Teluk Kuantan Tenggelam Oleh Sampah, Kuansing Krisis Kebersihan
Firmauli Sihaloho April 13, 2026 04:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM,KUANSING - Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) harus menelan pil pahit setelah dipastikan gagal meraih Piala Adipura tahun 2025.

Penghargaan bergengsi di bidang kebersihan itu lepas, menandai kemunduran serius wajah Kota Telukkuantan.

Padahal, Kuansing sempat mencicipi manisnya Adipura pada 2017 dan kembali meraihnya pada 2023.

Namun kini, prestasi itu seolah tinggal kenangan, tergantikan dengan kondisi kota yang dinilai jauh dari standar kebersihan nasional.

Pengumuman resmi dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) pada Februari 2026 memastikan Kuansing tidak masuk dalam daftar penerima.

Fakta ini menjadi tamparan keras bagi pengelolaan kebersihan daerah.

“KLH telah umumkan hasil penilaian tahun 2025 pada Februari 2026 lalu, Kuansing tidak masuk daftar,” ujar Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kuansing, Delis Martoni, Senin (13/4/2026).

Kegagalan ini bukan tanpa sebab. Di lapangan, kondisi Telukkuantan memperlihatkan realita yang kontras dengan predikat kota bersih.

Sampah terlihat menumpuk di berbagai titik strategis kota.

Baca juga: Truk CPO Nyaris Terguling di Jalan Rusak Tapung Kampar, Netizen: Dekat Rumah Anggota DPR dan Kades

Baca juga: DPRD Pekanbaru Dapat Laporan Pemilihan RT RW di Rumbai, Syamsul: Jangan Kangkangi Perwako

Mulai dari Jalan Proklamasi di depan Pasar Modern hingga kawasan Lapangan Limuno, tumpukan sampah menjadi pemandangan yang sulit dihindari.

Bahkan, tong-tong sampah di pinggir jalan tak lagi mampu menampung volume yang terus meningkat.

Situasi ini memperkuat penilaian bahwa Telukkuantan belum mampu memenuhi indikator utama Adipura, terutama dalam hal pengelolaan sampah dan kebersihan lingkungan.

Di sisi lain, DLH Kuansing mengakui keterbatasan menjadi hambatan utama.

Jumlah petugas kebersihan yang hanya 201 orang, termasuk sopir, dinilai belum sebanding dengan beban kerja di lapangan.

Armada pengangkut sampah pun jauh dari ideal. Saat ini hanya tersedia enam dump truk, delapan kendaraan roda tiga, dan satu unit pikap untuk melayani seluruh wilayah.

Padahal, produksi sampah di Telukkuantan mencapai sekitar 30 ton per hari.

Ketimpangan antara volume sampah dan fasilitas pengangkutan membuat penanganan tidak maksimal.

Persoalan anggaran turut memperparah keadaan. Dalam setahun, DLH hanya mengelola sekitar Rp10 miliar, angka yang jauh di bawah standar ideal yang direkomendasikan KLH.

“Kalau APBD kita sekitar Rp1,4 triliun, seharusnya pengelolaan sampah bisa mencapai Rp40 miliar. Tapi kita belum sanggup,” kata Delis.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.