TRIBUN-TIMUR.COM – Pendeta Gilbert Emanuel Lumoindong kembali menjadi perhatian publik.
Kali ini, ia menyuarakan ajakan menahan diri di tengah polemik dugaan penistaan agama yang menyeret nama Jusuf Kalla.
Gilbert meminta seluruh elemen bangsa tidak terburu-buru bereaksi atas potongan video Wakil Presiden RI yang ke-10 dan 12.
Ia menekankan pentingnya mengedepankan dialog dan memahami konteks sebelum mengambil kesimpulan.
Dalam sebuah podcast di YouTube yang dipantau Rabu (15/4/2026), ia menyampaikan pesan menyejukkan.
“Setiap orang harus cepat mendengar, tetapi lambat berkata-kata dan lambat marah,” ujarnya.
Gilbert mengingatkan bahaya menilai seseorang hanya dari potongan video yang beredar di media sosial.
Ia menyebut fenomena tersebut sebagai “comotologi”, yakni mengambil sebagian pernyataan tanpa melihat konteks utuh.
Menurutnya, pernyataan Jusuf Kalla justru disampaikan dalam kerangka pengalaman konflik di Poso dan Ambon.
Pesan yang ingin ditegaskan, kata dia, adalah bahwa tidak ada agama yang membenarkan kekerasan terhadap orang tak bersalah.
“Semua agama mengajarkan cinta kasih, bukan pembunuhan,” tegasnya.
Gilbert juga mengajak masyarakat bercermin dari pengalaman masa lalu, termasuk kasus yang menimpa Basuki Tjahaja Purnama.
Ia menilai, polemik yang dipicu potongan video saat itu seharusnya menjadi pelajaran agar publik tidak kembali terjebak dalam reaksi emosional.
“Kita harus lebih bijaksana dan tidak mudah terpancing,” ujarnya.
Ia bahkan mengimbau pihak yang telah melontarkan pernyataan keras untuk menarik atau menghapusnya demi menjaga suasana tetap kondusif.
Dorong Dialog Antar Lembaga
Dalam pandangannya, persoalan keagamaan sebaiknya tidak selalu dibawa ke ranah hukum. Gilbert mendorong penyelesaian melalui komunikasi antar tokoh dan lembaga keagamaan.
Ia menilai dialog antara Majelis Ulama Indonesia dan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia menjadi langkah yang lebih bijak.
“Kalau ada masalah, sebaiknya diselesaikan lewat percakapan antar pemimpin agama,” katanya.
Gilbert juga mengingatkan bahwa penggunaan pasal penistaan agama berpotensi menimbulkan konflik baru jika tidak disikapi secara hati-hati.
Di tengah situasi nasional yang dinilai tidak mudah, Gilbert menegaskan pentingnya menjaga persatuan.
Ia mengajak masyarakat tidak larut dalam konflik horizontal, melainkan fokus pada persoalan yang lebih mendesak, seperti korupsi dan narkoba.
“Yang paling utama adalah menjaga keutuhan bangsa,” pungkasnya. (*)
Profil Pendeta Gilbert Emanuel Lumoindong
Pendeta Gilbert Emanuel Lumoindong lahir di Jakarta, 26 Desember 1966.
Ia dikenal sebagai pemuka agama Kristen Protestan di Indonesia.
Saat ini, Gilbert menjabat sebagai Gembala Sidang di Gereja Bethel Indonesia Glow Fellowship Centre.
Ia juga pernah memimpin Departemen Pekabaran Injil di Badan Pengurus Pusat Sinode GBI.
Masa kecilnya tidak mudah. Gilbert sempat mengalami gangguan saraf otak hingga usia 10 tahun.
Setelah pulih, ia memutuskan untuk mendedikasikan hidupnya dalam pelayanan.
Pada usia 17 tahun, ia mulai aktif berkhotbah di berbagai organisasi pemuda Kristen.
Pendidikan teologi ditempuh di Lembaga Pendidikan Teologi Indonesia dan lulus diploma pada 1990.
Ia kemudian melanjutkan studi di Institut Teologi dan Pendidikan Indonesia.
Karier pelayanannya terus berkembang. Ia pernah menjabat sebagai ketua di Gospel Overseas Studio Jakarta pada 1993–1997.
Pada 1998, Gilbert mendirikan GL Ministry sebagai wadah pelayanan.
Kini, ia memimpin sekitar 18.000 jemaat dan aktif menyampaikan khotbah melalui berbagai media, termasuk televisi dan radio.
Selain sebagai pendeta, Gilbert juga dikenal sebagai penulis produktif.
Sejumlah bukunya antara lain Raise Up The Standard, Prinsip Hidup Warga Kerajaan Allah, Lidah, Karakter Warga Kerajaan, hingga 33 Ways To Lead As Jesus Led.
Dalam kehidupan pribadi, Gilbert menikah dengan Reinda Mamangkey dan dikaruniai tiga anak.
Di balik kiprahnya, perjalanan Gilbert juga diwarnai sejumlah kontroversi.
Pada 2020, pernyataannya terkait dukungan Paus Fransiskus terhadap serikat sipil homoseksual menuai reaksi dari komunitas Katolik di Indonesia.
Pada 2022, ia mendapat peringatan dari Badan Pengurus Pusat GBI atas komentarnya mengenai kasus hukum yang dinilai di luar kapasitasnya sebagai pemuka agama.
Sementara pada 2024, Gilbert sempat dilaporkan atas dugaan penistaan agama terkait pernyataannya yang menyinggung zakat dan salat.
Meski demikian, ia tetap aktif dalam pelayanan dan terus berkontribusi dalam penyebaran ajaran Kristen di Indonesia.
Dampingi Bharada E
Kasus pembunuhan Brigadir Yosua Hutabarat atau Brigadir J menjadi pusat perhatian publik, lantaran motif Ferdy Sambo masih menjadi misteri.
Berbagai pihak pun berupaya dalam menangani ksus tersebut, hingga Lembaga Saksi dan Perlindungan Korban (LPSK) menunjuk seorang pendeta Gilbert Emanuel Lumoindong.
Bukan tak beralasan, sosok pendeta itu pun mendampingi terapi spiritual ke Bharada Richard Eliezer atau Bharada E.

