Layanan Kesehatan Primer Disorot IDAI, Jadi Penyebab Penyakit Menular Anak Muncul Lagi
willy Widianto April 13, 2026 05:19 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kembalinya penyakit menular seperti campak dan polio di kalangan anak-anak tidak hanya mencerminkan menurunnya cakupan imunisasi, tetapi juga membuka persoalan yang lebih mendasar dalam sistem kesehatan Indonesia: melemahnya layanan kesehatan primer. Di tengah pesatnya pembangunan fasilitas kesehatan tingkat lanjut, perhatian terhadap layanan dasar yang seharusnya menjadi fondasi justru dinilai kian terpinggirkan padahal dari sanalah upaya pencegahan dan perlindungan kesehatan masyarakat seharusnya dimulai.

Baca juga: Penyakit Campak dan Polio Bangkit Lagi, Dokter Piprim: Bukti Bahwa Imunisasi Gagal!

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Piprim Basarah Yanuarso, menilai kondisi ini sebagai peringatan serius yang tidak boleh diabaikan. Ia menyoroti adanya pergeseran fokus pembangunan kesehatan yang cenderung mengutamakan layanan tersier, sementara penguatan layanan primer berjalan tidak optimal.

“Kalau pertanyaannya bagaimana mengatasi campak, polio dan sebagainya itu, ya kembali ke ayo galakan kembali program imunisasi, kuatkan kembali layanan kesehatan primer,” ujarnya usai acara Penanganan Emergensi pada Anak dan Pelatihan Praktis untuk Jurnalis yang diselenggarakan IDAI di Jakarta, Senin (13/4/2026).

Menurutnya, peran posyandu sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat kini tidak mendapatkan perhatian yang memadai. Kader posyandu yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam mendukung program imunisasi dan pemantauan kesehatan anak justru menghadapi berbagai keterbatasan, termasuk minimnya dukungan insentif.

Di sisi lain, fungsi puskesmas juga dinilai mulai bergeser. Alih-alih menjadi pusat layanan promotif dan preventif, puskesmas kini lebih banyak berfokus pada layanan kuratif atau pengobatan. Akibatnya, deteksi dini berbagai penyakit pada anak menjadi tidak optimal.

Padahal, banyak penyakit sebenarnya dapat dicegah sejak awal jika layanan kesehatan dasar berjalan dengan baik dan konsisten. Lemahnya layanan primer ini turut diperparah oleh kurangnya edukasi kesehatan kepada masyarakat, yang berdampak pada rendahnya kesadaran terhadap pentingnya imunisasi maupun pengobatan rutin.

Sebagai contoh, dr Piprim mengungkap masih ditemukannya kasus anak dengan infeksi cacing berat kondisi yang seharusnya dapat dicegah dengan intervensi sederhana berupa pemberian obat cacing secara berkala.

“Itu kan kalau layanan primernya bagus, insya Allah itu terdeteksi dari awal. Soalnya obat cacing kan sudah ada, diberikan tiap 6 bulan pada anak-anak,” jelasnya.

Namun fakta di lapangan menunjukkan masih banyak anak yang tidak mendapatkan intervensi dasar tersebut. Hal ini, menurutnya, menjadi bukti bahwa sistem layanan kesehatan primer belum berjalan secara optimal.

Lebih jauh, ia juga menyoroti capaian Indonesia yang dinilai memprihatinkan dalam kasus penyakit menular seperti campak dan tuberkulosis (TBC). Menurutnya, tingginya angka kasus tersebut seharusnya menjadi bahan evaluasi serius, bukan sekadar data statistik.

“Indonesia juara dua campak, TBC. Itu kan menurut saya bukan prestasi yang membanggakan ya, itu sesuatu yang harus membuat kita menata ulang kembali sistem pelayanan kesehatan kita,” tegasnya.

Program Baik Ikut Tidak Dipercaya

Selain persoalan layanan, dr Piprim juga menyoroti krisis kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah yang turut memperburuk situasi. Fenomena trust issue ini semakin menguat, terutama di tengah derasnya arus informasi di media sosial.

Baca juga: Wamenkes: Semua Dokter Internship di Seluruh Indonesia Dapat Vaksinasi Campak

“Di samping itu juga trust issue ke pemerintah. Orang ketika tidak percaya dengan pemerintah termasuk Kementerian Kesehatan, program yang baik pun ikut-ikutan tidak dipercaya,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat mulai meragukan pentingnya imunisasi, bahkan cenderung menganggap remeh penyakit menular. Padahal, imunisasi merupakan kunci utama dalam mencegah penyebaran penyakit seperti campak dan polio.

Ketika kepercayaan menurun, partisipasi masyarakat dalam program kesehatan pun ikut terdampak. Hal ini semakin memperparah kondisi layanan kesehatan primer yang sudah lemah.

Dr Piprim menegaskan bahwa situasi ini harus menjadi alarm keras sekaligus momentum bagi semua pihak untuk berbenah. Ia mengingatkan bahwa pembangunan kesehatan tidak bisa hanya bertumpu pada fasilitas besar atau teknologi canggih, tetapi harus dimulai dari penguatan layanan dasar.

Fokus pada upaya promotif dan preventif dinilai menjadi kunci utama untuk melindungi anak-anak Indonesia dari ancaman penyakit yang sebenarnya dapat dicegah.

Baca juga: Epstein Files: Bill Gates Disebut Kena Penyakit Menular Seksual dari Gadis-gadis Rusia

Jika tidak segera dilakukan perbaikan menyeluruh, ia mengingatkan bahwa siklus kemunculan penyakit menular akan terus berulang—dan pada akhirnya, generasi masa depanlah yang akan menanggung dampaknya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.