Bersiap Menghadapi Perang Lanjutan
Hari Widodo April 13, 2026 07:52 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID- Perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran gagal menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri perang.

Di antara topik yang membuat gagalnya kesepakatan adalah pengaturan Selat Hormuz, program nuklir Iran, dan “pengakhiran total perang di Iran”.

Dalam kasus Selat Hormuz, umpamanya, Iran menyebut Selat Hormuz sebagai perairan kedaulatan Iran. Teheran bahkan menyebut bakal merilis regulasi baru untuk mengatur kapal mana yang boleh dan tidak boleh melintas.

Sementara dengan mengabaikan faktor teritorial Iran, Amerika bersikukuh untuk menguasai Selat Hormuz sebagai jalur perdagangan minyak bumi dan gas bagi sekutu-sekutunya.

Terbaru, Amerika juga telah mengirimkan kapal perang ke selat sempit namun vital tersebut.

Padahal eskalasi ini telah menyebabkan 2.000-an kapal komersial masih tertahan di kawasan perairan tersebut.

Nahasnya lagi, Trump juga mengaku tidak peduli tentang hasil pembicaraan AS-Iran di Pakistan. Dia menegaskan, AS telah keluar sebagai pemenang dari perang tersebut.

Klaim sekaligus framing untuk politik dalam negeri Trump ini tentu memberi dampak signifikan bagi peningkatan suhu politik di Timur Tengah.

Trump secara tidak langsung telah mengabaikan apapun hasil dari perundingan, yang difasilitasi dengan susah payah oleh Pakistan, dan tetap dengan tujuan utamanya.

Trump dengan kesombongannya bisa mengatakan tidak peduli. Namun harap diingat, bahwa perjanjian damai ini bukan semata antara Amerika dengan Iran, melainkan terkait dengan keamanan regional dan jalur minyak bumi dan gas yang sudah sebulan lebih macet.

Dengan gagalnya perundingan damai ini, ada sejumlah kemungkinan yang harus juga diantisipasi Indonesia.

Pertama, berlanjutnya perang dan bahkan mungkin makin brutal dari sebelumnya. Perang mungkin terpusat di Timur Tengah, tapi dampaknya akan kita rasakan langsung, termasuk nantinya musim haji di bulan depan.

Sudah berapa kali Arab Saudi, yang menjadi tempat bermarkasnya pasukan Amerika Serikat, juga menjadi sasaran rudal jarak jauh dan drone Iran.

Bila perang masih berlanjut, bukan tidak mungkin serangan ke Arab Saudi masih akan terus dilakukan Iran dan ini bisa menjadi ancaman bagi berlangsungnya prosesi ibadah haji.

Dan kedua, karena perang berlanjut, Indonesia harus menyiapkan bantalan ekonomi yang lebih kuat, mengingat Timur Tengah masih menjadi pusat dari suplai energi dunia berupa minyak bumi dan gas.

Indonesia saat ini memang berhasil menahan gejolak kenaikan harga BBM. Meski demikian kita sendiri tidak tahu sampai sejauh mana kesanggupan pemerintah menahannya dengan subsidi mengingat kurs rupiah yang juga terus melemah.

Lihat saja komoditas impor lain pun sudah babak belur seperti plastik dan kedelai. Bisa disebut bahwa kebuntuan diplomatik antara kedua belah pihak ini bukan semata memicu kekhawatiran meluasnya disrupsi energi, tetapi juga ancaman terhadap ketahanan pangan dunia. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.