TRIBUNJATIM.COM - Inilah kisah siswa berprestasi yang lolos jurusan kedokteran dengan nilai Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) tertinggi.
Siswa itu adalah Trishanindya Putri (17), murid SMAN 1 Pati, Jawa Tengah.
Ia lolos ke jurusan Ilmu Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) melalui SNPB 2026.
“Sejak kecil aku sering lihat ayah dan ibu bantu orang sakit. Dari situ aku belajar bahwa jadi dokter bukan cuma soal ilmu, tapi juga soal kepedulian,” ujar Anin, sapaan akrabnya, Sabtu (11/4/2026).
Baca juga: Dwi Anak Penjual Sate Lega Lolos SNBP Jurusan Informatika Meski Sempat Ditentang: Jaga Nilai Rapor
Anin mencatatkan skor tertinggi se-Kabupaten Pati, yakni 95,2.
Anin memang berasal dari keluarga dokter.
Sejak kecil, ia terbiasa melihat langsung aktivitas orang tuanya dalam melayani pasien.
Pengalaman tersebut membentuk pandangannya tentang profesi dokter, tidak hanya sebagai pekerjaan, tetapi juga bentuk pengabdian.
Lingkungan keluarga menjadi salah satu faktor yang mendorongnya memilih jalur kedokteran.
Konsistensi sejak awal SMA Sejak kelas X, Anin telah menetapkan target untuk menjaga nilai rapor dan aktif mengikuti kompetisi.
Orang tuanya berperan dalam menanamkan disiplin, konsistensi, serta manajemen waktu.
“Mereka enggak pernah memaksa, tapi selalu mendukung. Itu yang bikin aku termotivasi untuk membuktikan diri,” kata dia, melansir dari Kompas.com.
Anin meraih sejumlah prestasi di bidang Biologi, antara lain Juara 1 National Youth Biology Olympiad 2025, Juara 2 MEDFOS Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 2024, serta menjadi finalis Kompetisi Sains Ruangguru.
Prestasi tersebut menjadi bekal dalam menempuh jalur SNBP. Anin berharap ilmu yang dipelajarinya kelak dapat bermanfaat bagi masyarakat.
“Harapanku, ilmu yang aku pelajari nanti bisa benar-benar bermanfaat, bukan cuma berhenti di teori,” ujarnya. Ia menilai keberhasilannya saat ini merupakan awal dari perjalanan panjang untuk menjadi dokter.
Impian Rinita Irawati menjadi seorang dokter kini ada di depan mata.
Meski tiap hari belajar bermodalkan video di YouTube, Rinita Irawati kini berhasil diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung (Unila) melalui jalur Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP) pada Selasa (31/3/2026) lalu.
Tinggal di rumah sederhana dri Bandar Lampung, Rinita tak mampu mengakses pendidikan tambahan seperti les untuk bisa mendapatkan prestasi.
Apalagi, ayahnya hanya seorang pengemudi ojek online (ojol) yang cuma bisa untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.
Meski demikian, Rinita kini bersyukur atas apa yang diraihnya, di tengah keterbatasan.
“Alhamdulillah, saya meskipun anak pengemudi ojek dan ibu hanya ibu rumah tangga, bersyukur bisa diterima di FK Unila,” katanya melalui pesan singkat, Selasa (7/4/2026) malam, melansir dari Kompas.com.
Baca juga: Sosok Alvira Nur Azizah Lolos SNBP Farmasi Unair di Usia 14 Tahun, Akui Suka Belajar Mepet Ujian
Di balik pencapaian itu, ada rutinitas panjang yang dijalani dalam sunyi.
Tidak ada bimbingan belajar mahal, tidak ada kelas tambahan berbayar.
Yang ada hanyalah kemauan untuk terus belajar, dan sebuah ponsel yang menjadi jendela pengetahuan.
Rinita mengandalkan YouTube sebagai “guru tambahan”-nya.
Dari video pembelajaran yang diunggah para pengajar hingga penjelasan materi yang ia putar berulang-ulang, semuanya menjadi bagian dari perjalanan belajarnya.
“Saya benar-benar belajar mandiri di rumah, kadang mengandalkan nonton YouTube untuk belajar. Karena saya tidak les, orangtua saya juga kurang mampu buat bayar,” kata dia.
Setiap malam, setelah aktivitas sekolah selesai, Rinita akan kembali membuka catatan dan menyalakan ponselnya.
Ia mencari materi yang belum dipahami, mengulang penjelasan, bahkan mencatat ulang dari video yang ia tonton.
Proses itu ia lakukan berulang, tanpa ada yang mengawasi, tanpa ada yang memaksa.
Baca juga: 3 Tahun Hidup Tanpa Ibu, Syifa Gemetar Dijemput Rektor setelah Lolos ITB Jalur SNBP: Terima Kasih
Sebagai penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP), Rinita memaksimalkan apa yang ia miliki.
Di sekolah, ia menyerap pelajaran sebaik mungkin.
Di rumah, ia melanjutkannya dengan belajar mandiri, membangun pemahaman sedikit demi sedikit.
“Kalau di sekolah, saya benar-benar fokus. Di rumah saya ulang lagi. Jadi semuanya dimaksimalkan,” ujarnya.
Perjuangan itu bukan tanpa lelah.
Ada saat-saat ia merasa tertinggal, terutama ketika teman-temannya mengikuti les tambahan.
Namun, ia memilih untuk tidak berhenti, mengganti keterbatasan dengan konsistensi.
Baginya, belajar bukan soal fasilitas, tetapi soal kemauan untuk terus mencoba memahami.
Di balik semua itu, ada mimpi yang sudah ia genggam sejak kecil, yaitu menjadi seorang dokter.
Mimpi yang bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk orang lain.
Rinita ingin suatu hari kembali ke kampung neneknya di Kampung Carodok, Cadas Sari, Pandeglang, Banten, sebuah daerah yang menurutnya masih kesulitan mengakses layanan kesehatan.
“Di sana akses ke rumah sakit susah. Makanya saya ingin nanti bisa buka praktik di sana,” katanya.
Mimpi itu kini terasa lebih dekat.
Dari layar YouTube yang sederhana, dari catatan yang ia tulis sendiri, hingga usaha yang ia bangun tanpa banyak fasilitas, semuanya mengantarkan Rinita ke gerbang Fakultas Kedokteran.
Kisah Rinita mendapat perhatian dari pihak Unila.
Rektor Unila, Prof Lusmeilia Afriani mengatakan, pihaknya akan membantu biaya pendidikan hingga Rinita menjadi Koas.
"Ya kita bantu, tidak hanya sampai selesai S1 tetapi juga sampai dia Koas," katanya.
Lusmeilia mengatakan, tahun ini, dari 50 mahasiswa, Unila menerima 5 calon mahasiswa kedokteran yang berasal dari keluarga tidak mampu.
"Ini tanggung jawab kita, pemerintah sudah menyiapkan dana untuk calon mahasiswa penerima KIP (Kartu Indonesia Pintar), di Unila ada 5 orang yang masuk," katanya.