Tak Lagi Jadi Sampah, Limbah Pertanian Disulap Jadi Produk Kreatif
Siti Fatimah April 11, 2026 10:11 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Di tangan Risma Indriyani M, tumpukan jerami dan limbah kertas yang biasanya dibakar justru berubah menjadi produk bernilai.

Limbah itu disulap menjadi berbagai merchandise ramah lingkungan.

Dia menjelaskan, melalui Suhuf,  perusahaan berbasis social enterprise memang fokus mengolah limbah pertanian menjadi kertas daur ulang.

Bahan bakunya tak biasa, mulai dari jerami, merang, hingga limbah kertas, kardus, dan botol bekas.

Dari kertas tersebut, pihaknya memproduksi berbagai produk seperti notebook, merchandise corporate, hingga undangan dan souvenir pernikahan yang bisa disesuaikan kebutuhan.

“Contohnya kayak notebook, berbagai produk merchandise corporate yang bisa dicustom,” ujarnya, saat ditemui Tribunjabar.id, di Institut Teknologi Bandung, Sabtu (11/4/2026).

Tak sekadar bisnis, Risma menekankan misi sosial dibalik usaha yang kini bernama PT Suhuf Kridasana Nusantara itu.

 Ia ingin memutus kebiasaan petani membakar limbah pertanian yang berdampak buruk bagi lingkungan.

“Yang biasanya limbah itu dibakar ya, itu berdampak buruk bagi pencemaran udara dan kesehatan. Nah dengan kita rekrut petani untuk kumpulin limbahnya, jadi otomatis limbahnya tersebut kita olah,” katanya.

Usaha yang dilakoninya berada  di kawasan Cimbuleuit, Kota Bandung ini sejatinya punya sejarah panjang.

Berdiri pertama kali pada 1994 oleh alumni ITB, pihaknya sempat vakum pada 2016 sebelum akhirnya dihidupkan kembali oleh Risma.

“Saya melihat potensi terkait jerami dan memberdayakan para petani. Akhirnya saya akuisisi,” imbuhnya.

Risma mulai merintis kembali usaha ini pada 2021, di tengah pandemi Covid-19, sebelum resmi berbadan hukum sebagai PT pada 2025.

Kini, tren gaya hidup berkelanjutan turut mendorong permintaan produk mereka.

Sejumlah brand yang fokus pada sustainability mulai menggunakan produk Suhuf sebagai kemasan maupun merchandise.

"Kami juga memanfaatkan serat alam sebagai elemen estetika dalam produk journaling hingga kartu undangan," kata Risma.

Meski demikian, di balik produk yang dihasilkan, ada proses panjang yang tetap berpijak pada alam.

Dikakatannya, limbah seperti pelepah pisang dan jerami dikeringkan terlebih dahulu di bawah sinar matahari.

“Biasanya keringnya tergantung sinar matahari, bisa tiga hari sampai seminggu,” jelas Risma.

Setelah kering, bahan tersebut digiling tanpa campuran kimia hingga menjadi bubur kertas, lalu dicetak menjadi lembaran kertas daur ulang.

“Jadi memang prosesnya sendiri dari alam untuk alam ya,” katanya.

Menariknya, hampir seluruh bagian jerami bisa dimanfaatkan, meski bagian tertentu membutuhkan waktu pengeringan lebih lama.

Dengan konsep ekonomi sirkular, Risma berharap usahanya tak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga membuka peluang kerja bagi masyarakat, khususnya petani.

“Selain dampak positif bagi lingkungan, juga pemberdayaan untuk petani dan pelaku lokal,” ujarnya. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.