TRIBUNJAKARTA.COM - Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ingin memajukan Ketua Umumnya, Muhaimin Iskandar atau Cak Imin sebagai calon presiden (capres) di Pilpres 2029 mendatang.
Hal itu disampaikan Wakil Ketua Umum Bidang Ideologi, Kaderisasi, dan Penataan Organisasi DPP PKB, Hanif Dhakiri, saat memberikan sambutan dalam acara Halal Bihalal dan Penghargaan Kaderisasi di Kantor DPP PKB, Jakarta, Jumat (10/4/2026).
“Kita sebagai partai bukan hanya sekadar akan bertahan, tetapi ke depan juga bisa akan terus lebih besar, bisa terus mencapai target-target yang menjadi tujuan besar kita, termasuk menjadikan Gus Muhaimin sebagai presiden atau wakil presiden 2029 yang akan datang,” ujar Hanif, dikutip dari Kompas.com.
Untuk mencapai target besar ini, Hanif mengatakan, PKB perlu memastikan kaderisasinya berjalan dengan baik.
“PKB harus memastikan bahwa kader-kader kita di semua tempat itu unggul, kompeten, dan memiliki keberpihakan yang jelas kepada masyarakat,” kata Hanif.
Pengamat politik Adi Prayitno memandang sikap PKB yang disampaikan Wakil Ketua Umumnya itu realistis.
Menurut Adi, ambang batas presiden atau presidential threshold yang sudah diubah Mahkamah Konstitusi (MK) menjadi nol persen, harus dimanfaatkan.
Seperti diketahui, MK menghapus ambang batas pencalonan presiden (presidential threshold) 20 persenadalah Putusan Nomor 62/PUU-XXII/2024. Putusan ini dibacakan pada awal Januari 2025 dan menyatakan Pasal 222 UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu inkonstitusional.
"Ya, bagi saya ini adalah langkah yang realistis dan ya wajib hukumnya. Karena bagi saya tidak ada cerita bagi PKB tidak memajukan Cak Imin sebagai calon presiden. Ya, presidential threshold hilang kok. Udah zero threshold apalagi yang ditunggu, sudah nol persen."
"Siapapun sudah bisa memajukan calon presiden. Apalagi PKB adalah partai yang kita tahu bukan hanya lolos parlemen, tapi kan juga masuk dalam kategori partai menengah yang suaranya relatif juga ingin mendorong masuk ke papan atas," kata Adi pada unggahan video di laman Youtubenya (@adiprayitnoofficial), tayang perdana Sabtu (11/4/2026).
Terlebih, kata Adi, Cak Imin merupakan ketua umum partai yang solid didukung kadernya.
"Tidak ada saingan apapun di internal PKB," jelas Adi.
Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia itu juga menyebut ada dua keuntungan bagi PKB jika Cak Imin maju menjadi capres.
Pertama adalah tabungan elektabilitas Cak Imin yang akan terus bertumbuh. Kalaupun kalah di Pilpres 2029, Cak Imin masih bisa maju di Pilpres 2034.
"Salah satu faedahnya adalah ini tentu adalah insentif politik elektoral terutama untuk kembali maju di 2034 ya"
"Maksud saya ya tentu ini adalah tiket besar karena popularitas dan elektabilitas Muhaimin Iskandar itu kan bisa dibangun dari saat ini Pemilu 2029," kata Adi.
Di sisi lain, dengan majunya Cak Imin, maka PKB akan menikmati efek ekor jas atau coattail effect yang mengakibatkan suara di Pilegnya berpotensi ikut naik.
Efek ekor jas itu sudah terbukti saat Cak Imin maju menjadi cawapres pendamping Anies Baswedan di Pilpres 2024 lalu.
"Salah satu buktinya adalah PKB ketika mengusung Cak Imin sebagai Cawapres di 2024 yang lalu kan suara PKB naik loh secara signifikan dan bahkan di tempat-tempat di mana PKB itu tidak dapat kursi, tidak dapat anggota dewan, itu sudah bermunculan dapat faedah di dalamnya," ujarnya.