BANGKAPOS.COM -- Histeris istri melihat sang suami Sugiansyah alias Yansah (36) terkapar dan terkulai lemas sambil memegang dada habis ditikam hingga tewas.
Yansah, warga Jalan Rawa Makmur, RT 05, Kelurahan Batu Urip, Kecamatan Lubuklinggau Timur II, Kota Lubuklinggau menjadi korban penikaman keluarganya sendiri hingga tewas.
Peristiwa berdarah itu terjadi saat korban bersama anak dan istri sedang melihat perkembangan pembangunan rumah mereka yang masih dikerjakan.
Salah satu tukang yang tengah mengerjakan rumah milik Yansyah spontan kaget dan berteriak minta tolong.
Ia terkejut mendapati tubuh Yansyah sudah terkapar dengan kondisi memegangi luka di bagian dadanya.
Ria, istri Yansah bersama anaknya yang tengah berada di dalam rumah pun keluar.
Ia menjerit histeris ketika melihat suaminya terkulai lemas sembari terus memegang dada.
Baca juga: Warisan Rp1 M Berujung Maut, Yansyah Tewas Depan Istri dan Anak, Pelaku Diduga Minta Jatah 20 Persen
Empat orang yang sempat mengobrol dengan Yansyah di teras rumah yang dalam tahap penyelesaian (finishing) itu sudah tidak ada lagi alias kabur melarikan diri.
Sontak saja, para tukang yang lain langsung mencari pertolongan agar Yansyah cepat dibawa ke rumah sakit.
Namun, karena posisi menjelang magrib, cuaca mendung sehabis hujan, ditambah lokasi rumah yang dibangun Yansyah masih terbilang sepi, tidak banyak warga yang menolong.
Bahkan, tetangganya yang bersebelahan dengan rumah yang dibangun Yansyah pun tidak berani keluar karena ketakutan.
"Posisi kejadiannya di depan itu, tidak ada yang melihat langsung. Tiba-tiba tukang kaget melihat korban sudah jatuh," ungkap F, tetangganya, kepada wartawan, Minggu (12/4/2026).
Rumah F dengan rumah yang dibangun Yansyah bersebelahan langsung di sisi kiri.
Saat ini, hanya rumah F yang bertangga langsung dengan rumah Yansyah, sementara di sebelah kanannya masih berupa bangunan kosong.
Baca juga: Bukan dari Tabung Gas Memasak, Kronologi dan Penyebab Mesin Pengering Ompreng SPPG Angsana Meledak
Tanah yang dibeli dan dijadikan bangunan rumah oleh Yansyah merupakan tanah kaveling.
Akses jalan menuju rumah tersebut pun masih berupa tanah merah, belum dilakukan pembangunan atau pengaspalan.
Saat kejadian itu, F beserta istri dan anak-anaknya berada di dalam rumah.
Namun, mereka tidak berani keluar karena ketakutan.
"Jadi setelah kejadian sempat disandarkan di tiang depan teras itu, baru kemudian dijemput mobil ambulans," ungkapnya.
F bercerita bahwa Yansyah membeli tanah itu lima bulan lalu. Setelah pembayaran selesai, pembangunan rumah langsung dilakukan.
"Sekarang tinggal finishing lagi, memasang kaca. Jadi setiap hari korban ke sini mengecek tukang bekerja," ujarnya.
Kesibukan bekerja membuat F jarang berinteraksi langsung dengan Yansyah.
Namun, Yansyah beberapa kali bermain di pelataran rumahnya sembari bercerita bahwa ia akan menjadi tetangganya.
"Pernah beberapa kali ngobrol, termasuk istrinya dengan istri saya, kalau ke depan bakal menjadi tetangga. Orangnya ramah, namanya calon tetangga," ungkapnya.
Konflik masalah harta warisan diduga menjadi pemicu terjadinya pembunuhan ini.
Yansyah tewas setelah menderita lima luka tusuk di bagian dada dan badan.
Ia sempat dibawa ke Rumah Sakit Ar-Bunda, namun nyawanya tidak tertolong.
Baca juga: Punya 17 Kendaraan dan 21 Tanah dan Bangunan, Total Harta Kekayaan Bupati Gatut Sunu Kena OTT KPK
Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa berdarah ini bermula saat korban mendapat warisan uang Rp1 miliar yang diduga hasil menjual tanah.
Karena merasa masih ada hubungan keluarga, Farij merasa mempunyai hak atas warisan tersebut dan meminta bagian sebesar 20 persen.
Karena tidak diberi, diduga Farij bersama keluarganya yakni Ariansyah, Ranawati, dan Fedril menemui korban untuk meminta bagian tersebut.
Akhirnya, Farij menusuk korban sebanyak lima kali hingga korban meninggal dunia.
Seorang kerabat korban yang tak ingin disebutkan namanya membenarkan bahwa sebelum peristiwa ini terjadi, Yansyah dan Farij pernah terlibat cekcok mulut karena warisan tersebut.
"Infonya pelaku minta 20 persen, tapi tidak diberi. Kemarin pelaku mendatangi rumah yang tengah dibangun korban, cekcok lagi, lalu korban ditusuk," ungkapnya saat memberikan keterangan pada Sabtu (11/4/2026).
Istri almarhum, Ria, berharap agar pembunuh suaminya dapat segera ditangkap polisi.
"Pelakunya itu empat orang. Saya minta semuanya ditangkap, jangan hanya satu orang," kata Ria, Sabtu (11/4/2026).
Rinciannya, korban mengalami dua tusukan di dada sebelah kanan, dua tusukan di perut sebelah kiri, dan satu tusukan di perut sebelah kanan.
Baca juga: Dikejar Penyidik KPK, Drama Bupati Gatut Sunu Sempat Lari Ketakutan, Sembunyi Meringkuk Dalam Mobil
Kapolres Lubuklinggau, AKBP Adithya Bagus Arjunadi, melalui Kasat Reskrim, AKP Kurniawan Azwar, mengatakan bahwa setelah menerima laporan, Tim Macan Linggau melakukan penyelidikan dengan memeriksa saksi-saksi serta melakukan olah TKP.
Pada Jumat (10/4/2026) sekitar pukul 22.30 WIB, tim mendapatkan informasi bahwa salah satu pelaku berada di Desa Bingin Jungut, Kecamatan Muara Kelingi, Kabupaten Musi Rawas.
Tim Macan Linggau yang dipimpin AKP M. Kurniawan Azwar didampingi Kanit Pidum Ipda Suwarno langsung menuju lokasi.
Setelah melakukan pendekatan kepada keluarga, tim mendapatkan lokasi pelaku di Desa Sungai Pinang, Kecamatan Muara Lakitan.
Di lokasi tersebut, Tim Macan Linggau langsung mengamankan satu orang pelaku.
Setelah diamankan, pelaku mengakui perbuatannya telah melakukan penusukan yang mengakibatkan korban meninggal dunia.
Sugiansyah alias Yansyah (36), warga Desa Muara Tiku, Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), tewas di tangan Farij Pardian Mahardika, yang tak lain adalah sepupunya sendiri.
Peristiwa maut itu diduga berawal dari uang warisan senilai Rp1 miliar yang baru saja diterima korban dari keluarganya.
Peristiwa berdarah itu terjadi ketika Yansyah tengah melihat proses pembangunan rumahnya di Jalan Rawa Makmur, RT 5, Kelurahan Batu Urip, Kecamatan Lubuklinggau Utara II, Kota Lubuklinggau.
Yansyah tewas usai dikeroyok dan ditikam di depan anak-istrinya.
Meski sempat dilarikan ke rumah sakit, nyawanya tidak tertolong.
Di Kota Lubuklinggau, Yansyah mengontrak dan tinggal di Perumahan Permata Permai 17 A, Kelurahan Batu Urip, Kecamatan Lubuklinggau Utara II.
Baca juga: Kesal Belum Bertindak Aksi Bakar Rumah, Kapolda Riau Copot Kapolsek dan Kanit Reskrim Panipahan
Ia tinggal mengontrak di kompleks perumahan itu kurang lebih baru lima bulan terakhir bersama istrinya, Ria, dan kedua anaknya yang masih balita.
Di mata tetangganya, Yansyah dikenal baik dan selalu bersosialisasi dengan tetangga di sekitar kontrakannya.
Bahkan, Lebaran Idulfitri kemarin Yansyah ikut bersama warga kompleks melakukan kunjungan (sanjo) ke rumah-rumah warga.
"Orangnya baik. Kalau dia ada di luar, kami mengobrol. Bertemu di jalan selalu menyapa," ujar Z, tetangga almarhum, kepada Tribunsumsel.com, Minggu (12/4/2026).
Z menceritakan bahwa ia mengetahui korban meninggal dunia pada Jumat (10/4/2026) malam saat istri korban menelepon istrinya dan mengabarkan bahwa Yansyah dikeroyok.
"Malamnya istri almarhum ada di rumah, minta lihatkan rumah karena suaminya meninggal dunia akibat dikeroyok. Mereka pergi ke dusun," ungkapnya.
Namun, siang sebelum kejadian, Z mengaku sempat bertemu dengan korban.
Saat itu, Z melihat korban akan pergi bersama anak dan istrinya menggunakan motor.
Tidak lama kemudian, datang empat orang menggunakan mobil Honda Brio mendatangi kontrakan korban.
Namun, setelah melihat kontrakan itu terkunci, keempat orang tersebut langsung pergi.
(TribunSumsel.com /Eko Hepronis/Bangkapos.com)