Warisan Budaya Bondowoso, Tradisi Ngideri Dilakukan 11 Lelaki Tanpa Alas Kaki Semalaman
Samsul Arifin April 11, 2026 11:14 PM

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sinca Ari Pangestu

TRIBUNJATIM.COM, BONDOWOSO - Tradisi Ngideri di Desa Rambankulon, Bondowoso, terus lestari hingga kini meski telah berlangsung lebih dari lima abad. 

Tradisi tersebut adalah Ngideri di Desa Rambankulon, Kecamatan Cermee. Ritual ini merupakan bagian dari rangkaian tradisi Selametan Gugur Gunung yang telah tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTBI).

​Heri Kusdaryanto, Plt. Kepala Bidang Kebudayaan Disparbudpora Bondowoso, menjelaskan bahwa tradisi ini dilaksanakan setiap malam Jumat (Kamis malam) pada bulan Syawal.

"Pelaksanaannya dimulai setiap malam Jumat selama tujuh minggu berturut-turut. Jadi tujuh Malam Jum'at pada bulan Syawal," jelasnya pada Sabtu (11/4/2026).

Baca juga: Topeng Jatiduwur Jombang, Warisan Majapahit untuk Hiburan sekaligus Pemenuhan Nazar dan Ruwatan

Dilaksanakan Selama Tujuh Malam Jumat di Bulan Syawal

​Ritual Ngideri diawali dengan upacara doa bersama di makam Raden Imam Asy'ari, tokoh penyebar ajaran Islam di wilayah tersebut.

Pada malam harinya, 11 pria warga lokal akan berkeliling desa tanpa alas kaki sambil membawa alat musik khusus. Rute perjalanan dimulai dari makam Raden Imam Asy'ari di Desa Ramban Kulon, menuju Ramban Wetan, Suling Kulon, dan kembali lagi ke titik awal.

Baca juga: Hemat BBM, ASN dan DPRD Bondowoso Naik Becak dan Gowes ke Kantor: Kalau Terbiasa, 25 KM Itu Ringan

​"Rombongan berjumlah 11 orang; 10 pria bertugas memegang alat musik seperti klonengan, tong-tong kecil, dan talam (nampan), sementara satu orang lainnya adalah juru kunci," tambah Heri.

Ritual Diawali Doa dan Kirab Keliling Desa

​Meskipun warga meyakini tradisi ini ada sejak tahun 1500-an, pihak dinas menduga usianya jauh lebih tua. Hal ini terlihat dari kemiripan alat musiknya dengan lonceng atau klonengan pada masa Buddha.

"Masuknya Islam di sini tidak terjadi secara instan, melainkan berakulturasi dengan adat istiadat yang sudah ada," tuturnya.

Baca juga: Sejumlah Rumah di Bondowoso Rusak Diterjang Hujan Deras dan Angin Kencang

​Uniknya, meski berjalan kaki tanpa alas sejak pukul 20.00 hingga 01.00 WIB, telapak kaki para peserta tidak ada yang terluka. 

Menurut penuturan warga, rute saat ini sebenarnya lebih pendek dibanding masa lampau. Pada era Majapahit, para peserta konon harus berkeliling hingga ke kawasan Surabasah hingga Panarukan, Situbondo.

Jejak Akulturasi Budaya Sejak Masa Lampau

​Peserta Ngideri pun tidak sembarangan; mereka adalah keturunan dari 11 orang asli secara turun-temurun. Jika salah satu anggota sudah sepuh, perannya akan digantikan oleh keturunannya.

​Kepercayaan masyarakat setempat terhadap ritual ini sangat kuat. Jika tradisi tidak dilaksanakan atau ada rukun yang terlewat—seperti syarat kambing yang harus berwarna cokelat muda menyerupai kijang—warga percaya akan terjadi musibah atau kejadian di luar nalar (bala).

​Sebagai informasi, pada Januari 2026, tradisi Selametan Gugur Gunung resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTBI) bersama dua kekayaan budaya Bondowoso lainnya, yaitu Tari Topeng Kona dan Tape Bondowoso.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.