Munafri Arifuddin Kukuhkan 60 Anggota Kampung Siaga Bencana Tamalanrea
Alfian April 13, 2026 10:22 PM

 

 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, mengukuhkan Tim Kampung Siaga Bencana (KSB) Kecamatan Tamalanrea dalam Apel Pengukuhan dan Uji Simulasi SOP yang digelar di Anjungan Tugu MNEK, Center Point of Indonesia (CPI), Senin (13/4/2026) sore.

‎Sebanyak 60 warga resmi dikukuhkan sebagai anggota KSB setelah sebelumnya mengikuti pembekalan terkait potensi kebencanaan, penyusunan jalur evakuasi, hingga pembagian peran dalam sistem penanggulangan bencana berbasis komunitas.

‎Dengan pengukuhan ini, Tamalanrea menjadi wilayah ketiga di Kota Makassar yang memiliki KSB, setelah Kecamatan Manggala dan Biringkanaya yang lebih dulu dibentuk sebagai kawasan siaga bencana.

‎Pembentukan KSB merupakan langkah strategis Pemerintah Kota Makassar dalam memperkuat ketangguhan masyarakat menghadapi bencana, khususnya di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.

‎Selain itu, program ini juga bertujuan membangun sistem mitigasi yang lebih terstruktur di tingkat kecamatan melalui keterlibatan langsung masyarakat.

Baca juga: Aktif Berperan Tangani Bencana, PLN Terima Penghargaan dari Pemkot Makassar

Sebelum dilantik, para anggota KSB berbaris dan meneriakan yel yel di depan Munafri dan para tamu yang hadir. 

‎Dalam sambutannya setelah mengukuhkan, Munafri Arifuddin yang akrab disapa Appi menyampaikan apresiasi atas terbentuknya tim KSB yang dinilai memiliki peran vital dalam menghadapi potensi bencana, baik alam maupun sosial.

‎Ia menegaskan bahwa keberadaan KSB tidak hanya berfungsi saat bencana terjadi, tetapi juga sebagai garda terdepan dalam upaya mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat.

‎“Pengukuhan ini sangat penting, karena Makassar memiliki berbagai potensi persoalan kebencanaan. Namun kita semua berharap tim ini tidak perlu bekerja, karena jika bekerja berarti ada bencana. Yang utama adalah kesiapsiagaan,” ujarnya.

‎Appi menekankan, anggota KSB memiliki tanggung jawab besar sebagai pihak pertama yang hadir di tengah masyarakat saat terjadi bencana.

‎“Merekalah yang paling memahami kondisi wilayahnya. Ketika bencana terjadi, mereka yang pertama hadir memberikan penanganan dan memastikan masyarakat tetap tenang,” tambahnya.

‎Ia juga mengingatkan pentingnya keseriusan dan fokus dalam menjalankan tugas, mengingat peran KSB sangat menentukan dalam meminimalisir dampak bencana.

‎Menurutnya, kesiapsiagaan menjadi kunci utama karena waktu datang dan berakhirnya bencana tidak dapat diprediksi.

‎“Kalau Bapak dan Ibu bekerja, berarti ada bencana. Karena itu kita berharap tim ini selalu siap siaga. Inilah yang disebut mitigasi,” tegasnya.

‎Lebih lanjut, Appi mengajak seluruh elemen masyarakat, stakeholder, serta pilar sosial untuk berkolaborasi menjadikan KSB sebagai wadah pembelajaran dan penguatan solidaritas sosial.

‎Ia juga menjelaskan bahwa program KSB merupakan inisiasi Kementerian Sosial Republik Indonesia dalam membangun standar mitigasi bencana di seluruh daerah.

‎Dengan adanya standar tersebut, masyarakat diharapkan memahami alur koordinasi, pembagian peran, hingga pemanfaatan bantuan secara optimal saat bencana terjadi.

‎“Dengan standar ini, masyarakat tahu bagaimana mengisi pos-pos saat bencana, memahami alur koordinasi, hingga memaksimalkan bantuan sehingga dapat meminimalisir korban,” jelasnya.

‎Pemerintah Kota Makassar, lanjutnya, akan terus memperluas pembentukan KSB di wilayah lain dengan mempertimbangkan tingkat risiko kebencanaan.

‎“Kita akan melihat wilayah dengan risiko tinggi untuk menjadi prioritas pembentukan kampung siaga berikutnya,” ujarnya.

‎Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Sulawesi Selatan, Abdul Malik Faisal, membacakan sambutan Kementerian Sosial, menyampaikan bahwa pembentukan KSB merupakan bagian dari upaya sistematis pemerintah dalam memperkuat kesiapsiagaan masyarakat berbasis komunitas.

‎Ia menegaskan, kehadiran KSB menjadi elemen penting dalam sistem penanggulangan bencana karena berada langsung di tengah masyarakat.

‎“Tim KSB ini adalah ujung tombak di lapangan. Mereka yang pertama bergerak saat bencana terjadi, sehingga kapasitas dan kesiapan mereka harus terus diperkuat,” ujarnya.

‎Menurutnya, sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan pihak swasta menjadi kunci dalam memastikan program KSB berjalan efektif dan berkelanjutan.

‎“Kolaborasi ini penting, karena penanganan bencana tidak bisa dilakukan sendiri. Harus ada keterlibatan semua pihak, termasuk dunia usaha dan masyarakat,” tambahnya.

‎Ia juga mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Makassar yang terus memperluas pembentukan KSB di wilayah rawan bencana.

‎“Kami tentu sangat mendukung. Harapannya, KSB ini bisa menjadi model yang direplikasi di daerah lain, sehingga kesiapsiagaan masyarakat semakin merata,” jelasnya.(*)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.