TRIBUNBANYUMAS.COM, PATI - Tragedi runtuhnya bangunan ruang kelas di SDN Mencon, Kecamatan Pucakwangi pada Minggu (12/4/2026) pagi, menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan di Kabupaten Pati.
Beruntung, musibah tersebut terjadi saat hari libur sehingga tidak memakan korban jiwa dari kalangan siswa maupun guru.
Merespons kejadian darurat tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, mengambil langkah cepat.
Baca juga: SMPN 1 Gembong Pati Akhirnya Diperbaiki setelah 1983, Rehabilitasi 90 Sekolah Gunakan Dana Pusat
Ia menginstruksikan Dinas Pendidikan untuk segera menerjunkan tim khusus guna menyisir kelayakan struktur bangunan di seluruh sekolah tingkat SD, SMP, hingga SMA di Pati.
Langkah preventif ini dinilai sangat krusial mengingat Kabupaten Pati menduduki peringkat kedua sebagai daerah dengan risiko bencana tertinggi di Jawa Tengah.
"Kondisi Pati dari Januari sampai Maret bencananya bertubi-tubi, dari banjir hingga tanah longsor. Jadi besok Senin, tim harus langsung mengecek kelayakan supaya tidak ada lagi kejadian kelas roboh," tegas Chandra saat mendampingi kunjungan kerja Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, di SMPN 8 Pati, Minggu (12/4/2026).
Tragedi SDN Mencon ini tak luput dari sorotan Mendikdasmen Abdul Mu'ti.
Kehadirannya di Bumi Mina Tani sejatinya untuk meresmikan program revitalisasi 90 satuan pendidikan yang mendapatkan kucuran dana perbaikan fasilitas di tahun anggaran 2025.
Mengetahui masih ada sekolah yang atapnya runtuh, Menteri Mu'ti meminta Pemkab Pati untuk segera mendata ulang sekolah-sekolah yang rusak berat agar bisa dimasukkan dalam prioritas pembangunan tahun 2026.
Ia lantas menyentil keras fenomena "Asal Bapak Senang" yang kerap dilakukan pihak sekolah saat melaporkan kondisi bangunan.
"Monggo Pak Plt Bupati didata dengan jujur. Karena mohon maaf, sering kali data yang masuk ke kami tidak sinkron. Dilaporkan sekolahnya baik-baik saja, ternyata begitu dikunjungi kondisinya memprihatinkan," sentil Mu'ti.
Menurutnya, manipulasi data kerusakan ini kerap dilakukan pihak sekolah demi mengamankan nilai akreditasi agar terlihat sempurna di atas kertas.
"Saya tahu kenapa dilaporkannya baik-baik saja, supaya akreditasinya bagus. Ini yang tidak boleh! Tolong sampaikan apa adanya agar pemerintah bisa segera memperbaiki," tandasnya memperingatkan.
Sebagai informasi, program revitalisasi Kemendikdasmen tahun 2025 di Pati telah menyentuh 90 lembaga pendidikan yang terdiri dari 3 TK, 57 SD, 14 SMP, 4 SMA, 6 SMK, 1 SLB, dan 5 PKBM.
Bantuan tersebut difokuskan untuk membedah ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, hingga fasilitas sanitasi. (mzk)