Renungan Harian Kristen 14 April 2026 - Menciptakan Standar dalam Mengasihi
Bacaan ayat: Yohanes 15:12 (TB) Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.
Oleh Pdt Feri Nugroho
Pada kenyataannya, hampir setiap orang mendidik anak-anaknya menduplikasi cara orang tuanya saat mendidiknya dulu.
Coba perhatikan anak yang 'berkata bijak', sementara ia baru berusia tiga atau empat tahun. Para orang tua bisa tersenyum simpul atau malu, sebab anaknya memberi 'nasihat bijak' sama persis dengan kalimat yang ia ciptakan.
Seiring waktu 'nasihat bijak' tersebut tersembunyi rapi dalam file alam bawah sadar, dan akan dibuka kembali saat ia menjadi orang tua.
Jika nasihatnya benar-benar bijaksana, pasti tidak akan menciptakan masalah. Persoalannya, beberapa orang tua memberi nasihat bijak didasarkan pada luka hati dan pengalaman buruk yang pernah dialami.
Bahkan sampai pada titik memutlakkan bahwa nasihatnya adalah kebenaran mutlak yang harus dipegang disepanjang waktu.
Bukankah anak justru akan menjadi 'korban cuci otak', sementara anak belum tentu mengalami pengalaman yang sama dengan para orang tua. Waspadalah, jika pengalaman pribadi dijadikan standar mutlak!
Dunia lebih komplek dari apa yang bisa kita bayangkan. Ditambah lagi bahwa setiap pribadi memiliki kehendak bebas untuk memberikan respon terhadap setiap pengalaman yang terjadi.
Menarik jika kita mengutip pernyataan Yesus saat memberikan pengajaran kepada para murid, khususnya tentang mengasihi.
Ia tahu persis bahwa dosa telah merusak kehidupan secara total, sehingga harus menuju kepada kematian.
Dalam hal ini kasih pun telah mengalami penyimpangan yang fatal. Faktanya, tanpa harus beragamapun seseorang bisa melakukan kasih.
Ungkapan, "Harimau tidak akan menerkam anaknya", sebenarnya berangkat dari pemahaman tentang kasih.
Bahwa sejahat-jahatnya orang tua, dipastikan ia tidak akan menghancurkan kehidupan anaknya. Seorang pencuri tidak akan menasihati anaknya untuk mencuri karena ia tahu mencuri itu salah. Namun anehnya ia membiarkan dirinya mencuri.
Yesus menyatakan, "Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu."
Pertama, dengan sengaja Yesus menjadikan pengalaman-Nya dalam mengasihi sebagai standar.
Mengapa? Karena Ia tidak berdosa. Kasih yang ada pada-Nya, bukan kasih yang menyimpang karena dosa. Kasih yang ada pada-Nya ialah kasih mula-mula yang ada pada Diri-Nya sendiri.
Dalam kekekalan, Bapa dan Anak dan Roh Kudus saling mengasihi. Kedua, penyelamatan yang Allah lakukan dalam Diri-Nya, ialah didasarkan pada kasih yang sempurna. Kasih yang tanpa syarat; kasih yang utuh.
Tujuan utamanya ialah pemulihan manusia kepada kehidupan kekal yang Allah rancang sebelumnya. Ini akan menjadi standar moral yang perlu dipraktekkan dalam kehidupan sejak hari ini, dan disini.
Sebab hidup kekal itu adalah sejak hari ini dan disini. Ketiga, orang percaya, yaitu para murid, adalah orang-orang yang telah dikuduskan, disucikan dan dibenarkan.
Maka standar kasih yang diberlakukan, bukan lagi kasih kemanusiaan semata. Standar kasih-Nya ialah standar Surgawi yang asalnya dari Allah; bukan buah pikiran manusia yang telah terkontaminasi oleh dosa.
Perubahan akal budi, menjadi langkah awal untuk memulai mengasihi. Setiap orang memiliki pengalaman dalam mengasihi; semua perlu ditinjau ulang dan diperbaharui.
Seekstrim apapun dalam mengasihi, jika didasarkan hanya pada pengalaman terluka, hanya menunggu waktu bahwa kasih tersebut akan runtuh pada kekecewaan.
Pandang kepada Allah dalam Yesus, ketika mengasihi. Puncak kasih-Nya terjadi saat Ia mati di kayu salib sebagai Kurban Pengganti, demi menebus kita dari dosa. Perbaharui kasih kita dengan dasar kasih-Nya.
Jadikan kasih-Nya sebagai standar dalam mengasihi. Amin.
Renungan Kristen oleh Pdt Feri Nugroho, GKSBS Siloam Palembang