Laporan Wartawan Tribun Gayo Fikar W. Eda | Jakarta
Tribungayo.com, JAKARTA - Ismail Rasyid menyoroti potensi dampak besar penutupan Selat Hormuz terhadap rantai pasok global dalam sidang terbuka doktor yang berlangsung di Institut Transportasi dan Logistik (ITL) Trisakti, Jakarta, Rabu (15/4/2026).
Menjawab pertanyaan salah seorang tim penguji, Ismail Rasyid menegaskan bahwa Selat Hormuz merupakan jalur strategis distribusi energi dunia.
Penutupan jalur tersebut, meski hanya dalam waktu dua minggu, dapat mengganggu produksi global secara signifikan.
"Jika Selat Hormuz ditutup selama dua minggu saja, maka dunia bisa mengalami gangguan produksi. Rantai pasok global akan terganggu di seluruh lini," ujarnya di hadapan para penguji dan undangan.
Ia menjelaskan bahwa ada tiga faktor utama yang menjadi kunci dalam menghadapi dinamika global tersebut, yakni informasi, teknologi, dan energi.
Baca juga: Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia Tegaskan Selat Hormuz Tetap Dibuka
"Pertama adalah informasi, untuk membaca apa yang akan terjadi ke depan. Kedua teknologi, karena tanpa itu kita akan tertinggal. Ketiga energi, sebagai penopang utama aktivitas industri dan logistik,” jelasnya.
Lebih lanjut, Ismail menyoroti pentingnya transformasi digital dalam sektor logistik.
Menurutnya, kekuatan jaringan fisik kini tidak lagi menjadi faktor dominan, melainkan kemampuan memanfaatkan teknologi digital.
"Di negara maju, proses logistik sudah berbasis digital. Banyak hal bisa diselesaikan tanpa harus membuka cabang fisik. Bahkan, cukup dari satu tempat, pekerjaan bisa selesai dengan cepat,” katanya.
Ia membandingkan dengan kondisi di Indonesia yang masih menghadapi tantangan dalam adopsi digitalisasi.
"Di pelabuhan luar negeri, perpindahan kontainer sudah otomatis dan bisa selesai dalam waktu singkat. Sementara di kita bisa memakan waktu hingga 10 hari. Ini menjadi tantangan besar,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ismail juga menekankan pentingnya penguatan sumber daya manusia.
Ia menyebut bahwa keberhasilan perusahaan logistik sangat ditentukan oleh kekuatan tim, kepercayaan (trust), serta sistem pengawasan yang terintegrasi.
"Perlu ada pelatihan kompetensi, membangun kepercayaan dalam tim, serta pengawasan lintas departemen. Ini akan mendorong loyalitas dan kinerja yang lebih baik,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa dukungan teknologi harus dimaksimalkan untuk mempercepat akselerasi kerja dan memberikan kemudahan bagi tim.
Selain itu, Ismail juga menyoroti tingginya biaya logistik di Indonesia yang masih menjadi salah satu yang tertinggi di kawasan ASEAN.
"Ini menjadi pekerjaan besar yang tidak mudah. Diperlukan integrasi antara pelaku usaha, mitra kerja, dan pemerintah untuk menekan biaya logistik," tegasnya.
Pernyataan tersebut menjadi bagian dari pandangan strategis Ismail Rasyid dalam sidang terbuka doktornya di ITL Trisakti, yang turut menyoroti tantangan dan peluang transformasi sektor logistik di tengah dinamika global. (*)