Pemilik Toko Kelontong di Pangkalpinang Terpaksa Naikkan Harga Jual Plastik Kemasan
Fitriadi April 15, 2026 04:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Pedagang makanan dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mulai mengeluhkan lonjakan harga kemasan.

Harga produk plastik jadi naik antara 40 persen hingga 80 persen. Kenaikan mencakup kemasan yang banyak digunakan pelaku UMKM.

Aisyah, pedagang kelontong di Kota Pangkalpinang mengaku tidak tahu penyebab naiknya harga plastik kemasan.

Aisyah membeli langsung plastik kemasan di toko distributor.

"Harganya bervariasi, tergantung ukuran kantongnya, semakin besar semakin mahal harganya," ujar Aisyah ditemui Bangkapos.com di toko miliknya, Rabu (15/4/2026).

Karena harga dari distributor sudah naik, Aisyah pun terpaksa menyesuaikan harga jual plastik kemasan di tokonya.

"Cuma kasian bagi para pedagang makanan, mereka kalau naikkan harga jual makanan kan bisa-bisa tidak laku," kata Aisyah.

Kenaikan harga plastik juga dirasakan oleh masyarakat di Kecamatan Koba, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. 

Kondisi ini turut berdampak pada para pedagang, yang harus menyesuaikan harga jual akibat meningkatnya biaya modal.

Fajar, satu di antara pemilik toko plastik di Koba menyebutkan bahwa lonjakan harga terjadi hampir pada seluruh jenis produk berbahan plastik.

Fajar menyebut kenaikan tersebut bukan sekadar naik, melainkan sudah mengalami perubahan harga secara signifikan.

“Bukan naik lagi, tapi sudah ganti harga. Biasanya modal sekitar Rp750 ribu per karung, sekarang bisa mencapai Rp1,3 juta. Kami sebagai pedagang mau tidak mau harus menambah modal,” ujar Fajar kepada Bangkapos.com, Kamis (9/4/2026).

Menurut Fajar, beberapa produk mengalami kenaikan lebih dari 50 persen. Salah satunya adalah kantong plastik putih yang sebelumnya dijual Rp35 ribu per pak, kini melonjak menjadi Rp58 ribu. 

Ia menyebut harga tersebut merupakan yang tertinggi selama dirinya berjualan.

Kenaikan ini, lanjutnya, diduga berkaitan dengan kondisi global. Berdasarkan informasi dari produsen, gejolak internasional menjadi salah satu pemicu utama naiknya harga bahan baku plastik.

“Kenaikan ini mulai terasa sejak satu hari setelah perang di Iran. Bahan biji plastik banyak berasal dari Timur Tengah, sementara di dalam negeri tidak tersedia,” jelasnya.

Fajar juga mengungkapkan kekhawatirannya jika harga masih terus naik dalam waktu dekat. Pasalnya, kondisi ini tidak hanya memberatkan pedagang, tetapi juga para pelaku UMKM yang menjadi pelanggan utamanya.

“Mudah-mudahan bisa kembali normal. Pembeli kami kebanyakan UMKM, mereka pasti mengeluh, tapi kami juga tidak punya pilihan karena modal sudah besar,” kata Fajar. (Bangkapos.com/Widodo/Rifqi Nugroho)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.