Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Jenderal Louis
AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Pergantian pucuk pimpinan di Kodam XV/Pattimura menjadi sorotan di tengah kasus kecelakaan tragis yang menimpa seorang siswi SMP di Kota Ambon.
Di balik seremoni pisah sambut, keluarga korban justru mempertanyakan kepedulian para petinggi TNI.
Khususnya karena Pangdam sebelumnya tak pernah menjenguk korban selama masa kritisnya sampai saat ini, sudah sebulan lebih dirawat.
Jabatan Pangdam XV/Pattimura kini resmi diemban oleh Mayjen TNI Dody Tri Winarto, menggantikan Mayjen TNI Putranto Gatot Sri Handoyo.
Acara pisah sambut berlangsung di Aula Makorem 151/Binaiya pada Senin (13/04/2026), dan turut dihadiri Kepala Staf Umum (Kasum) TNI, Letjen TNI Richard Taruli Horja Tampubolon.
Namun di tengah agenda tersebut, perhatian terhadap korban justru dipertanyakan.
Baca juga: Siswi SMP di Ambon Dilindas Truk TNI Bermuatan Casis, 41 Hari Menderita di Rumah Sakit
Pangdam Tak Pernah Menjenguk
Keluarga korban mengungkapkan kekecewaan mendalam. Selama 41 hari sejak insiden terjadi, Pangdam sebelumnya disebut tidak pernah datang menjenguk putri mereka yang kini masih terbaring lemah di rumah sakit.
Ibu korban, Mariska Muskitta (41), tak mampu menyembunyikan kesedihannya. Ia mengaku sangat terpukul melihat kondisi anaknya tanpa kehadiran pimpinan tertinggi TNI di wilayah tersebut.
“Hati saya teriris. Anak saya menderita seperti ini, tapi sampai beliau selesai menjabat, tidak pernah datang melihat kondisi anak saya,” ungkap Mariska.
Dari jajaran petinggi TNI, hanya Danrem 151/Binaiya, Brigjen TNI Raffles Manurung, yang tercatat datang menjenguk korban, yakni pada 10 Maret 2026—beberapa hari setelah kejadian.
Baca juga: Nakes di Malteng Akui Terima Gaji PPPK Paruh Waktu Senilai Rp 500 Ribu
Mariska menyebut, kehadiran pimpinan bukan sekadar formalitas, tetapi bentuk empati bagi keluarga yang sedang menghadapi masa sulit.
“Kami tidak minta lebih, hanya ingin ada kepedulian. Datang melihat saja itu sudah sangat berarti bagi kami,” tambahnya.
Upaya Keluarga Hubungi Kasum TNI
Sebelumnya, ketika merasa kurang mendapat perhatian, keluarga korban akhirnya berinisiatif menghubungi Kasum TNI, Letjen TNI Richard Tampubolon, melalui pesan WhatsApp usai Hari Raya Idul Fitri.
Dalam pesan tersebut, keluarga menyampaikan kondisi korban sekaligus harapan akan adanya perhatian dan tanggung jawab lebih lanjut dari pihak TNI.
Respons yang diterima terbilang cepat dan positif. Kasum TNI disebut menyatakan akan segera meneruskan laporan tersebut kepada Pangdam XV/Pattimura yang baru.
“Kami berterima kasih karena responsnya sangat baik. Kami berharap ada tindak lanjut nyata untuk anak kami,” ujar Mariska.
Kondisi Korban Masih Memprihatinkan
Korban, siswi kelas IX SMP Negeri 6 Ambon berinisial SKP (14), hingga kini masih menjalani perawatan intensif.
Sudah lebih dari 41 hari sejak kecelakaan pada 6 Maret 2026, namun kondisinya belum pulih.
Ia mengalami pendarahan hebat pada organ hati, cedera serius pada panggul, serta patah tulang di bagian pangkal paha.
Tiga operasi besar telah dijalani, dan proses pemulihan masih panjang.
Di balik luka fisik, tekanan psikologis juga menghantui. SKP kerap menangis, sulit tidur, dan terus memikirkan sekolah serta masa depannya.
"Dia sering menangis, bilang takut tidak bisa sekolah lagi. Itu yang paling membuat saya hancur sebagai orang tua,” kata Mariska.
Kronologi Singkat Kejadian
Insiden terjadi pada Jumat, 6 Maret 2026, sekitar pukul 18.30 WIT di Jalan Jenderal Sudirman, Kecamatan Sirimau, tepat di depan Kantor Dinas Pariwisata Provinsi Maluku.
Saat itu, korban sedang dalam perjalanan pulang usai mengikuti les menggunakan ojek daring yang dikemudikan Jhon Soumury.
Rekaman CCTV menunjukkan sepeda motor yang ditumpangi korban tersenggol truk terakhir dalam rombongan konvoi TNI yang mengangkut calon siswa (casis).
Korban terjatuh, lalu terlindas truk yang tidak berhenti.
Warga yang menyaksikan kejadian langsung memberikan pertolongan sebelum korban dilarikan ke rumah sakit.
Damai dalam Tekanan, Bantuan Dipertanyakan
Ayah korban, Weyber Pagaya, mengaku sempat melaporkan kejadian itu ke Pomdam XV/Pattimura.
Namun dalam kondisi tertekan, ia menandatangani surat damai dengan pengemudi truk, Serda Sulaiman Laitupa.
Meski pihak TNI disebut telah memberikan bantuan dan menjamin biaya pengobatan, keluarga menilai dukungan tersebut belum sebanding dengan penderitaan yang dialami korban.
Mariska juga mengungkapkan bahwa perhatian sempat terasa di awal kejadian, namun perlahan berkurang.
“Awalnya memang ada perhatian, tapi setelah Lebaran itu seperti mulai hilang. Kami merasa ditinggalkan,” ujarnya.
Klarifikasi Kodam dan Sorotan Publik
Pihak Kodam XV/Pattimura melalui Kapendam Kolonel Inf. Heri Krisdianto menyatakan insiden tersebut bukan tabrak lari.
Ia menyebut pengemudi truk tidak menyadari kejadian, dan kecelakaan diduga terjadi karena sepeda motor mencoba masuk ke jalur konvoi.
Kodam juga mengklaim telah bertanggung jawab dengan menjenguk korban serta menjamin biaya pengobatan hingga sembuh.
Namun pernyataan tersebut tidak sepenuhnya meredam kritik.
Publik menyoroti perbedaan narasi antara keluarga dan pihak militer, termasuk minimnya kehadiran langsung pimpinan tertinggi.
Kasus ini pun menjadi ujian bagi kepemimpinan baru di Kodam XV/Pattimura.
Sementara itu, di sebuah ruang perawatan, SKP masih berjuang melawan rasa sakit, di usia yang seharusnya dipenuhi mimpi, bukan penderitaan. (*)