PLN Pangkas Konsumsi BBM di 741 Pembangkit Listrik Tenaga Diesel, Beralih ke Energi Surya dan Hidro
Seno Tri Sulistiyono April 13, 2026 07:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Upaya pemerintah mendorong transisi energi dan mengurangi ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM) terus dipercepat di sektor ketenagalistrikan.

Selama ini, Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) masih menjadi andalan di sejumlah wilayah, terutama daerah terpencil.

Akan tetapi, penggunaan BBM dinilai mahal dan rentan terhadap fluktuasi harga global, sehingga perlu segera digantikan dengan sumber energi yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Baca juga: Prabowo Targetkan Listrikisasi 100 Gigawatt Rampung 2 Tahun, PLTD Bakal Ditutup

Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo mengatakan, pihaknya telah menyiapkan langkah konkret untuk menekan penggunaan BBM di pembangkit listrik, diantaranya pengurangan konsumsi BBM di PLTD.

"PLN sudah merencanakan mengurangi konsumsi BBM di sektor ketenagalistrikan pada 741 lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Diesel dengan total ada sekitar 2.139 mesin diesel," tutur Darmawan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI di Senayan, Jakarta Pusat, Senin (13/4/2026).

Sebagai pengganti, PLN akan memanfaatkan potensi energi lokal berbasis terbarukan. Untuk wilayah yang memiliki sumber air, perusahaan akan mengembangkan pembangkit listrik tenaga air skala kecil seperti pikohidro dan mikrohidro.

Sementara di daerah yang tidak memiliki potensi tersebut, PLN akan membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang dipadukan dengan sistem penyimpanan energi baterai atau Battery Energy Storage System (BESS).

"Tentu saja kami mempertimbangkan apakah ada pikohidro, mikrohidro yang ada di lokasi tersebut. Kalau tidak ada, maka kami merancang dan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya yang dilengkapi dengan Battery Energy Storage System," jelasnya.

Darmawan menerangkan, langkah ini merupakan bagian dari strategi besar PLN untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menekan biaya produksi listrik.

Oleh karenanya, penggunaan BBM yang selama ini masih bergantung pada impor dinilai tidak efisien dalam jangka panjang.

"Yang pada intinya adalah kami secara bertahap dalam waktu yang secepat-cepatnya dengan segala kemampuan yang ada, termasuk partnership terhadap potential partner, kami secara transparan, kredibel dan kompetitif, dan secara efisien, bahwa penggunaan energi yang masih berbasis pada impor dan energi mahal yaitu BBM harus segera kami kurangi," ujarnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.