SURYA.CO.ID, SURABAYA – Ketatnya persaingan masuk perguruan tinggi negeri melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) semakin dirasakan siswa dan orang tua.
Tidak hanya soal kemampuan akademik, strategi dalam memilih program studi kini menjadi faktor penting penentu kelulusan.
Hal itu dialami Adrian Kenzo, siswa SMKN 8 Surabaya, yang harus mengubah strategi setelah gagal pada jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).
Sejak awal, Adrian mengaku sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi SNBT karena menyadari tingginya tingkat persaingan.
“Memang sudah siap ambil SNBT, karena tahu persaingan ketat banget. Jadi sekarang fokus belajar sendiri dan latihan soal-soal,” ujarnya.
Ia berencana memilih program studi Antropologi di Universitas Airlangga serta Kriminologi di Universitas Brawijaya.
Pilihan tersebut diambil tidak hanya berdasarkan minat, tetapi juga mempertimbangkan peluang.
“Sekarang lebih mikir peluang juga, nggak cuma ikut-ikutan jurusan yang ramai,” tambahnya.
Baca juga: Peta Keketatan SNBT 2026 Unair dan ITS , Prodi Favorit Kedokteran hingga Akuntansi Jadi Rebutan
Di sisi lain, orang tua Adrian, Desi Anggraini, berusaha menjaga semangat anak keduanya tersebut.
Ia menilai kegagalan di SNBP bukan akhir, melainkan bagian dari proses.
“Yang penting dia tetap semangat dan mau berusaha. Gagal di SNBP bukan akhir, masih ada kesempatan di SNBT,” katanya.
Desi mengaku tidak ingin memaksakan pilihan kepada anaknya.
Baginya, keputusan terbaik adalah yang sesuai dengan minat dan kesiapan anak.
“Saya serahkan ke anak, yang penting dia nyaman dan serius menjalaninya,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Siti Nurhayati, orang tua siswa lainnya di Surabaya.
Ia menilai persaingan SNBT saat ini semakin berat, terutama pada jurusan-jurusan favorit.
“Sekarang masuk PTN memang lebih sulit, apalagi jurusan favorit. Anak-anak harus pintar memilih, tidak bisa hanya ikut tren,” ujarnya.
Menurutnya, peran orang tua lebih pada mendampingi dan memberi dukungan, bukan menentukan pilihan secara sepihak.
Iapun sudah sejak awal memberikan pemahaman pada anaknya agar memiliki alternatif pilihan prodi lain yang memiliki keketatan rendah jika memang nilai UTBK nanti tidak memenuhi untuk mendaftar di pilihan pertama yang diinginkannya.
“Kami hanya bisa mendampingi dan memberi semangat. Tapi anak juga harus realistis melihat peluang yang ada,” tambahnya.