Laporan Muhammad Azzam
TRIBUNBEKASI.COM, BEKASI- Fenomena El Nino “Godzilla” ramai menjadi perbincangan di Indonesi. Istilah ini ramai dibahas karena dikaitkan dengan potensi cuaca ekstrem berupa kemarau lebih panjang dan penurunan curah hujan di berbagai wilayah yang diprediksi berpotensi terjadi selama musim kemarau tahun ini, sekitar April hingga Oktober 2026.
Untuk cuaca di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat panas terik pada siang hari. Akan tetapi pada malam harinya turun hujan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi mengungkapkan terkait fenomena itu.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi, Dodi Supriadi, mengatakan bahwa Kabupaten Bekasi menghadapi peralihan musim, artinya belum bisa disebut El Nino “Godzilla".
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Juli hingga September 2026.
Kondisi cuaca saat ini masih menunjukkan adanya hujan di sejumlah wilayah. Hal ini menjadi perhatian karena Kabupaten Bekasi masih berada dalam status siaga darurat bencana hidrometeorologi.
“Berdasarkan Keputusan Bupati Bekasi Nomor 100.3.3.2/Kep.508-BPBD/2025, status siaga darurat bencana banjir, banjir bandang, cuaca ekstrem, gelombang ekstrem, abrasi, dan tanah longsor berlaku hingga 30 April 2026,” ujar Dodi Supriadi pada Rabu (5/4/2026).
Dodi menerangkan, dengan kondisi tersebut masyarakat Kabupaten Bekasi diminta agar tidak lengah terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih dapat terjadi di masa peralihan musim.
BPBD Kabupaten Bekasi juga mengeluarkan sejumlah imbauan sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau.
"Masyarakat diminta bijak dalam penggunaan air bersih, termasuk menghemat pemakaian dan segera memperbaiki kebocoran," imbuhnya.
Warga juga turut diingatkan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, dengan tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah, serta tidak membuang puntung rokok sembarangan.
“Untuk pencegahan kebakaran warga dihimbau tidak melakukan pembakaran lahan, sampah, atau membuang puntung rokok sembarangan, karena risiko kebakaran meningkat tinggi,” kata Dodi.
Di sektor pertanian, petani dihimbau untuk mulai menyesuaikan pola tanam dengan menggunakan varietas tanaman yang tahan kekeringan serta mengoptimalkan pengelolaan air.
“Petani dihimbau menggunakan varietas padi atau tanaman yang tahan kekeringan, mengatur jadwal tanam, dan mengoptimalkan pengolahan air,” ucapnya.
Upaya menjaga lingkungan juga menjadi perhatian, di antaranya dengan mempertahankan pohon lindung di sekitar permukiman serta berpartisipasi dalam program pelestarian lingkungan.
“Upaya menjaga lingkungan harus menjadi perhatian bersama, di antaranya dengan mempertahankan pohon lindung di sekitar permukiman serta aktif dalam program pelestarian lingkungan,” imbuhnya.
Dari sisi kesehatan, Dodi meminta masyarakat turut menjaga kebersihan lingkungan masing-masing guna mengantisipasi penyakit akibat debu dan memastikan ketersediaan air bersih tetap terjaga.
“Dari sisi kesehatan, masyarakat juga perlu menjaga kebersihan lingkungan untuk mengantisipasi penyakit akibat debu, sekaligus memastikan ketersediaan air bersih tetap terjaga,” tuturnya.
Lebih lanjut, Dodi menekankan pentingnya masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca resmi dari BMKG sebagai acuan dalam beraktivitas.
“Langkah-langkah ini penting untuk mengurangi risiko kekeringan serta menjaga ketahanan air dan pangan masyarakat,” tandas Dodi. (MAZ)