TRIBUNNEWS.COM - Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), JD Vance, mengatakan ada banyak ketidakpercayaan antara AS dan Iran yang tidak dapat diselesaikan dalam semalam.
Namun, JD Vance menyebut, para negosiator Iran ingin mencapai kesepakatan dan bahwa ia merasa "sangat optimis dengan situasi saat ini."
Gencatan senjata dua minggu yang rapuh antara AS dan Iran masih tersisa satu minggu lagi.
JD Vance diketahui terlibat dalam pembicaraan akhir pekan lalu di Pakistan.
“Tentu saja, ada banyak ketidakpercayaan antara Iran dan Amerika Serikat. Anda tidak akan menyelesaikan masalah itu dalam semalam,” kata JD Vance selama acara Turning Point USA, Selasa (14/4/2026), dilansir Al Arabiya.
"Para negosiator Iran ingin mencapai kesepakatan. Saya merasa sangat optimis dengan situasi saat ini,” tambah JD Vance.
Sementara, Presiden AS Donald Trump mengatakan, pembicaraan untuk mengakhiri perang Iran dapat dilanjutkan di Pakistan dalam dua hari ke depan.
Hal itu disampaikan Trump setelah runtuhnya negosiasi akhir pekan yang mendorong Washington untuk memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Adapun perang Iran dimulai ketika AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026.
Iran merespons dengan serangan balasan terhadap Israel dan negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan AS.
Serangan AS-Israel terhadap Iran dan serangan Israel di Lebanon telah menewaskan ribuan orang dan menyebabkan jutaan orang mengungsi.
Pakistan sedang berupaya untuk mempertemukan kembali Iran dan AS untuk putaran kedua pembicaraan.
Upaya Pakistan ini juga untuk mengamankan perpanjangan gencatan senjata guna memungkinkan diplomasi antara AS dan Iran.
Baca juga: Negosiasi dengan Teheran Lanjut Lagi, Trump: Perang Iran Akan Segera Usai
Pembicaraan di Islamabad, Pakistan, yang berlangsung dari Sabtu (11/4/2026) hingga Minggu (12/4/2026) pagi waktu setempat, adalah pertemuan langsung AS-Iran pertama dalam lebih dari satu dekade dan diskusi tingkat tertinggi sejak Revolusi Islam Iran tahun 1979.
“Upaya sedang dilakukan untuk membawa kedua pihak kembali ke meja perundingan, tentu saja kami ingin mereka kembali ke Islamabad, tetapi tempatnya belum final,” kata seorang sumber senior Pakistan kepada AFP, Selasa (14/4/2026).
“Pertemuan itu bisa segera berlangsung meskipun tanggalnya belum dikonfirmasi,” kata sumber tersebut.
Sumber tersebut menambahkan: “Kami juga berupaya agar gencatan senjata diperpanjang melampaui batas waktu saat ini untuk memberikan waktu tambahan.”
Amerika Serikat dan Iran sedang mempertimbangkan negosiasi tatap muka baru dalam upaya mencapai kesepakatan yang bertujuan mengakhiri perang enam minggu mereka sebelum gencatan senjata berakhir minggu depan.
Hal ini sebagaimana dilaporkan Associated Press pada Selasa, mengutip dua pejabat AS dan seseorang yang mengetahui perkembangan tersebut.
Ketiganya mengatakan diskusi masih berlangsung tentang putaran pembicaraan baru, kata AP, mencatat bahwa seorang diplomat dari salah satu negara mediator bahkan mengatakan bahwa Teheran dan Washington telah menyetujuinya.
Baca juga: Menlu Rusia Tawarkan Diri Jadi Penengah Penyelesaian Konflik Iran-AS
Ditambahkan bahwa keempatnya berbicara dengan syarat anonim untuk membahas negosiasi diplomatik yang sensitif.
"Masih belum jelas apakah delegasi dengan jumlah yang sama akan diharapkan hadir," kata diplomat dan pejabat AS tersebut, menurut AP.
“Diplomat dan pejabat AS mengatakan Islamabad, Pakistan, sekali lagi dibahas sebagai lokasi penyelenggaraan. Pejabat AS juga mengatakan Jenewa adalah kemungkinan, dan meskipun tempat dan waktunya belum diputuskan, pembicaraan dapat terjadi pada hari Kamis,” kata laporan itu.
Tidak ada tanggapan langsung dari Gedung Putih mengenai masalah ini.
Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada wartawan pada Senin (13/4/2026) bahwa "kami telah dihubungi oleh pihak lain" dan "mereka ingin mencapai kesepakatan."
Reuters juga melaporkan pada hari Selasa bahwa tim negosiasi dari AS dan Iran dapat kembali ke Islamabad minggu ini, mengutip empat sumber.
(Tribunnews.com/Nuryanti)