TRIBUNBATAM.id, JAMBI – Bentrokan antara kelompok Suku Anak Dalam (SAD) dan sekuriti PT Sari Aditya Loka (PT SAL) kembali pecah di Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi, Minggu (12/4/2026) sore.
Insiden ini menyebabkan sejumlah korban dari kedua belah pihak. Informasi sementara, sedikitnya tiga orang harus dilarikan ke rumah sakit akibat luka-luka.
Dari pihak SAD, beberapa warga dilaporkan mengalami luka akibat benda keras dan kini menjalani perawatan medis. Sementara itu, sejumlah sekuriti PT SAL disebut mengalami luka tembak dan dirawat di fasilitas kesehatan berbeda.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun, bentrokan bermula dari ketegangan yang telah berlangsung antara masyarakat SAD dan pihak keamanan perusahaan. Sempat mereda melalui mediasi, situasi kembali memanas hingga berujung pada bentrok terbuka.
Jumlah massa yang terlibat tidak seimbang. Dari pihak SAD, diperkirakan ratusan orang turun ke lokasi, sementara dari sekuriti perusahaan hanya puluhan personel.
Konflik diduga dipicu penolakan masyarakat SAD terhadap penambahan personel keamanan di area perusahaan.
Kehadiran puluhan sekuriti baru disebut memicu kecurigaan dan ketegangan di lapangan, hingga akhirnya memantik benturan fisik.
Profil Singkat PT SAL
PT Sari Aditya Loka-1 (PT SAL-1) merupakan anak usaha PT Astra Agro Lestari Tbk yang bergerak di sektor perkebunan dan pengolahan kelapa sawit di Jambi, dengan kapasitas produksi mencapai 60 ton per jam.
Perusahaan ini beroperasi di wilayah Merangin dan Sarolangun, serta dikenal memiliki sejumlah program tanggung jawab sosial (CSR), termasuk pembinaan posyandu, pendidikan, hingga kegiatan sosial bagi komunitas Suku Anak Dalam.
Suku Anak Dalam dan Tantangan Modernisasi
Suku Anak Dalam (SAD) atau Orang Rimba merupakan komunitas adat yang hidup di kawasan hutan dataran rendah Jambi dan Sumatera Selatan.
Sebagian besar dari mereka masih mempertahankan pola hidup nomaden dengan bergantung pada hutan, seperti berburu, meramu, dan mengambil madu sialang.
Namun, keberadaan mereka kini menghadapi tekanan besar akibat alih fungsi hutan menjadi perkebunan, yang memaksa mereka beradaptasi dengan perubahan zaman.
Masyarakat SAD dikenal memiliki aturan adat yang kuat, dipimpin oleh seorang Tumenggung, serta kepercayaan animisme yang menghormati alam sebagai bagian penting dalam kehidupan mereka.