Baca juga: Arti Kata Soursweet, Soursweet Artinya, Arti Soursweet dalam Bahasa Gaul, Hubungan Asmara, Kehidupan
Kata atau istilah open relationship viral di media sosial dan sudah sering digunakan kaula muda dalam bahasa formal dan bahasa pergaulan di Riau, baik di media sosial maupun di dunia nyata.
Bagi para kaula muda Pekanbaru atau kaula muda Riau umumnya yang ingin menggunakan kata ini sebagai bahasa dalam pergaulan, simak penjelasannya agar paham artinya dan lawan bicara tidak salah paham.
Secara bahasa atau secara harfiah, arti kata open relationship atau open relationship artinya adalah hubungan terbuka.
Secara istilah, arti kata open relationship atau open relationship artinya adalah jenis hubungan romantis atau kemitraan ketika pasangan secara sadar dan terbuka menyetujui untuk memiliki hubungan romantis atau seksual dengan orang lain di luar hubungan utama mereka.
Kunci dari open relationship adalah komunikasi, kejujuran, dan persetujuan bersama dari semua pihak yang terlibat.
Berikut ciri-ciri open relationship :
- Persetujuan Bersama (Consent): Semua pihak dalam hubungan harus memberikan persetujuan yang jelas dan sadar untuk struktur hubungan terbuka. Tanpa persetujuan ini, tindakan menjalin hubungan dengan orang lain dapat dianggap sebagai perselingkuhan atau pengkhianatan.
- Kejujuran dan Komunikasi: Komunikasi yang terbuka dan jujur adalah fondasi utama. Pasangan perlu membicarakan batasan, harapan, perasaan, dan pengalaman mereka secara teratur.
- Batasan yang Jelas: Pasangan biasanya menetapkan batasan-batasan spesifik yang harus diikuti. Batasan ini bisa meliputi jenis hubungan yang diperbolehkan (misalnya, hanya seksual, atau juga romantis), siapa yang boleh didekati, seberapa sering, dan bagaimana informasi dibagikan.
- Fokus pada Hubungan Utama: Meskipun ada hubungan lain, hubungan utama biasanya tetap menjadi prioritas. Hubungan tambahan dijalani tanpa mengorbankan kebutuhan dan komitmen terhadap pasangan utama.
- Tidak Sama dengan Poliamori: Open relationship berbeda dengan poliamori, meskipun keduanya melibatkan lebih dari satu pasangan. Dalam open relationship, fokus utama seringkali pada hubungan romantis dan seksual dengan satu pasangan utama, sementara hubungan lain bersifat sekunder atau komplementer. Poliamori lebih menekankan pada kemampuan untuk menjalin hubungan romantis dan emosional yang mendalam dengan lebih dari satu orang secara bersamaan.
Berikut alasan open relationship atau alasan orang memilih open relationship :
- Memenuhi Kebutuhan yang Berbeda: Pasangan mungkin memiliki kebutuhan seksual atau emosional yang berbeda yang tidak sepenuhnya dapat dipenuhi oleh satu orang saja.
- Keinginan untuk Eksplorasi: Beberapa pasangan ingin mengeksplorasi seksualitas atau hubungan mereka tanpa mengorbankan hubungan utama mereka.
- Menghindari Kebosanan: Bagi sebagian orang, variasi dalam hubungan dapat membantu menjaga percikan dan mencegah kebosanan.
- Kejujuran daripada Perselingkuhan: Memilih open relationship adalah cara untuk dapat menjalin hubungan dengan orang lain secara jujur dan terbuka, daripada harus menyembunyikannya melalui perselingkuhan.
- Open relationship membutuhkan tingkat kedewasaan emosional, kepercayaan, dan komunikasi yang tinggi untuk dapat berjalan dengan baik dan sehat bagi semua pihak yang terlibat.
Open relationship bisa memiliki berbagai bentuk dan dinamika, tergantung pada kesepakatan dan batasan yang dibuat oleh pasangan yang terlibat.
Berikut contoh open relationship dan contoh ilustratif yang menggambarkan bagaimana open relationship dapat dijalankan :
1. Pasangan yang Menjalin Hubungan Seksual dengan Orang Lain (Non-Monogami Etis):
2. Pasangan dengan Satu Pasangan yang Memiliki Hubungan Lain:
Ilustrasi: Clara dan Dani memiliki kesepakatan bahwa Clara, yang memiliki dorongan seksual lebih tinggi dan keinginan untuk mengeksplorasi, diizinkan untuk menjalin hubungan seksual dengan orang lain. Dani, di sisi lain, merasa nyaman dengan monogami atau tidak memiliki keinginan untuk menjalin hubungan lain. Clara harus jujur kepada Dani tentang siapa yang dia temui dan pengalaman apa yang dia miliki, serta memastikan bahwa dia selalu aman. Dani mungkin merasa sedikit cemburu sesekali, tetapi dia menghargai kejujuran Clara dan mereka bekerja sama untuk mengelola emosi tersebut.
3. Pasangan yang Memiliki Teman Kencan (Casual Dating):
Ilustrasi: Eka dan Fikri adalah pasangan yang berpacaran. Mereka berdua ingin memiliki kebebasan untuk bertemu dan berkencan dengan orang lain untuk bersenang-senang atau sekadar eksplorasi sosial, tetapi mereka tidak berniat untuk menjalin hubungan romantis yang mendalam dengan orang lain. Mereka sepakat bahwa kencan ini bersifat kasual, tidak melibatkan komitmen emosional yang mendalam, dan mereka harus tetap memprioritaskan waktu dan perhatian mereka untuk satu sama lain. Mereka mungkin saling bercerita tentang kencan mereka sebagai bagian dari komunikasi terbuka.
4. Pasangan yang Terbuka untuk Hubungan Romantis dengan Orang Lain (Mirip Poliamori):
Ilustrasi: Gita dan Hadi adalah pasangan yang tidak hanya terbuka untuk hubungan seksual, tetapi juga untuk menjalin hubungan romantis yang mendalam dengan orang lain. Mereka mungkin memiliki pasangan lain yang juga memiliki hubungan dengan mereka, dan bahkan mungkin ada hubungan dengan orang lain yang tidak secara langsung terhubung dengan mereka. Dalam kasus ini, ada lebih banyak fokus pada membangun jaringan hubungan yang saling mendukung dan mencintai.
5. Pasangan yang Memiliki Aturan Tidak Jatuh Cinta:
Ilustrasi: Indah dan Joko sepakat bahwa mereka boleh menjalin hubungan seksual atau kencan dengan orang lain, tetapi ada batasan tegas bahwa mereka tidak boleh jatuh cinta atau menjalin hubungan romantis yang serius dengan orang lain di luar hubungan mereka. Jika salah satu dari mereka mulai merasakan perasaan cinta yang mendalam terhadap orang lain, mereka harus membicarakannya segera dan mengevaluasi kembali kesepakatan mereka.
Open relationship bukanlah sebuah pilihan yang diambil secara sembarangan, melainkan seringkali didasari oleh berbagai motivasi, kebutuhan, dan nilai-nilai yang dimiliki oleh individu atau pasangan.
Alasan-alasan ini bersifat multifaset dan dapat saling melengkapi.
Berikut penyebab open relationship :
1. Kebutuhan Individu dan Pasangan
- Keinginan untuk Kebebasan dan Eksplorasi Seksual: Salah satu penyebab paling umum adalah adanya keinginan untuk mengeksplorasi seksualitas, mencoba pengalaman baru, atau memenuhi dorongan seksual yang mungkin tidak sepenuhnya terpenuhi dalam satu hubungan monogami. Ini bukan berarti tidak cinta pada pasangan, melainkan keinginan untuk berkembang dan mengalami berbagai aspek kehidupan.
- Memenuhi Kebutuhan Emosional atau Romantis yang Berbeda: Beberapa individu merasa bahwa satu pasangan tidak dapat memenuhi semua kebutuhan emosional atau romantis mereka. Open relationship memungkinkan mereka untuk mendapatkan dukungan, koneksi, atau jenis afeksi yang berbeda dari orang lain, tanpa mengorbankan hubungan utama mereka.
- Menghindari Kebosanan atau Rutinitas: Seiring berjalannya waktu, hubungan monogami bisa terasa monoton. Open relationship dapat menjadi cara untuk menambahkan elemen kegembiraan, variasi, dan stimulasi baru ke dalam kehidupan romantis mereka.
2. Komitmen dan Kejujuran sebagai Fondasi
- Keinginan untuk Kejujuran daripada Perselingkuhan: Banyak pasangan yang memilih open relationship karena mereka percaya bahwa kejujuran dan komunikasi terbuka lebih baik daripada menyembunyikan hubungan di luar nikah. Mereka ingin dapat menjalin hubungan dengan orang lain secara etis dan transparan, dengan persetujuan penuh dari pasangan utama mereka.
- Memperkuat Hubungan Utama: Ironisnya, bagi sebagian pasangan, open relationship justru dapat memperkuat hubungan utama mereka. Dengan adanya komunikasi yang intens mengenai batasan, kecemburuan, dan kebutuhan, mereka menjadi lebih saling memahami dan menghargai satu sama lain.
3. Faktor Sosial dan Filosofis
- Penolakan terhadap Norma Monogami: Beberapa individu atau pasangan mungkin merasa bahwa monogami bukanlah satu-satunya cara yang valid untuk membina hubungan romantis. Mereka mungkin menganut filosofi bahwa cinta dan koneksi tidak terbatas pada satu orang saja.
- Pengalaman Masa Lalu: Pengalaman hubungan sebelumnya, baik yang positif maupun negatif, dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk memilih open relationship.
Penting untuk diingat bahwa open relationship membutuhkan tingkat kedewasaan emosional, kepercayaan, dan keterampilan komunikasi yang sangat tinggi.
Tanpa elemen-elemen ini, pilihan untuk open relationship justru bisa menimbulkan masalah baru, seperti kecemburuan yang tidak terkendali, rasa tidak aman, dan keretakan hubungan.
Open relationship, meskipun dipilih atas dasar kesepakatan dan kejujuran, dapat membawa berbagai dampak positif dan negatif bagi individu dan pasangan yang menjalaninya.
Dampak-dampak ini sangat bergantung pada bagaimana hubungan tersebut dikelola, tingkat komunikasi, serta kedewasaan emosional para pihak yang terlibat.
Berikut dampak open relationship :
1. Dampak Positif
- Peningkatan Kebebasan dan Eksplorasi Diri: Pasangan dapat merasa lebih bebas untuk mengeksplorasi seksualitas, minat, dan aspek diri mereka yang mungkin tidak dapat diekspresikan sepenuhnya dalam hubungan monogami. Ini bisa mengarah pada pertumbuhan pribadi dan pemahaman diri yang lebih dalam.
- Komunikasi yang Lebih Mendalam: Untuk menjaga keberlangsungan open relationship, pasangan seringkali dituntut untuk berkomunikasi secara sangat terbuka dan jujur mengenai perasaan, batasan, dan pengalaman mereka. Hal ini dapat memperkuat ikatan emosional dan kepercayaan di antara mereka.
- Mengurangi Kebosanan dan Rutinitas: Variasi yang ditawarkan oleh open relationship dapat membantu menjaga hubungan tetap segar dan menarik, mengurangi risiko kebosanan atau rasa stagnan yang terkadang muncul dalam hubungan monogami jangka panjang.
- Pemenuhan Kebutuhan yang Beragam: Jika ada kebutuhan emosional atau seksual yang spesifik yang tidak sepenuhnya dapat dipenuhi oleh satu pasangan, open relationship dapat menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan tersebut tanpa harus mengorbankan hubungan utama.
- Menghindari Perselingkuhan: Dengan adanya kesepakatan terbuka, pasangan dapat menjalin hubungan dengan orang lain secara etis dan transparan, yang seringkali dianggap lebih baik daripada menyembunyikan perselingkuhan.
2. Dampak Negatif
- Potensi Kecemburuan dan Ketidakamanan: Meskipun ada kesepakatan, kecemburuan adalah emosi manusia yang wajar dan seringkali sulit dikendalikan. Munculnya perasaan cemburu, iri, atau tidak aman dapat menjadi tantangan besar dan membutuhkan pengelolaan emosi yang matang.
- Kompleksitas Emosional: Menavigasi emosi yang kompleks, termasuk rasa bersalah, keraguan, atau ketakutan akan kehilangan, bisa sangat melelahkan. Mengelola perasaan diri sendiri dan pasangan, serta perasaan orang ketiga yang terlibat, memerlukan energi emosional yang besar.
- Risiko Hubungan Utama Melemah: Jika komunikasi tidak memadai atau jika batasan tidak dihormati, open relationship dapat justru melemahkan hubungan utama. Waktu dan energi yang terbagi dapat mengurangi kualitas interaksi antara pasangan utama.
- Stigma Sosial dan Kesalahpahaman: Masyarakat umum seringkali belum sepenuhnya memahami atau menerima konsep open relationship. Pasangan mungkin menghadapi stigma, penilaian negatif, atau kesalahpahaman dari keluarga, teman, atau lingkungan sosial mereka.
- Kesulitan Menetapkan dan Menjaga Batasan: Meskipun batasan penting, menetapkan dan memeliharanya seringkali sulit. Perubahan situasi, munculnya perasaan baru, atau ketidaksepakatan mengenai batasan dapat menimbulkan konflik.
- Dampak pada Orang Ketiga: Orang-orang yang terlibat dalam hubungan di luar pasangan utama juga memiliki perasaan dan kebutuhan yang perlu dipertimbangkan. Mereka mungkin merasa dimanfaatkan atau tidak dihargai jika tidak diperlakukan dengan baik.
- Keberhasilan open relationship sangat bergantung pada komitmen kedua belah pihak untuk terus berkomunikasi, saling menghargai, dan bekerja sama dalam menghadapi tantangan yang muncul.
Mengatasi tantangan dalam open relationship memerlukan pendekatan yang proaktif, komunikasi yang terbuka, dan komitmen yang kuat dari kedua belah pihak.
Berikut cara untuk mengelola dan mengatasi isu-isu yang mungkin timbul dalam hubungan jenis ini :
1. Komunikasi Terbuka dan Jujur
- Diskusi Rutin Mengenai Perasaan: Jadwalkan waktu secara teratur untuk berbicara tentang perasaan, kekhawatiran, dan pengalaman masing-masing. Penting untuk menciptakan ruang aman di mana kedua belah pihak dapat mengungkapkan diri tanpa takut dihakimi.
- Jujur Tentang Batasan: Tetapkan batasan yang jelas dan spesifik mengenai apa yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan dalam hubungan. Batasan ini bisa mencakup jenis interaksi yang diizinkan, frekuensi, serta batasan emosional.
- Transparansi: Pastikan kedua belah pihak saling mengetahui dan menyetujui aturan main dalam hubungan terbuka. Ketidakjujuran atau menyembunyikan sesuatu dapat merusak kepercayaan.
2. Pengelolaan Emosi
- Mengendalikan Kecemburuan: Kecemburuan adalah emosi yang umum terjadi. Jika muncul, penting untuk tidak mengabaikannya, tetapi membicarakannya secara terbuka dengan pasangan. Pahami akar kecemburuan tersebut dan cari cara untuk mengatasinya bersama.
- Membangun Kepercayaan Diri: Pastikan bahwa keputusan untuk menjalani open relationship tidak didasari oleh rasa tidak aman atau kebutuhan untuk membuktikan diri. Memiliki keyakinan pada diri sendiri dan nilai diri akan membantu dalam mengelola emosi.
- Fokus pada Hubungan Utama: Meskipun ada hubungan lain, penting untuk tetap memprioritaskan dan merawat hubungan utama. Luangkan waktu berkualitas bersama, tunjukkan apresiasi, dan pastikan kebutuhan emosional pasangan utama terpenuhi.
3. Menetapkan dan Meninjau Aturan
- Fleksibilitas dalam Aturan: Seiring berjalannya waktu, kebutuhan dan perasaan bisa berubah. Bersiaplah untuk meninjau dan menyesuaikan batasan serta aturan jika diperlukan, selama perubahan tersebut disepakati bersama.
- Pahami Motivasi: Terus evaluasi mengapa Anda dan pasangan memilih open relationship. Memahami motivasi di balik pilihan ini dapat membantu dalam mengelola ekspektasi dan mengatasi tantangan.
4. Mencari Dukungan
- Konsultasi dengan Profesional: Jika kesulitan dalam mengelola emosi atau komunikasi, pertimbangkan untuk mencari bantuan dari terapis atau konselor hubungan yang berpengalaman dalam menangani hubungan non-monogami.
- Edukasi Diri: Pelajari lebih lanjut tentang dinamika open relationship dari sumber yang terpercaya untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan strategi pengelolaan yang efektif.
Sumber: tribunpekabaru.com, kbbi.web.id, kbbi.co.id, hukumonline.com, urbandictionary.com, yourdictionary.com, Kamus Bahasa Indonesia - Bahasa Melayu Riau
Demikian penjelasan tentang arti kata open relationship atau open relationship artinya dan ciri-ciri open relationship serta alasan open relationship hingga contoh open relationship dan penyebab open relationship termasuk dampak open relationship dan cara mengatasi open relationship .
( Tribunpekanbaru.com / Pitos Punjadi )