WARTAKOTALIVE.COM, TANGSEL - Hujan deras yang turun seharian sudah cukup mengubah permukiman warga di Jalan Jogja 2, Keranggan, Setu, Kota Tangerang Selatan, Banten layaknya lautan.
Air dengan cepat naik, merendam rumah-rumah warga hingga mencapai dua meter.
“Kalau hujan sehari saja, sudah air akan naik, bahkan bisa sampai dua meter," ujar Yahya Sunarja selaku Ketua RW 06 Keranggan, Setu, Kota Tangerang Selatan pada Rabu (15/4/2026).
Yahya menyebut kondisi itu memaksa warga meninggalkan rumah mereka.
Sekitar 30 kepala keluarga, atau lebih dari 100 jiwa, terdampak setiap kali banjir datang.
Pada saat banjir menghadang, mereka terpaksa mengungsi ke balai warga, posyandu, hingga rumah tetangga yang lebih aman.
“Ya mengungsi, ada di balai warga, ada yang di posyandu, atau di rumah tetangga yang kosong,” ujarnya.
Banjir tidak hanya melumpuhkan aktivitas warga, tetapi juga membawa kerugian besar.
Rumah warga rusak, perabotan hancur, hingga barang elektronik tak lagi bisa digunakan.
Baca juga: Jadi TKA Ilegal, 78 WNA Ditangkap di Kawasan GIIC Deltamas Bekasi
“Yang pertama rumah rusak, yang kedua barang perabotan kayak elektronik sudah pasti nggak bisa dipakai lagi. Banyak yang merugi,” jelas Yahya.
TribunTangerang.com (Warta Kota Network) berada di lokasi dan mendapati sebuah rumah kuning dalam kondisi memprihatinkan.
Bagian lantai rumah tersebut dipenuhi lumpur, sementara atapnya tampak berjamur hingga mengelupas.
Dinding rumah mengalami kerusakan, dengan cat yang terkelupas dan terlihat jelas bekas genangan air di beberapa bagian tembok.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, rumah tersebut telah lama ditinggalkan pemiliknya.
Keluarga yang sebelumnya menghuni terpaksa pergi karena tidak sanggup menghadapi banjir yang terus datang setiap kali hujan turun.
Ironisnya, kawasan ini dulunya tidak pernah mengalami banjir.
Perubahan mulai dirasakan warga setelah pembangunan perumahan lain di sekitar wilayah tersebut sekitar tahun 2010-2011.
“Sebelumnya nggak ada banjir. Setelah ada perumahan barulah ada banjir,” ungkap Yahya.
Ia menduga, penyempitan aliran kali dan hilangnya area resapan air menjadi penyebab utama.
Dahulu, kawasan permukimannya sekitar masih berupa danau yang berfungsi menampung air.
“Di situ dulu semacam danau, jadi nggak pernah ada banjir,” tambahnya.
Pemerintahan Kota Tangerang Selatan kini mulai melakukan penanganan, seperti pembangunan turap dan penyediaan pompa air.
Hasilnya, genangan memang bisa lebih cepat surut dibanding sebelumnya.
“Sekarang sudah ada pompa, jadi sehari sudah surut. Kalau dulu lumayan lama,” kata Yahya.
Namun, solusi tersebut belum menyentuh akar persoalan.
Pendangkalan dan penyempitan kali masih menjadi masalah utama yang belum sepenuhnya tertangani.
“Semestinya harus normalisasi kali, dan juga penyempitan itu harus diselesaikan,” tegasnya.
Situasi ini membuat sebagian warga memilih pergi, setidaknya untuk sementara waktu saat musim hujan tiba.
Bahkan, ada yang akhirnya meninggalkan rumah mereka secara permanen karena tak sanggup menghadapi banjir yang terus berulang.
“Kalau musim hujan mereka pergi, nanti kemarau balik lagi. Tapi ada juga yang sudah capek, jadi ditinggalkan,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Tangerang Selatan, Pilar Saga Ichsan, meninjau langsung kondisi kali di kawasan perumahan yang kerap dilanda banjir parah, Rabu.
Dalam kunjungannya, ia melihat langsung penyempitan aliran air yang diduga menjadi salah satu penyebab utama genangan tinggi hingga mencapai dua meter.
“Hari ini saya meninjau langsung lokasi banjir di wilayah Serpong, dan memang ada beberapa kendala serius, terutama di aliran drainase yang harus segera kita perbaiki,” ujar Pilar.
Ia menjelaskan kondisi kali yang mengalami pendangkalan dan penyempitan membuat air tidak dapat mengalir dengan lancar saat hujan deras turun dalam waktu lama.
Akibatnya, air dengan cepat meluap ke permukiman warga.
“Saya sudah instruksikan ke dinas terkait untuk segera melakukan normalisasi kali dan juga perbaikan turap di titik-titik kritis,” katanya.
Menurut Pilar, pembangunan turap akan difokuskan pada area yang rawan longsor serta bagian kali yang mengalami penyempitan signifikan. Hal ini diharapkan dapat memperkuat struktur sekaligus memperlancar aliran air.
“Rencananya kita akan bangun turap sepanjang kurang lebih 100 sampai 150 meter di titik-titik yang memang rawan,” jelasnya.
Ia menambahkan proyek tersebut ditargetkan mulai dikerjakan dalam tahun ini agar dampaknya bisa segera dirasakan oleh warga yang selama ini terdampak banjir berulang.
“Targetnya tahun ini sudah mulai pengerjaan dan kalau bisa selesai secepatnya supaya masyarakat tidak was-was lagi setiap hujan turun,” lanjut Pilar.
Selain pembangunan turap, pemerintah juga memastikan kesiapan pompa air yang selama ini menjadi salah satu solusi sementara untuk mempercepat surutnya genangan.
Pompa air harus selalu dalam kondisi standby dan berfungsi dengan baik, karena itu sangat membantu mempercepat surutnya air,” ujarnya.
Terkait kemungkinan pembangunan kolam retensi, Pilar menyebut pihaknya masih akan mengkaji ketersediaan lahan yang ada di sekitar kawasan tersebut.
“Untuk kolam retensi kita lihat dulu lahannya, tapi yang paling utama sekarang adalah memastikan aliran air ini tidak terhambat,” katanya.
Ia juga menyoroti adanya dugaan dampak pembangunan perumahan lain yang menyebabkan penyempitan saluran air, sehingga memperparah kondisi banjir di wilayah tersebut.
“Nanti kita akan panggil pihak pengembang terkait untuk duduk bersama, jangan sampai pembangunan di satu sisi merugikan warga di sisi lain,” tegasnya.
Menurutnya, koordinasi antar pihak menjadi kunci penting dalam menyelesaikan persoalan banjir yang sudah berlangsung cukup lama ini.
“Kita minta ada perbaikan drainase dan pelebaran jalur air supaya semuanya terintegrasi dengan baik,” tambah Pilar.
Pilar menyampaikan pesan kepada masyarakat agar turut menjaga kebersihan lingkungan, khususnya tidak membuang sampah ke saluran air.
“Saya minta warga bersabar, pemerintah tidak tinggal diam. Tapi kami juga butuh dukungan masyarakat, terutama untuk tidak membuang sampah ke kali karena itu memperparah penyumbatan,” jelasnya. (m30)