TRIBUNNEWSMAKER.COM - Presiden Donald Trump kembali melontarkan pernyataan keras terhadap Iran di tengah dinamika hubungan kedua negara yang masih tegang.
Pernyataan tersebut muncul tak lama setelah Gedung Putih mengungkapkan optimisme terkait negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan berlangsung di Pakistan pada Sabtu, 11 April 2026.
Meski ada harapan damai, Trump tetap menyiapkan langkah antisipatif jika pembicaraan tersebut gagal mencapai kesepakatan.
Ia menegaskan bahwa militer Amerika Serikat saat ini tengah melakukan pengisian ulang amunisi ke kapal-kapal perang.
Langkah ini disebut sebagai bentuk kesiapan menghadapi kemungkinan terburuk dari proses diplomasi yang sedang berjalan.
“Kita sedang melakukan pengaturan ulang. Kita sedang memuat kapal-kapal dengan amunisi terbaik, senjata terbaik yang pernah dibuat,” kata Trump dalam sebuah wawancara dengan New York Post, Jumat (10/4/2026).
"Senjata-senjata itu bahkan lebih baik daripada yang kita miliki sebelumnya," lanjutnya.
Trump juga menekankan bahwa waktu akan segera membuktikan apakah perundingan tersebut akan berhasil atau tidak.
Menurutnya, dalam waktu singkat arah dari negosiasi akan terlihat dengan jelas.
Baca juga: Gencatan Senjata Gagal? Iran Pungut Tarif Kapal di Selat Hormuz, Trump Kesal: Itu Bukan Kesepakatan!
“Dan jika kita tidak mencapai kesepakatan, kita akan tetap menggunakan mereka, dan kita akan menggunakannya dengan sangat efektif,” katanya.
Saat ditanya lebih lanjut mengenai peluang keberhasilan, ia menjawab, “Kita akan mengetahuinya dalam waktu sekitar 24 jam. Kita akan segera tahu.”
Selain melalui wawancara, Trump juga menyampaikan pandangannya lewat platform media sosial miliknya, Truth Social.
Dalam unggahannya, ia menyinggung bahwa negosiasi menjadi satu-satunya alasan bagi Iran untuk tetap bertahan hingga saat ini.
Pernyataan itu merujuk pada ancaman sebelumnya yang ia lontarkan terkait kemungkinan dampak besar jika konflik tidak mereda.
Trump juga mengkritik langkah Iran yang disebutnya mencoba mengambil keuntungan dari situasi global.
Ia menyinggung isu pungutan terhadap kapal yang melintasi jalur strategis Selat Hormuz.
"Tampaknya Iran tidak menyadari bahwa mereka tidak memiliki kartu truf, selain pemerasan jangka pendek terhadap dunia dengan menggunakan jalur perairan internasional. Satu-satunya alasan mereka masih hidup hingga hari ini adalah untuk bernegosiasi!" tulis Trump di platform Truth Social, Jumat (10/4/2026).
Dalam wawancara lain, Trump mengatakan ia menantikan hasil pembicaraan dengan Iran pada hari Sabtu.
"Kita akan lihat apa yang terjadi dalam pembicaraan besok. Kita tidak bisa membiarkan Iran memberlakukan tarif di Selat Hormuz," kata Trump kepada wartawan, Jumat.
"Iran telah dikalahkan secara militer, dan sekarang kita akan membuka selat itu dengan atau tanpa mereka," ujarnya.
Menanggapi pertanyaan, "Seperti apa kesepakatan yang baik menurut Anda?", presiden AS menjawab, "Tanpa senjata nuklir."
Ia juga mendoakan JD. Vance semoga sukses dalam negosiasi, dengan mengatakan, "Dia memiliki tugas besar di hadapannya."
Baca juga: Trump Dinilai Plin-plan Hadapi Iran, Sempat Marah hingga Beri Ancaman, Kini Setuju Gencatan Senjata
Sebelumnya, Gedung Putih mengutip pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengungkapkan optimisme dan menugaskan wakilnya, JD Vance, utusan khusus Steve Wittkopf, dan menantunya, Jared Kushner, untuk melakukan perjalanan ke Islamabad guna bernegosiasi dengan Iran.
Selain itu, para pejabat AS dari Dewan Keamanan Nasional, Departemen Luar Negeri, dan Departemen Pertahanan akan memainkan peran pendukung, menurut laporan Fox News.
Gedung Putih dalam laporan Fox News menyebutkan Trump optimistis tentang kemungkinan tercapainya kesepakatan yang akan mengarah pada perdamaian abadi di Timur Tengah.
Pernyataan itu menyebutkan Trump memiliki rekam jejak yang terbukti dalam membuat kesepakatan yang baik untuk AS dan rakyatnya, dan hanya akan menerima kesepakatan yang mengutamakan kepentingan AS.
Pernyataan ini muncul setelah Trump memposting pesan samar di akun Truth Social miliknya, menulis kalimat singkat pada hari Jumat saat Vance menaiki pesawat ke Islamabad.
"Pengaturan ulang paling ampuh untuk dunia," tulis Trump di Truth Social, Jumat, merujuk pada perubahan radikal dalam tatanan global.
Cuitan Trump di Truth Social muncul setelah Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf mengaitkan dimulainya pembicaraan dengan AS dengan implementasi dua langkah yang menurutnya telah disepakati, yaitu gencatan senjata di Lebanon dan pembebasan aset Iran yang dibekukan.
Langkah-langkah ini merupakan bagian dari komitmen yang dibuat oleh para pihak, dan memperingatkan pembicaraan tidak boleh dimulai sebelum komitmen ini dipenuhi.
Peringatan tersebut menyoroti serangan Israel yang masih berlangsung di Lebanon, meski AS dan Iran telah menyepakati gencatan senjata selama dua minggu.
Israel mengklaim serangan itu menargetkan fasilitas militer Hizbullah, kelompok yang disebut mendukung Iran dalam serangan balasannya terhadap AS dan Israel.
"Dua langkah yang telah disepakati bersama oleh kedua pihak belum dilaksanakan: gencatan senjata di Lebanon, dan pembebasan aset Iran yang dibekukan. Kedua hal ini harus dilaksanakan sebelum negosiasi dapat dimulai," kata Baqer Qalibaf di platform X, Jumat.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menekankan AS harus mematuhi komitmennya untuk memasukkan Lebanon dalam gencatan senjata dan menghentikan serangan Israel terhadapnya, dikutip dari Al Arabiya.
Amerika Serikat dan Israel memulai agresi terhadap Iran dengan meluncurkan serangan ke sejumlah wilayah negara itu pada 28 Februari 2026.
Agresi AS-Israel di Iran mengawali perang baru di Timur Tengah, yang dimulai hanya dua hari setelah putaran ketiga perundingan soal pembatasan program nuklir antara Washington dan Teheran di Jenewa, Swiss.
Selama ini, AS dan Israel menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir melalui pengayaan uranium.
Iran membantah upaya pengembangan senjata nuklir dan menegaskan program nuklirnya hanya untuk kepentingan energi sipil.
Setidaknya 1.900 orang dilaporkan tewas dalam serangan AS-Israel dan balasan Iran yang menyasar fasilitas militer kedua pihak di Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
Sejak dimulainya agresi AS-Israel, Iran menghentikan pembicaraan tentang perjanjian nuklir dan memblokade Selat Hormuz, jalur utama distribusi energi dunia, yang memicu lonjakan harga minyak global dan kekhawatiran krisis energi.
Pembicaraan gencatan senjata kemudian dilaksanakan dengan ditengahi oleh Pakistan, yang menghasilkan kesepakatan "jeda" perang selama dua minggu, dimulai pada 7 April lalu.
Dalam kesepakatan itu, Iran diminta untuk membuka akses Selat Hormuz selama dua minggu.
Delegasi Iran dan AS dijadwalkan untuk melanjutkan pembicaraan tersebut di Islamabad, Pakistan pada Sabtu, 11 April 2026.
(Tribunnewsmaker.com/ Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)