesantren

Pendirian pesantren berawal dari pengakuan masyarakat terhadap keunggulan seorang tokoh yang memiliki ilmu pengetahuan dan kesalehan tinggi.

Tokoh tersebut kemudian menjadi pusat pembelajaran, sehingga banyak orang datang untuk menimba ilmu.

Keunggulan seorang tokoh tidak hanya terletak pada penguasaan ilmu agama, tetapi juga pada ketakwaan, akhlak, serta perilaku sehari-hari.

Faktor inilah yang membuat pesantren mampu berkembang dan diterima luas oleh masyarakat.

Baca juga: Jejak Sejarah Ponpes Syaichona Moh Cholil Bangkalan, Berdiri sejak Tahun 1861

Peran Walisongo dalam Perkembangan Pesantren

Masuknya Islam ke Jawa Timur memperkuat eksistensi pesantren.

Sejumlah tokoh penting yang berperan dalam pendirian pesantren antara lain:

  • Syekh Malik Ibrahim (1419), sebagai pelopor pendirian pesantren di Jawa
  • Syekh Magribi, pendiri pesantren pertama di Gresik
  • Sunan Bonang di Tuban
  • Sunan Ampel di Surabaya
  • Sunan Giri di wilayah Sidomukti (Giri Kedaton)

Pesantren yang didirikan para tokoh tersebut tidak hanya menarik santri dari Jawa, tetapi juga dari Madura, Lombok, hingga Sulawesi.

Sistem Pendidikan yang Bertahan Lama

Seiring berkembangnya Islam, sistem pesantren terus bertahan hingga kini.

Sistem ini memiliki kemiripan dengan pendidikan padepokan pada masa Hindu Jawa, yang menekankan hubungan erat antara guru dan murid.

Ketahanan pesantren selama berabad-abad tidak lepas dari kharisma seorang kiai sebagai tokoh sentral.

Selain memiliki pengetahuan agama mendalam, kiai juga dikenal karena sifat mulia dan kerap dihormati bahkan dikeramatkan oleh masyarakat.

Kepemimpinan pesantren umumnya bersifat turun-temurun, di mana kiai mewariskan ilmu, keterampilan, hingga pengelolaan pesantren kepada keturunannya.

Baca juga: Sejarah Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Ikon Dakwah Situbondo

Kehidupan Santri dan Sistem Pembelajaran

Para santri datang dari berbagai daerah dengan membawa kebutuhan hidup secara mandiri. Pada masa lalu, bekal yang dibawa umumnya berupa bahan makanan (in natura).

Santri yang menetap dalam waktu lama biasanya turut membantu menggarap sawah atau kebun milik kiai maupun tanah wakaf.

Mereka tinggal di pondok pesantren atau di rumah warga sekitar.

Materi pembelajaran meliputi Alquran dan Hadist, serta ilmu Fiqih (hukum Islam) dan Tasawuf.

Untuk mendukung pemahaman, santri juga mempelajari Bahasa Arab secara menyeluruh, termasuk tata bahasa, morfologi, fonetika, dan sintaksis.

Munculnya Pesantren Induk dan Cabang

Pesantren yang telah berkembang pesat kemudian melahirkan pesantren-pesantren baru di bawah pengaruhnya. Pesantren awal ini dikenal sebagai pesantren induk.

Beberapa pesantren bersejarah di Jawa Timur antara lain:

  • Pesantren Termas di Pacitan
  • Pesantren Tebuireng di Jombang
  • Pesantren Lirboyo di Kediri

Dari pesantren-pesantren tersebut kemudian lahir banyak pesantren baru yang tersebar di seluruh Pulau Jawa. Salah satu yang juga dikenal adalah Pesantren Tegalsari di Ponorogo yang pernah memiliki santri tidak kurang dari 252 orang.

Baca juga: Menggali Sejarah dan Asal-usul Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.