TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN - Update terkini perkembangan temuan jenazah pria inisial IS telah dirilis. Polisi sebut penyebabnya bukan dibunuh melainkan bunuh diri. Ini diperkuat dengan riwayat rekam medis IS yang memiliki disabilitas mental yang mengarah pada gangguan perilaku atau dikenal Skizofrenia. Hal ini disampaikan Kapolres Tarakan, AKBP Erwin S. Manik melalui Kasat Reskrim Polres Tarakan, AKP Reginald Yuniawan Sujono rilis pers siang tadi, Rabu (15/4/2026).
Kasat Reskrim Polres Tarakan memaparkan, penemuan jenazah IS di Jalan Gajah Mada, RT 3 Karang Rejo, Kecamatan Tarakan Barat, Tarakan atau tepatnya di salah satu ruko di Pasar Gusuer, diketahui korban berusia 29 tahun, tinggal di Karang Rejo RT 3. Dalam hal ini, 7 saksi sudah dilakukan pemeriksaan. Di antaranya rekan korban, ibu angkat korban, dan tetangga korban di sekitar TKP.
Untuk barang bukti yang diamankan, satu pisau daging yang berlumuran darah, dua utas tali rafia, berwarna kuning dan hijau. Kemudian, tiga potongan kardus yang terkena percikan darah. Dan dua buah bungkus rokok.Selai. Itu juga satu celana dalam yang dikenakan IR atau IS.
Tim juga mengamankan satu buah botol parfum, satu sajadah, satu buah botol air mineral, asbak dan masih berisi puntung rokok, satu unit Handphone dalam keadaan terlepas baterainya, satu buah gelas plastik bening yang masih berisi minuman kopi dan dengan keadaan masih setengah isinya.
Baca juga: Update Temuan Jenazah di Pasar Gusher Tarakan: Kesaksian Lurah hingga Tetangga
"Selanjutnya, satu Handphone yang ditemukan di kantong celana bagian depan korban, merek Poco. Serta KTP, kain sprei dan badcover," ujar Kasat Reskrim Polres Tarakan.
Berdasarkan hasil pemeriksaan beberapa saksi korban sempat mengaku depresi. Diketahui juga korban merupakan menyandang disabilitas mental atau istilah formal yang merujuk pada keterbatasan akibat gangguan pada pola pikir, emosi, dan perilaku.
Yang terakhir, himbauan kepolisian agar masyarakat tidak mudah terprovokasi sosial hoax, baik melalui media sosial maupun platform apapun.
Ia melanjutkan lagi, dari hasil pemeriksaan visum yang didapat dari dokter forensik, disampaikan tidak dijumpai tanda-tanda kekerasan maupun tanda-tanda perlawanan dari korban apabila ada tindak pidana.
Baca juga: Tetangga Ruko Tidak Ada Dengar Teriakan Korban, Pengelola Pasar Gusher Sebut tak Pernah Cekcok
"Kami juga sudah periksa tetangga samping rukonya itu. Penjelasan tetangga belum tidak ada keributan pada saat kejadian," ujarnya.
Hasil visum hanya terdapat luka cuma di bagian leher saja. Di bagian organ lain tidak ditemukan. "Ada juga lebam di sebelah kanan. Lebam ini karena posisinya saat menggorok di leher terjatuh, miringnya ke kiri. Karena miringnya ke kiri, itulah muncul lebam mayat di kiri," jelasnya.
Ia melanjutkan sesuai penjelasan dokter, penderita yang memiliki disabilitas mental tersebut punya potensi menyakiti dirinya sendiri.
" Karena dia ada riwayatnya itu.Kita juga temuin juga obat-obatan rutin yang dia minum," ujarnya.
Keterangan keluarga juga membenarkan yang bersangkutan pernah ingin melakukan perbuatan menyakiti diri sendiri sehingga semua benda sajam diamankan dan dijauhkan darinya.
IS atau IR diketahui sudah lama menderita penyakit itu. "Kurang lebih dua tahun lebih," jelasnya.
Berbicara CCTV, pihaknya sudah melakukan pemeriksaan kemarin dan memang ada CCTV namun tidak biaa menyimpan data karena full memori. Kemudian ada juga tidak mengarah ke TKP. Disimpulkan penyebabnya, korban mengalami depresi atau halusinasi
"Dari dokter juga menjelaskan ini mengarah ke skizofrenia penyakitnya. Skizofrenia itu kayak halusinasi dan paranoid. Ada ditemukan obat di rumahnya. Di rumahnya korban. Obat-obatan dan rekam medik itu," jelasnya.
Korban diketahui hanya membantu orangtua angkatnya berjualan di ruko. Kadang ruko dijadikan tempat istirahat.
Berdasarkan keterangan dihimpun lanjutnya, korban kadang beberapa kali kambuh penyakitnya.
"Memang dia kalau dia kambuh kadang mengarah ke melukai diri sendiri. Pernah juga bakar rumah dia. Mengamuk juga," jelasnya.
Kemudian berbicara detail cara korban melukai dirinya sendiri hingga bersimbah darah dimulai dari kiri lehar ke kanan leher.
Saat pisau sampai ke leher kanan, sayatannya lebih kecil dari sayatan di sebelah kiri leher.
" Luka di leher cukup lebar. Dijumpai luka terbuka pada leher sisi kiri dengan panjang luka 2,5 cm dan lebar 1 cm dengan jarak 9,5 cm dari puncak telinga kiri dan 12 cm dari garis tengah tubuh," paparnya.
Kemudian dijumpai luka terbuka pada leher sisi kiri dengan ukuran panjang 3,5 cm dan lebar 1 cm dengan jarak 10 cm dan 7 cm dari garis tengah tubuh. Dan dijumpai luka terbuka pada leher dengan ukuran panjang 20 cm dan lebar 8 cm dan lebar 4 cm dengan jarak setengah dengan garis tengah tubuh dan kedalaman luka 6 cm.
"Enam sentimeter itu dalam," jelasnya.
Untuk HP korban belum bisa dibuka karena terkunci dan ada paswod. Ditanya penyebab apakah benar Is lupa meminum obat, ia belum bisa membenarkan.
"Itu dokter yang menjelaskan apakah karena dia lupa minum obat lalu kambuh. Saat kejadian, korban sendiri. Di TKP tidak ada yang tinggal. Keterangan terakhir habis salat Isya masih bertemu korban. Ditemukannya saksi sekitar pukul 20.30 WITA," terangnya.
Keterangan dokter, waktu kematian berdasarkan kekakuan mayat. Dan Tim Olah TKP mencapai 3 jam.
"Olah TKP lama dan tidak ada kendalanya. Karena kita memang harus teliti. Karena kan keterangannya dari saksi yang pertama kali melihat yang merekam ada yang tersebar itu rekaman itu, tidak ada pisau. Ternyata setelah kita mau angkat jenazah, dipindakan mayat baru kelihatan pisau ini tertindis. Pisau yang berlumur darah," paparnya.
Pisau tertindis di bagian betis. Untuk sidik jari di pisau juga tak bisa diperiksa karena rusak kena darah. Sidik lainnya di lokasi TKP tidak ditemukan.
"Bercak kaki itu kan sekitaran korban itu berlumuran darah itu. Tidak ada juga bekas kaki orang lain di situ. Jadi tidak ada sama sekali upaya hilangkan barang bukti," pungkasnya.
(*)
Penulis: Andi Pausiah