International Symposium of Javanese Culture 2026 Keraton Yogyakarta dan Pembuktian Para Peneliti Muda
Moh. Habib Asyhad April 13, 2026 02:34 PM

Keraton Yogyakarta sukses menyelenggarakan International Symposium of Javanese Culture 2026. Sekitar 500 peserta, baik daring maupun luring, antusium mengikuti tiap pemaparan yang disampaikan presenter.

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Keraton Yogyakarta berhasil menggelar International Symposium of Javanese Culture 2026 dengan sukses. Selain dihadiri oleh sekitar 500-an peserta dari berbagai latar belakang, baik luring maupun daring, forum ilmiah yang diselenggarakan pada 11-12 April 2026 di The Kasultanan Ballroom Royal Ambarukmo Yogyakarta, Sleman, DIY, itu juga menjadi ajang para peneliti muda.

Tak sekadar diberi kesempatan, para peneliti muda itu memang memiliki kualitas. Paper-paper yang mereka presentasikan menawarkan sudut pandang yang lebih menarik dibanding paper-paler lain.

“Yang menarik dari simposium kedelapan ini adalah didominasi oleh anak muda. Meski begitu, kami menetapkan standar yang tinggi. Bahkan dalam review terakhir, para reviewer melakukan cros-review untuk memastikan bahwa paper yang akan dipresentasikan benar-benar menarik dan layak,” terang Penghageng Kawedanan Tandha Yekti yang sekaligus ketua panitia, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu.

Pada simposium tahun ini, tema yang diangkat Keraton Yogyakarta adalah "Architecture, Spatial Planning, and Territory of The Sultanate of Yogyakarta". Simposium internasional ini juga sebagai rangkaian dari Peringatan Ulang Tahun ke-37 Kenaikan Takhta atau Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Bawono ka-10 dan GKR Hemas dalam tahun masehi.

Menurut GKR Hayu, pemilihan tema ini terkait beberapa hal, di antaranya Sumbu Filosofi Yogyakarta yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO. "Juga terkait dengan amanat Undang-undang Keistimewaan Yogyakarta tahun 2012 yang di dalamnya menyangkut urusan pertanahan dan tata ruang," tambahnya.

Dibuka dengan Beksan Kuda Gadhingan

Menurut keterangan GKR Hayu ketika konferensi pers, salah satu pertimbangan dalam menentukan tema simposium adalah apakah tema itu bisa ditarikan. Sempat bingung, Keraton akhirnya memutuskan, simposium ini akan dibuka dengan penampilan Beksan Kuda Gadhingan.

Menurut KMT Suryawasesa, Wakil Penghageng Kawedanan Kridhamardawa Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Beksan Kuda Gadhingan dipilih karena selaras dengan tema terkait arsitektur. “Sebab, dalam tarian ini ada suatu gerakan yang tercipta yang terinspirasi dari ornamen tunjung teratai di uleng pendapa Bangsal Kasatriyan,” jelasnya.

Tak hanya itu, dalam tarian ini terdapat filosofi kiblat papat lima pancer yang juga ditemui dalam tata ruang di Kesultanan Yogyakarta.

Standar tinggi untuk paper yang lolos

Ada 132 proposal paper yang masuk di tahap awal. Proposal-proposal yang masih dalam bentuk abstrak itu kemudian diseleksi secara ketat oleh tim editor dan reviewer lintas negara. Tak sekadar menyeleksi, para reviewer itu juga memberikan bimbingan dan konsultasi.

Karena standar yang diberlakukan cukup tinggi, maka, menurut GKR Hayu, seleksi paper-paper itu dibagi menjadi dua tahap. “Di mana tahap pertama pure kita pasrahkan kepada reviewer. Jadi saya nggak ikut cawe-cawe dalam proses pemilihannya,” ujar GKR Hayu.

Di tahap ini, ada 20 abstrak yang lolos. Kemudian, para pengaju yang abstrak paper-nya lolos 20 besar ini diberi kesempatan untuk menuliskan di mana ada proses konsultasi dengan para reviewer di sini. Dari 20 itulah kemudian dipilih 9 paper yang akhirnya dipresentasikan dalam simposium yang berlangsung selama dua hari kemarin itu.

“Kami tidak memilih berdasarkan kuota. Jika tidak terpilih dan jumlah pembicara nggak cukup, ya sudah, kita isi dengan yang lain … Jadi, standar yang kami berikan memang benar-benar tinggi,” jelas GKR Hayu.

Penghageng KHP Nitya Budaya Keraton Yogyakarta GKR Bendara menambahkan bahwa selama simposium, Keraton berusaha mengangkat sisi yang belum pernah atau jarang diulas oleh pihak lain. “Ini yang membuat simposium Keraton – juga pameran yang dilangsungkan berbarengan – memiliki nilai tambah lebih dari segi akademiknya,” ujar putri ke-5 Sri Sultan Hamengku Bawono X itu.

Tak hanya para peneliti terpilih, simposium ini juga menghadirkan pembicara dari Kawedanan Widyabudaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat dan dua pembicara tamu dari organisasi pemerintah daerah (OPD) terkait seperti Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY dan Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Kundha Niti Mandala sarta Tata Sasana) DIY.

Pemaparan paper-paper karya ilmiah dibagi dalam empat sesi di mana tiap-tiap sesi menghadirkan satu keynote speakers yang juga reviewer.

Sesi pertama dengan sub-tema “Sejarah dan Politik” dengan keynote speaker Prof Koji Miyazaki, professor emeritus dari Foreign Studies, Tokyo University. Yang menjadi moderator sesi ini adalah Prof. Dr. Drs. RM. Pramutomo, M.Hum, profesor etnokoreologi dari Institut Seni Indonesia Surakarta.

Di sesi ini adalah dua presenter peserta call for paper, Rizky Ramadhani Satrio Wibisono, S.Ark., dengan makalah berjudul “The Effectiveness of Baluwarti Fort in The Geger Sepoy (1812): A Battlefield Archaeology Review” dan Saifuddin Alif Nurdianto, M.Pd, dengan penelitian berjudul “Kartografi Kritis Sumbu Filosofi Yogyakarta: Negosiasi Kosmologi Jawa dan Tata Ruang Kolonial Abad 19-20”. Juga ada satu pembicara tamu dari Kawedanan Widyabudaya Keraton Yogyakarta yaitu MB. Widyasastra Rajasa yang membahas “Ratu Adhedhampar Laku: Kosmologi Ruang dalam Prosesi Boyong Kedhaton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat”.

Lalu di sesi kedua, sesi “Seni, Literatur, dan Pertunjukan”, menghadirkan keynote speaker Dr Verena Meyer, yang adalah assistant professor of Leiden Institute of Area Studies (LIAS) di Universitas Leiden, Belanda.

Dimoderatori oleh Prof. Dr. Setiadi, S.Sos., M.Si, yang merupakan Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, sesi ini menyuguhkan tiga presenter terpilih yaitu Anastasia Melati Listyorini, S.Sn., M.Hum dengan risetnya berjudul “From Sacred Pavilion to Cultural Stage: Court Dance and the Rearticulation of Royal Space at Keraton Yogyakarta”, Muhammad Faiz, S.Ark., M.A., dengan “Floating Pavilion in A Pleasure Garden: The Depiction of A Palace Garden in Panji Jayakusuma (MSS Jav. 68)” dan Thibburuhany, M.Sos., dengan penelitian berjudul “Aktivasi Arsip dan Media Imersif Pelestarian Nilai Filosofis Tata Ruang Kasultanan Yogyakarta”. Ini di hari pertama.

Lalu di hari kedua, juga ada dua sesi. Sesi pagi dengan sub-tema “Arsitektur” menghadirkan Dr Hélène Njoto Feillard, sejarawan seni dan arsitektur serta associate researcher (perwakilan Jakarta) untuk pusat penelitian École française d'Extrême-Orient (EFEO). Sebagai moderator, Rektor Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta, Dr.-Ing, Wiyatiningsih, S.T., M.T..

Dalam keynote speech-nya, Dr. Hélène Njoto Feillard memaparkan bahwa sebenarnya keberadaan Alun-Alun Selatan merupakan suatu perspektif baru yang ditawarkan di era Kesultanan Yogyakarta, sebab di masa-masa terdahulu seperti Majapahit, Demak, Mataram Kerta dan sebagainya, Alun-Alun Selatan tak ada padanannya.

“Keberadaan Alun-Alun Selatan ini nampaknya hadir untuk menandingi keberadaan benteng-benteng VOC, sebagai satu legitimasi,” jelasnya, sebagai pengantar untuk tiga pembicara selanjutnya.

Sesi pertama hari kedua ini menghadirkan dua presenter terpilih dari call for paper yaitu M. Yaser Arafat, M.A., dengan presentasi berjudul “Arsitektur, Rupa, dan Ragam Hias Makam-makam Tua di Pasareyan Kagungan Dalem Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat” dan Rahmadi Fajar Himawan, S.Sos., dengan “’Kini Dipagari’: Alun-Alun Utara Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat dalam Transisi Memori Kolektif”. Juga ada satu pembicara tamu dari Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY yaitu Dian Lakhsmi Pratiwi, S.S., M.A., dengan pemaparan berjudul “Preserving the Architectural Character of Heritage Areas in Yogyakarta”.

Menjelang sesi kedua hari kedua, ada sesi “Keraton Updates” yang menjadi ajang sosialisasi terkait aturan penggunaan tanah kasultanan yang dipandu oleh MJ. Purwokawindra (Dony Hendro Cahyono, S.H., M.H.) dari Kawedanan Ripta Kawindra sebagai moderator. Sedangkan pembicara untuk sesi ini adalah GKR Hayu sebagai Wakil Penghageng KHP Dhatu Dana Suyasa dan KRT Suryo Satriyanto selaku Penghageng Kawedanan Panitikisma.

Dalam pemaparannya, GKR Hayu menegaskan bahwa sudah menjadi kewajiban Keluarga Keraton untuk memastikan semua bangunan keraton tetap ada sampai generasi selanjutnya dengan makna dan nilai yang sebenar-benarnya. “Bukan sebagai tempat untuk ngonten, misalnya, atau tempat jadi jagoan, dan sebagainya,” tuturnya terkait Alun-Alun Utara yang dipagari dan Plengkung dan Benteng yang ditutup untuk revitalisasi.

Sesi terakhir adalah sesi “Tata Ruang dan Lansekap” di mana yang menjadi keynote speaker adalah Prof Ir. Bakti Setiawan, MA, PhD, professor di bidang Perencanaan Kota dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

Sebagai moderator, Dekan Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta 2018-2023 Dr. Y. Sari Murti Widiyastuti, S.H., M.Hum., yang kini menjadi salah satu tim hukum Keraton Yogyakarta. Sebagai presenter adalah peneliti Malaysia, Asst. Prof. Ts. Dr. Irina Safitri Zen dari International Islamic University Malaysia dengan judul penelitian “Yogyakarta Axis Continuity: Temporal-Spatial Comparison with Beijing and Paris’ dan Nuzuli Ziadatun Ni’mah, S.T., M.A., dengan riset berjudul “Walking Tours as Placemaking Strategy: Constructing Spatial Narratives in Jeron Beteng Yogyakarta”.

Sesi ini ditutup dengan pemaparan dari Kepala Dispertaru DIY, Adi Bayu Kristanto, S.H., M.Hum., yang berjudul “Tata Ruang Keistimewaan DIY melalui Pengelolaan Satuan Ruang Strategis (SRS) dalam Penetapan Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2023”.

International Symposium of Javanese Culture 2026 ditutup oleh putri kelima Sultan, GKR Bendara. Penghageng Kawedanan Nitya Budaya ini juga mengumumkan tema untuk simposium tahun depan. Kenapa diumumkan jauh-jauh hari, harapannya, “Mampu mendorong para peneliti dan peminat kajian budaya Jawa untuk mempersiapkan abstrak dengan baik pada bulan April-Juli. Sehingga pada saat call for paper dibuka pada Agustus-September sudah memiliki konsep tulisan atau penelitian yang dapat meyakinkan para reviewer,” ujarnya.

Adapun tema tahun depan adalah “Tata Nilai dan Pendidikan di Kasultanan Yogyakarta”. Jadi, siapkan diri Anda untuk International Symposium of Javanese Culture Keraton Yogyakarta tahun depan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.