Cerita Tragis Nelayan Karimun yang Sempat Hanyut, Terombang Ambing Sampai Malaysia
Eko Setiawan April 15, 2026 12:39 PM

TRIBUNBATAM.id, KARIMUN - Supianto (44) Nelayan yang hanyut hingga masuk ke Perairan Malaysia saat memasang rawai pada Minggu (12/4/2026) dini hari menceritakan pengalaman saat hanyut, Selasa (14/4/2026). 

Warga Sungai Pasir Kabupatem Karimun itu sempat hanyut kurang lebih 24 jam semenjak mesin kapalnya rusak hingga ditemukan.

Supianto berhasil dievakuasi tim penyelamat Tanjung Balai Karimun yang terdiri dari Tim Kansar Rescue TPI, Polair Karimun, Mrcc Johor (Malaysia) dan Masyarakat setempat. 

Bagaimana Kronologi kejadian Supianto terombang ambing hingga ke Perairan malaysia sehingga bisa di temukan selamat dan dibawa pulang. Berikut adalah Obrolan Wartawan TribunBatam di Kabupaten Karimun saat mengunjungi Supianto di kediamannya. 

Berikut petikan wawancara eksklusifnya untuk anda :

Keterangan 

TB : Tribun Batam

S : Supianto

TB : Assalamulaikum pak selamat pagi pak, boleh dijelaskan pak kronologi awal sampai hanyut ke Perairan Malaysia? 

S : Saya petang (Sabtu, 11/4/2026) itu berangkat dari sini sekitar jam 15.00 WIB pergi menyampak rawai, Sampai dilokasi itu baru bentangkan rawai sekitar 100 lebih mata aja, terus tidak lama mesin saya itu staternya tu tak bisa hidup lagi, jadi kami cuma nyampak rawai 100 mate dan berlabuh. 

waktu saya berlabuh itu saya taruk (turunin) jangkar gitu, cuman tali jangkar saya tak begitu besar dan mungkin sudah lapuk, jadi waktu saya berlabuh itu saya lagi perbaikin mesin tali jangkar saya putus, terus sesudah putus itu lah yang buat saya hanyut sampai malaysia itu. 

Kapal motor ni ada jangkar lain tapi kecil jadi kalau kena agak agak sangkut gitu jangkarnya jadi lurus, dia tak begitu kuat. Tapi kalau untuk berlabuh - labuh dengan arus biasa itu boleh lah gitu

TB : Baik pak kalau untuk kondisi cuaca pada saat kejadian itu bagaimana pak ? 

S : Kalau untuk cuaca sebelah pagi subuh (Minggu, 12/4/2026), anginnya kuat gelombang barat itukan. Nah waktu malam itu saya ikut arus aja, gelombang pun biasa biasa aja, yang pagi tu aja saye baru masuk kedalam wilayah Malaysia tu. Sebelumnya saya masih terombang ambing di lane - lane kapal tu aja. Kalau dah masuk kedalam (Perairan malaysia) mau tak mau jaringan handphone pun dah tak ada lagi. 

Saya pun dah sempat hubungi waktu rusak dah telepon adek saya kan minta tolong, mungkin pada saat pertama dia belum sadar dan pagi dia baru tau. 

TB : Pada saat terombang ambing dengan kondisi jangkar bapak putus usaha apa yang bapak lakukan pada saat hanyut itu ? 

S : Kami buat layar, jadi kami tarok kayu dua batang gitu terus ada macam karpet gembes (terpal) saya bentangkan, nah itulah jadi ikut angin kadang, pas pulang kadang angin di timur, tapi karna arus dan angin tak maksimal jadi dia tetap aja gitu. 

Jadi saya buat layar ini coba ikhtiar dulu, saya berusaha dulukan sebelum orang jumpa. Tapi kan itu dah mulai mau masuk masuk ke perbatasan, karena waktu kita nyampak rawai itu tak jauh dari lane kapal. 

TB : Berdasarkan cerita dan pengalaman para nelaya lane kapal itu merupakan hal yang ditakuti, pada saat bapak masuk ke Lane Kapal bagaimana perasaan bapak, karena Lane kapal itu kan lalu lintas kapal kapal besar dilaut ? 

S : Ya kita harus cari alternatif juga lah, usaha sedikit - sedikit, kalau ada rasa was was kapal itu kita buat obor atau mungkin baju bisa kita gunakan. Itulah mungkin salah satunya, atau mungkin dengan senter atau penerangan supaya dia menghindar kalau bisa. 

Dan saya masuk lane kapal ini hampir subuh hari, dimulai dari malam dah mulai nak masuk Lane Kapal. Kalau petangnya masih berayut maju mundur ikut angin. 

TB : Kemarin dalam proses penyelamatan dan penjemputan kapal bapak berada di samping kapal tanker, Itu Kronologi bisa sampai ke kapal tanker besar itu bagaimana pak ? 

S : Nah itu bantuan dari polisi malaysia yang bantu yang tarik ke kapal itu. Pada sore itu dia (Polisi Malaysia) ambil saya, tanya situasi semua, dan tengok keadaan saya, Terus dapat informasi bahwa nak ada serah terima di Indonesia dan Malaysia, jadi dia bantu tarik dari tepi bawa ke tengah situ. 

TB : Ketika bapak menunggu bantuan apakah Polisi Malaysia terlebih dahulu yang menemukan bapak ? 

S : Ada satu nelayan dari Malaysia, saya minta hotspot, cuma sebentar saja, dia mau balik karena dia mau mengambil jaringnya, jadi saya minta tolong nak menelepon keluarga, karena kita sudah tidak ada jaringan lagi disana. 

Cuma saya minta tolong hotspotkan aja, dan dia pun tak berani mungkin rasa takut ada apa - apa kan, dia pun tak berani lama lama disana, nanti di sangka ada apa-apa, jadi saya cakap sebentar aja minta tolong. 

TB : Berarti Pihak Kepolisian Malaysia yang membawa ke kapal tanker itu ya pak sebelum dilakukan penjemputan oleh tim dari Indonesia 

S : iya, sebelum dia (Polisi Malaysia) bawa saya balik ke tengah, dia ada prosedur lah nak tengok apa situasi, dia cuba usahakan hidupkan mesin saya, tapi yang namanya mesin itu dah rusak dan betul betul rusak. Jadi dah dia cek semua dan dah semuanya barulah dia tarik saya agak ketengah sedikit gitu. 

TB : Berarti pak kalau dihitung jam, berapa jam bapak terombang ambing hingga dilakukan penjemputan ? 

S : Kira - kira dari jam 17.00 wib pada hari Sabtu (11/4/2026) sampai hari Minggu (12/4/2026) jam 17.00 WIB juga lah lebih kurang 24 jam. 

TB : Itu untuk persediaan makanan atau bekal bekal ada tidak dibawa waktu itu ? 

S : Ya namanya juga kita pergi cuma satu hari jadi bekal hanya seadanya aja. Jadi kalau untuk kompor tukan belum disediakan karena berangkat merawai jadi sedanya aja. 

TB : Jadi kejadian ini merupakan hal yang pertama atau mungkin sebelumnya bapak pernah mengalami kejadian yang hampir sama macam ini pak ? 

S : Saya yang kedua ini, kejadian pertama itu kalau tak salah saya lebih kurang 5 - 6 tahun yang lalu dan itu penyebabnya juga sama mesin rusak. Waktu itu mesin rusak cuaca ribut dan lebih parahnya lagi tidak ada jangkar. 

TB : Itu hanyut sampai perbatasan juga atau masih di perairan Indonesia ? 

S : Waktu itu kita langsung masuk ke tepi pinggir malaysia ke pantainya, dan itu nelayan dari malaysia yang pertama kali jumpa. Dan kalau yang pertama itu saya hilang kontak dua hari dua malam. 

TB : baik pak mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan Terima kasih pak atas waktunya. (TribunBatam.id/Fairozzamani) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.