BANGKAPOS.COM -- Iran masih menyimpan ribuan rudal siap luncur di bawah tanah.
Iran masih memiliki ribuan rudal balistik dalam persenjataannya.
Persediaan tersebut dapat dikerahkan dengan mengambil peluncur dari area penyimpanan bawah tanah.
Kekuatan militer Iran ternyata masih terlalu perkasa meski Amerika dan Israel meluncurkan serangan masif.
Melansir Tribunnews, Badan intelijen Amerika Serikat (AS) memperkirakan, Iran masih memiliki ribuan rudal balistik, walaupun sudah diserang AS-Israel.
Baca juga: Warisan Rp1 M Berujung Maut, Yansyah Tewas Depan Istri dan Anak, Pelaku Diduga Minta Jatah 20 Persen
Rudal balistik tersebut, menurut Badan Intelijen AS siap diluncurkan dari fasilitas bawah tanah, menurut laporan pada Sabtu (11/4/2026).
Penilaian ini menegaskan bahwa kemampuan militer Iran belum sepenuhnya lumpuh, meskipun serangan intensif terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Sejumlah sumber intelijen AS juga mengkhawatirkan bahwa Iran dapat memanfaatkan momentum gencatan senjata untuk membangun kembali stok rudalnya, mengutip Haarezt, Minggu (12/4/2026).
Selain itu, mengutip CNN, terungkap indikasi bahwa China tengah bersiap mengirim sistem pertahanan udara ke Iran dalam beberapa minggu ke depan.
Bahkan diduga melalui negara ketiga guna menyamarkan asal pengiriman.
Namun, pihak China membantah tuduhan tersebut.
Juru bicara Kedutaan Besar China di AS menegaskan bahwa negaranya tidak pernah memasok senjata ke pihak mana pun dalam konflik dan tetap mematuhi kewajiban internasional.
Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa program rudal Iran telah secara fungsional hancur.
Ia menyebut, sebagian besar peluncur dan rudal Iran telah rusak atau tidak efektif.
Meski demikian, sumber AS dan Israel menyebut, Iran masih memiliki kemampuan untuk memulihkan sebagian kekuatan militernya.
Baca juga: Histeris Istri, Lihat Suami Sugiansyah Terkulai Lemas Sembari Pegang Dada, Pelaku Sepupu Sendiri
Banyak peluncur rudal yang masih dapat diperbaiki, sementara stok rudal balistik jarak pendek dan menengah masih tersisa dalam jumlah ribuan.
AS mengklaim meski pasokan rudal Iran telah berkurang sekitar setengah selama 40 hari konflik.
Selain itu, persenjataan drone Iran juga dilaporkan menurun drastis, namun berpotensi dibangun kembali, termasuk melalui kerja sama dengan Rusia.
Iran juga disebut masih memiliki rudal jelajah terbatas yang dapat digunakan untuk menyerang target strategis di Teluk Persia.
Menurut para pejabat Amerika Serikat yang mengetahui informasi penilaian intelijen AS, Iran masih memiliki ribuan rudal balistik dalam persenjataannya.
Persediaan tersebut dapat dikerahkan dengan mengambil peluncur dari area penyimpanan bawah tanah.
Penilaian ini muncul ketika AS berupaya memperkuat gencatan senjata yang akan sepenuhnya membuka Selat Hormuz, serta juga melindungi Iran, pasukan AS, dan negara-negara di kawasan dari serangan lebih lanjut.
Dalam laporan Wall Street Journal, Sabtu (10/4/2026), beberapa pejabat AS merasa khawatir Iran akan menggunakan jeda pertempuran untuk membangun kembali persenjataan misilnya.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth pekan ini mengatakan bahwa program rudal Iran secara fungsional hancur, dengan peluncur dan rudal yang berkurang dan hancur, serta hampir sepenuhnya tidak efektif.
Namun, gambaran yang dilukiskan oleh laporan intelijen AS menunjukkan bahwa Iran dapat membangun kembali sebagian kekuatan misilnya.
Meskipun lebih dari setengah peluncur misil Iran hancur, rusak, atau terjebak di bawah tanah, banyak dari peluncur yang tersisa dapat diperbaiki atau digali dari kompleks bawah tanah.
Persediaan rudal Iran juga telah berkurang hampir setengahnya dalam konflik ini, tetapi Teheran masih menyimpan ribuan rudal balistik jarak menengah dan pendek yang dapat dikeluarkan dari persembunyian, kata para pejabat AS dan Israel.
Iran kini hanya memiliki kurang dari 50 persen drone serang satu arah karena banyak yang telah digunakan selama konflik dan lokasi produksi senjatanya diserang oleh AS dan Israel.
Baca juga: Jejak Peran Dwi Yoga Ambal, Alumni IPDN Terseret OTT KPK Bupati Gatut, Tagih Jatah 3 Kali Seminggu
Namun, menurut para pejabat AS, Teheran dapat memperoleh sistem serupa dari Rusia untuk digunakan melawan negara-negara tetangganya, kata para pejabat AS.
Ditambah Iran juga masih memiliki sejumlah kecil rudal jelajah yang dapat digunakan untuk menargetkan kapal-kapal di Teluk Persia atau pasukan AS, jika negosiasi gagal.
“Iran telah menunjukkan kemampuan luar biasa untuk berinovasi dan membangun kembali kekuatan mereka dengan cepat,” kata Kenneth Pollack, mantan analis CIA yang kini menjabat sebagai wakil presiden bidang kebijakan di Middle East Institute.
“Mereka adalah lawan yang jauh lebih tangguh daripada sebagian besar militer Timur Tengah selain Israel,” ujarnya.
Para analis AS tidak memperkirakan bahwa militer Iran akan segera kembali ke jumlah rudal dan drone yang dimilikinya sebelum perang, mengingat upaya yang telah dilakukan AS dan Israel untuk menyerang industri pertahanan Iran.
Namun, Iran telah terbukti sebagai musuh yang tangguh, dan beberapa analis Pemerintah AS memperkirakan bahwa Iran masih dapat mengerahkan beberapa peluncur rudal balistiknya.
Pemerintah Israel telah menyetujui rencana untuk mempercepat produksi pencegat rudal Arrow di tengah perang dengan Iran, kata Kementerian Pertahanan pada Senin (6/4/2026), dilansir Kompas.com dari CNN.
Hal tersebut dilakukan seiring konflik yang telah memasuki minggu keenam dan pembalasan Iran tidak menunjukkan tanda-tanda mereda.
Pencegat rudal Arrow merupakan sistem yang membentuk lapisan teratas dari jaringan pertahanan berlapis Israel.
Sistem pertahanan tersebut dirancang untuk mencegat rudal balistik jarak jauh di luar atmosfer dan di tepinya.
Seperti diketahui, rudal balistik menjadi senjata utama yang dikerahkan Iran ke Israel selama konflik di antara keduanya, termasuk pada perang 12 hari pada Juni 2025.
Sebagian besar stok rudal dan pencegat terkuras.
Keputusan mempercepat produksi pencegat rudal diajukan oleh Menteri Pertahanan Israel Katz dan direktur jenderal kementerian Amir Baraam, yang telah disetujui oleh komite menteri untuk pengadaan.
Baca juga: Video: Nyawa 4 Petinggi Terancam, Negosiator Iran Jadi Target di Tengah Perundingan di Pakistan
Kementerian Pertahanan menyebut ini akan memajukan kesepakatan baru dengan Industri Dirgantara Israel.
"(Kesepakatan ini) akan memungkinkan peningkatan substansial baik dalam tingkat produksi maupun jumlah pencegat, sebagai bagian dari persiapan untuk perkembangan dalam kampanye tersebut," bunyi pernyataan Kementerian Pertahanan.
Langkah ini diambil menyusul laporan yang menunjukkan bahwa Israel mungkin akan menghadapi tekanan dalam stok rudal pencegatnya.
Pada Maret, pejabat militer Israel membantah laporan yang mengatakan bahwa Israel telah memberi tahu AS bahwa mereka mengalami kekurangan kritis rudal pencegat.
Katz mengatakan pada Senin (6/4/2026) bahwa Israel memiliki cukup rudal pencegat untuk membela negaranya.
Adapun langkah produksi pencegat rudal tersebut dimaksudkan untuk memastikan kebebasan operasional yang berkelanjutan dan daya tahan yang diperlukan.
“Rezim Ayatollah harus tahu: negara Israel kuat dan tangguh, siap melanjutkan kampanye selama diperlukan,” kata Katz.
(Tribunnews.com/Kompas.com/Bangkapos.com)