Petani Bakau di Desa Batu Ampar dan Nantikan Uluran Tangan Pemerintah
Try Juliansyah April 14, 2026 12:32 AM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KUBURAYA - Pemerintah telah melakukan pembekuan izin usaha arang bakau sejak tahun 2023. Bahkan penindakan juga terus dilakukan hingga saat ini karena dinilai dapat memicu abrasi.

Akibatnya, para petani arang, khususnya warga Desa Batu Ampar, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, menyampaikan keluhannya.

Seperti yang disampaikan, Bujang Aswin. Sebagai petani arang bakau atau mangrove, ia mengaku sadar bahwa pekerjaan yang dilakukan menyalahi aturan.

Untuk itu, ia bersama masyarakat lainnya terpaksa harus menghentikan pekerjaan tersebut yang telah sekian lama menjadi penghasilan utama masyarakat setempat.

"Untuk daerah batu ampar ini khususnya, memang ini menjadi mata pencaharian kami, bahkan sudah empat generasi tidak juga abrasi atau banjir. Kami bahkan pernah dikatakan mencuri di kampung sendiri, kan tidak masuk akal," ungkapnya kepada tribunpontianak.co.id, Senin 13 April 2026.

Menurutnya, mengenai pengalihan bahan baku juga sudah pernah dilakukan, namun gagal dan penghasilan yang didapatkan tidak sesuai dengan hasil keringat.

Baca juga: Gerakan Antara Menanam di Kubu Raya Wujud Bersama Lestarikan Lingkungan

"Untuk pengalihan bahan kita sudah coba dengan kayu albasia itu tidak bisa pak dan memang dari mangrove itu lah," katanya.

Dengan ini, ia berharap agar pemerintah dengan segera memberikan solusi guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

"Kami masyarakat mau jika ada solusi. Kerja apapun kami mau, asal itu benar-benar jelas untun masa depan kami. Jika nelayan berikan kami solusi, termasuk mengenai perkebunan kami siap. Intinya bantuan itu jangan cuma satu kali, tapi berkelanjutan," paparnya.

Hal senada juga disampaikan petani lainnya, Kenny. Ibu empat anak ini mengaku kesulitan dalam menghidupi keluarganya.

"Penghasilan kita dari arang bakau ini sehari paling Rp70 ribu dan seminggu hanya 3 hari kerja. Anak saya ada empat, yang sekolah tiga. Gimana kalo gak ada kerjaan, sekarang ini bubur pun jadi," ungkapnya.

Menurutnya, keluhan itu mulai dirasakan sejak 6 bulan terakhir dan mengaku siap mengikuti aturan jika ada solusi dari pemerintah.

"Kalau ini di tutup, berilah kami lapangan pekerjaan. Dapat lah kami makan untuk hidup. Kalau udah ditutup semua kami mau makan apa? Sementara pekerjaan lain tidak ada," ungkap Kenny.

Kebutuhan hidup menjadi sangat mendesak. Ia bahkan menyebutkan untuk bertahan hidup harus mencari kepah (kerang) dan dijual dengan harga miring.

"Biasa cari kepah untuk bertahan hidup. Itu pun kadang laku, kadang gak laku," pungkasnya.

Di sisi lain, Suti yang juga bekerja sebagai petani arang bakau mengaku kesulitan ketika pekerjaan utama ini menjadi momok bagi mereka.

"Susah sekarang bang, kita gak ada lapangan pekerjaan. Bekal anak sekolah aja kita kurangi. Untuk makan nasi putih saja sudah syukur Alhamdulillah. Tolong dicarikan mata pencaharian yang lain. Berikan kami solusi secepatnya, kadang sampai ada yang tak makan di kampung ini," tutupnya. (*)

!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.