Karya Sastra Dan Perjuangan Hak-Hak Perempuan
Sudirman April 13, 2026 11:05 AM

Oleh: Andi Yahyatullah Muzakkir

Komite Sastra Dewan Kesenian Sulsel

TRIBUN-TIMUR.COM - Beberapa pekan yang lalu, saya menghadiri giat literasi yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Sastra (HMPS SASINDO) Universitas Negeri Makassar. Kegiatan yang saya hadiri ini cukup meriah dan sangat antusias.

Kegiatan ini bertajuk Literasi Pena dengan tema “Perempuan Dalam Sastra Indonesia: Antara Suara yang dibungkam dan ruang yang diperjuangkan.

Pengurus dan para kader yang mengikuti kegiatan ini memiliki banyak pertanyaan yang cukup subtansi, menyoal feminisme, kesetaraan hak-hak perempuan terkhusus sekali dalam kehidupan sosial dan peranannya dalam dunia sastra.

Ringkasnya, kajian ini berjalan penuh dialektika, penuh kegelisahan, tanya jawab tak henti, lalu selesai karena waktu petang telah menghampiri. 

Dalam kajian ini, saya berpikir bahwa memang sudah menjadi keharusan oleh anak muda dan mahasiswa yang bergelut di dunia sastra, dunia kepenulisan mesti banyak mendorong isu-isu serius, pokok-pokok pikiran, ide-ide dan gagasan tentang perempuan.

Tentang Sastra

Secara umum sastra dapat diartikan sebagai media ekspresi diri dari pengalaman dan kehidupan manusia melalui bahasa.

Olehnya, sastra bukan hanya sekedar tulisan melainkan cerminan terdalam manusia. Melalui sastra manusia mengungkapkan emosi seperti cinta, rindu, kemarahan dan kesedihan.

Dengan demikian, sastra meliputi puisi, prosa, novel, cerpen, drama (teater) dan seterusnya.

Dalam studi ilmiah, membaca karya sastra dipandang sebagai sarana atau terapi positif mengatasi stres dan kecemasan.

Olehnya itu, semangat mendorong karya sastra adalah sesuatu yang mulia terhadap kemanusiaan.

Literasi pena yang berlangsung ini cukup mendalam, paparan-paparan materi kajian cukup kompatibel dan subtansi karena teman-teman dari SASINDO juga membenturkan dengan teori-teori sastra, bacaan karya sastra yang didapatkannya pada saat di kelas.

Sehingga pada dialektika ini cukup beragam dan padat.

Di sini mereka meminta saya untuk mengulas karya sastra dan kaitannya tentang perjuangan hak-hak perempuan.

Perempuan Dan Sastra

Dalam sejarah sastra hadir penulis-penulis perempuan yang umumnya menyuarakan perlawanan atas diskriminasi.

Gerakan perempuan umumnya juga menggunakan sastra sebagai sarana perjuangan.

Seperti Nawal el Sadawi dari Mesir, di Indonesia hadir penulis-penulis perempuan seperti Ayu Utami, Dee Lestari, Ratih Kumala, Linda Christanty dan seterusnya.

Dalam beberapa karya sastra yang saya ulas, penekanan paling penting adalah bahwa karya sastra memang mestinya mendorong isu-isu perempuan, perjuangan hak dan kesetaraan gender.

Seperti misalkan, Gadis Kretek karya Ratih Kumala, menciptakan karakter Dasiyah atau Jeng Yah. Dalam karyanya sangat mencerminkan karakter perempuan yang memiliki prinsip, pengetahuan, tekad, kecerdasan dan semangat untuk ikut andil dan tampil di ruang sosial secara umum.

Dalam karya ini Dasiyah atau Jeng Yah ingin mengambil peranan layaknya bapaknya dengan membuat saus tembakau atau meracik saus yang pada pandangan umumnya tugas itu hanya bisa dilakukan oleh laki-laki.

Sekaligus menjadi penanda bahwa Dasiyah mencoba membuktikan dirinya dari dominasi laki-laki dan perlawanan terhadap patriarki.

Kemampuan Dasiyah atau Jeng Yah membantah itu semua dengan membuat saus tembakau yang sangat nikmat disesap hingga menjadi cikal bakal lahirnya kretek gadis yang sangat populer pada tahun 1960an, seperti yang diulas Ratih Kumala dalam karyanya.

Dalam karya lain, perjuangan perempuan yang juga sangat kuat seperti yang dipaparkan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya Tetralogi Pulau Buru.

Karakter Nyai Ontosoroh ibu dari Annelies Mellema cukup menggambarkan bahwa perempuan yang terdidik dengan baik, terdidik dengan bacaan baik mampu tampil di ruang publik sebagai pemimpin, pengelola dan pengatur perusahaan, memiliki prinsip yang kuat khususnya dalam membela hak-hak yang dipandangnya benar.

Olehnya itu, peranan sastra dan perempuan sangatlah penting dalam hal penyebaran narasi, penciptaan pola pikir dan cara pandang bahwa perempuan mesti memperjuangkan hak-haknya, mesti memiliki kesadaran bahwa ia setara dan bisa ikut andil dalam mengambil peranan-peranan penting dalam ruang publik.

Terakhir, dalam kajian kita ini saya mendorong bahwa di Sulawesi Selatan, Bugis-Makassar pada khususnya kita memiliki sejarah panjang, sejarah kebanggaan, karya sastra kita adalah karya sastra terbaik dan terpanjang yang pernah ada yakni “I La Galigo.”

Dengannya mesti menjadi spirit, kebangkitan kembali dalam menata ulang kesadaran kita, bahwa mesti mendorong semangat penciptaan dan mencipta karya sastra.

Terkhusus isu-isu subtansi yang didorong adalah mencipta karya sastra yang sarat dengan muatan kemanusiaan, isu-isu kelokalan, keadilan serta ikut mendorong perjuangan hak-hak dan kesetaraan perempuan dalam karya sastra

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.