SURYA.CO.ID, SURABAYA - Adopsi hasil riset oleh industri di Jawa Timur (Jatim) dinilai masih sangat minim. Padahal, sinergi antara dunia riset dan industri menjadi kunci dalam mendorong transformasi ekonomi daerah.
Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur (Kadin Jatim), Adik Dwi Putranto, dalam kegiatan Dialog Strategis DRI Week di Universitas Airlangga (Unair) pada Selasa (14/4/2026).
“Sejauh ini riset yang dilakukan hanya terhenti pada publikasi. Padahal untuk mendorong transformasi ekonomi di Jatim membutuhkan sinergi yang kuat antara dunia riset dan industri,” kata Adik.
Secara makro, Jawa Timur memiliki posisi strategis dalam perekonomian nasional. Pada 2025, nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai sekitar Rp 3.403 triliun dengan pertumbuhan ekonomi 5,33 persen.
“Peran strategis Jatim semakin terlihat sebagai hub manufaktur dan logistik di kawasan Indonesia Timur,” jelas Adik.
“Masih terdapat persoalan mendasar yang menghambat optimalisasi potensi tersebut, yakni kesenjangan antara riset dan industri,” ungkapnya.
“Diperlukan pergeseran menuju pendekatan demand-driven research, yakni riset yang berbasis pada kebutuhan nyata industri,” tegas Adik.
“Dengan pendekatan ini, Kadin berharap tercipta ekosistem inovasi yang lebih terintegrasi,” pungkas Adik.