BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Orang tua dari siswa yang diduga menjadi korban perundungan di salah satu pondok pesantren di Kabupaten Bangka mendatangi SPKT Mapolda Babel, Senin (13/4/2026) siang.
Dari pantauan Bangkapos.com, di dalam SPKT Polda Babel hingga pukul 14.03 WIB, terlihat ada dua orang tua siswa yang sedang berada dalam gedung SPKT Mapolda Babel.
Namun, belum diketahui secara detail berapa banyak orang tua siswa yang membuat laporan ke Polda Babel dan awak media masih menungu.
Seorang siswa kelas 1 SMA berinisial AH (16), warga Kabupaten Bangka diduga menjadi korban perundungan dan kekerasan fisik oleh seniornya di lingkungan pesantren.
Saat ini, korban tengah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Kalbu Intan Medika, Senin (13/4/2026).
AH tampak terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan sejumlah alat medis terpasang di tubuhnya, termasuk alat pemantau jantung dan infus.
Beberapa bagian tubuhnya terlihat mengalami memar, terutama di area dada.
Kepada Bangkapos.com, AH menceritakan peristiwa yang dialaminya terjadi pada Sabtu (11/4/2026) malam di lingkungan pesantren, Kabupaten Bangka.
Menurut pengakuannya, malam itu seluruh siswa kelas 1 SMA dikumpulkan oleh kakak kelas.
Siswa yang dianggap melakukan pelanggaran kemudian dipisahkan, termasuk dirinya yang saat itu dalam kondisi sakit.
"Saya dibilang pura-pura sakit hari itu, padahal sudah izin. Jadi itu termasuk pelanggaran kata mereka," ujar AH kepada Bangkapos.com, Senin (13/4/2026).
Ia mengaku kemudian dibawa ke lokasi gelap dengan lampu dimatikan.
Di tempat tersebut, AH mengalami tindakan kekerasan yang diduga dilakukan oleh dua orang senior, sementara beberapa lainnya berada di sekitar lokasi.
"Saya dijambak, dibenturkan ke dinding, tangan dipegang, dada dipukul pakai rantai. Saya juga ditonjok di perut dan dada sampai sesak dan muntah," ungkapnya.
Dalam kondisi lemah, AH mengaku tidak berani melawan karena jumlah pelaku lebih banyak. Setelah kejadian tersebut, ia dibawa kembali ke kamar oleh teman-temannya.
Keesokan hari Minggu (12/4/2026), saat seorang Ustaz melakukan pemantauan, AH baru menceritakan sebagian kejadian yang dialaminya.
Meski demikian, menurut pengakuannya, ia tidak langsung mendapatkan penanganan medis.
"Bukannya dibawa berobat, saya malah dicukur botak karena dianggap melanggar aturan karena minggu kemarin ada acara keluarga jadi saya izin," katanya.
Baru setelah Ustaz lain melihat kondisi AH yang semakin memburuk, lemas dan mengalami sesak napas. Ia kemudian dibawa ke klinik sebelum akhirnya dirujuk ke rumah sakit.
Kini, AH masih merasakan nyeri dan sesak di bagian dada akibat kejadian tersebut. Ia juga menyatakan tidak ingin kembali ke pesantren.
"Saya takut dan kecewa. Saya tidak mau sekolah di sana lagi, ingin pindah ke sekolah umum," ujarnya.
Ibu korban, Alusna (44) mengaku terpukul saat mengetahui kondisi anaknya.
Ia mendapatkan kabar pada Minggu siang dan langsung menuju rumah sakit.
"Tubuh saya gemetar dengar anak saya diperlakukan seperti itu. Saya titipkan anak untuk dijaga, tapi malah ditelantarkan," katanya.
Alusna juga menyayangkan sikap pesantren yang dinilainya tidak sigap dalam memberikan pertolongan kepada anaknya.
"Anak saya sudah bilang sakit dan dipukul, tapi tidak langsung dibawa berobat. Justru dicukur dulu. Di mana kepeduliannya?" ucapnya.
Ia menegaskan tidak akan mengizinkan anaknya kembali ke pesantren tersebut.
(Bangkapos.com/Adi Saputra)