Kapal Perang AS Nekat Nyamar Jadi Kapal Oman Demi Masuk Selat Hormuz, Langsung Dikunci Rudal Iran
Fadhila Rahma April 13, 2026 04:27 PM

 

SRIPOKU.COM - Dua kapal perusak milik Amerika Serikat (AS) gagal memasuki Selat Hormuz pada Sabtu (11/4/2026) lalu usai perundingan pada Minggu, 12 April 2026, dilaporkan gagal. 

Iran marah besar, sebab di saat bersamaan berlangsung negosiasi di Islamabad, Pakistan, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, justru memerintahkan pengiriman kapal perang ke Selat Hormuz.

Dua kapal perang AS yang dikirim ke Selat Hormuz adalah USS Frank E. Peterson dan USS Michael Murphy.

Trump berdalih langkah tersebut dilakukan untuk membersihkan ranjau.

Tak pelak, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) geram dan langsung menyiagakan sistem rudal ganda dengan daya ledak yang diklaim bisa meningkat hingga dua kali lipat.

Iran pun menegaskan bahwa AS tidak memiliki kuasa atas Selat Hormuz.

Pada Sabtu (11/4/2026), Iran melalui tayangan di PressTV ungkap bukti kapal milik AS terusir dari Selat Hormuz setelah diperingatkan oleh Iran.

USS Michael Murphy (DDG 112) dan USS Frank E. Peterson (DDG 121) milik AS sebelumnya berusaha melintas di Selat Hormuz.

Kedua kapal itu gagal melintas setelah dicegat dan dipaksa mundur oleh pasukan angkatan laut Iran.

"Aksi transit kapal perusak AS di Selat Hormuz gagal, hampir menyebabkan kehancuran.

Klaim komandan CENTCOM mengenai pendekatan dan masuknya kapal Amerika ke Selat Hormuz dibantah keras," ungkap pernyataan PressTV.

Baca juga: Sikap Trump Asyik Nonton UFC saat Perundingan As-Iran Gagal Total, Negosiasi 21 Jam Berakhir Buntu

PERANG IRAN VS AS - Capture video PressTV menampilkan kapal milik Amerika Serikat diusir Iran dari Selat Hormuz ( (Tangkapan Layar/Tangkapan layar X/@PressTV)

Klaim Berbeda dari AS

Hal ini berbeda dengan pengakuan militer AS.

 Sebelumnya, dikutip dari Reuters, Komando Pusat militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengeklaim bahwa dua kapal perusak Angkatan Laut AS telah beroperasi di Selat Hormuz dalam rangka misi pembersihan ranjau laut.

Pernyataan saling bantah ini muncul di tengah gagalnya perundingan 'damai' AS dan Iran di Pakistan kemarin.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Setiap perkembangan di kawasan ini berpotensi memengaruhi perdagangan global dan harga energi.

Dengan adanya klaim dan bantahan dari kedua pihak, situasi di Selat Hormuz pun semakin memanas dan berisiko memperburuk ketidakpastian di pasar energi global.

Hampir dirudal Iran, menyamar jadi kapal Oman
Investigasi Press TV menulis dua kapal perusak itu hanya berjarak beberapa menit dari rudal Iran.

 
Disebutkan rudal jelajah Iran telah mengunci target pada kapal tersebut dan drone penyerang telah dikerahkan.

Dari video yang ditampilkan, militer Iran telah memperingatkan kapal itu menjauh.

Kapal-kapal perusak tersebut hanya diberi waktu 30 menit untuk berbalik segera berlalu.

"Mereka telah mencoba menggunakan taktik perang elektronik, termasuk mematikan sistem pelaporan posisi mereka, dalam upaya untuk mengelabui pasukan angkatan laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC)". 

IRGC mengatakan kapal perang AS itu berusaha mengelabuai Iran dengan menyamar kapal komersial milik Oman.

Kapal-kapal perusak juga memilih rute yang sangat dekat dengan pantai dan melalui perairan dangkal, mengambil risiko tinggi untuk melewati rute ini dan memasuki Teluk Persia.

Kapal itu berharap bisa mengelabui militer Iran.

Namun, pasukan angkatan laut IRGC, saat berpatroli di sekitar Fujairah, telah mendeteksi penipuan tersebut dan mengambil tindakan cepat.

USS Frank Peterson awalnya mencoba melanjutkan perjalanannya, tetapi segera menyadari bahwa radar rudal jelajah telah menguncinya, dan dihentikan oleh kapal-kapal IRGC.

Bersamaan dengan itu, drone IRGC terbang di atas kedua kapal perusak tersebut.

Karena kapal perusak itu bersikeras untuk melanjutkan perjalanan, peringatan terakhir dikeluarkan kepadanya, sehingga kapal perusak itu hanya tinggal beberapa menit lagi dari kehancuran.

Menurut penyelidikan, percakapan antara operator angkatan laut IRGC dan kapal perusak Amerika menunjukkan kepatuhan penuh mereka terhadap peringatan IRGC.

Berdasarkan hasil investigasi, operasi kedua kapal perusak AS tersebut gagal dan tidak berhasil mencapai kedua tujuan tersebut.

Helikopter pendukung juga terbang di atas kapal perusak tersebut.

Bersamaan dengan peringatan kepada kedua kapal perusak ini, semua kapal di area tersebut diperingatkan untuk tetap berada setidaknya 10 mil jauhnya dari mereka agar tidak terkena imbas jika mereka menjadi sasaran IRGC.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.