Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Panji Destama
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Sebanyak 19 orang di Provinsi Bengkulu positif campak, dari total 172 kasus yang suspek.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, drg Edriwan Mansyur, mengatakan dari Kota Bengkulu, sebanyak 20 sampel telah diperiksa di laboraturium dengan hasil 14 kasus yang dinyatakan positif.
Lalu, dari Kabupaten Rejang Lebong telah mengirimkan 11 sampel untuk dilakukan pemeriksaan dengan hasil 5 kasus positif.
“Kalau dari Kota Bengkulu 20 sampel yang dikirim 14 positif, lalu dari Rejang Lebong ada 11 sampel dengan hasil 5 kasus positif,” ungkap Edriwan saat diwawancarai di Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, Rabu (15/4/2026).
Edriwan mengatakan, masih ada beberapa Kabupaten yang belum mengirimkan sampel campak untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Namun, pihak nya memahami kendala yang dialami pihak Kabupaten seperti biaya pengiriman dan teknis lainnya.
“Masih ada kabupaten lain yang sedang berproses. Kami memahami adanya kendala, seperti biaya pengiriman dan teknis lainnya,” tutur Edriwan.
Edriwan menjelaskan, meski demikian kondisi tersebut dipastikan belum masuk kategori Kejadian Luar Biasa (KLB).
Pasalnya peningkatan kasus campak tidak hanya terjadi di Bengkulu, tetapi juga di berbagai wilayah di Indonesia.
Baca juga: Kasus Suspek Campak di Bengkulu Capai 172, Kota Bengkulu Tertinggi
“Penyakit campak ini merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus. Peningkatan kasus juga dipengaruhi oleh daya tahan tubuh yang menurun serta perubahan cuaca yang tidak menentu,” jelas Edriwan.
Berdasarkan pemantauan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR), tren peningkatan kasus memang terjadi secara nasional, namun belum menunjukkan kondisi KLB.
“Untuk Bengkulu sendiri, secara nasional kita belum masuk kategori alarm atau KLB. Namun, kami tetap melakukan langkah antisipasi agar tidak terjadi lonjakan yang lebih besar,” kata Edriwan.
Dari hasil pendataan yang dilakukan Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu bersama kabupaten/kota, tercatat sebanyak 172 kasus suspek campak berdasarkan gejala klinis.
Status suspek belum dapat dipastikan sebagai kasus campak sebelum melalui pemeriksaan laboratorium.
“Suspek ini belum tentu positif campak. Oleh karena itu, kami meminta setiap daerah untuk mengirimkan spesimen guna dilakukan pemeriksaan laboratorium di fasilitas rujukan,” papar Edriwan.
Sejauh ini, baru dua daerah yang merespons cepat dengan mengirimkan sampel, yakni Kota Bengkulu dan Kabupaten Rejang Lebong.
Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu terus menginstruksikan seluruh daerah untuk meningkatkan kewaspadaan, melakukan pelacakan (tracing), serta mempercepat pengiriman sampel.
Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk menjaga daya tahan tubuh guna mencegah penularan virus campak.
“Seperti pengalaman saat Covid-19, untuk penyakit yang disebabkan virus, kuncinya adalah meningkatkan imunitas tubuh, mengonsumsi makanan bergizi, serta menjaga aktivitas fisik,” tambah Edriwan.
Masyarakat agar lebih waspada terhadap perubahan cuaca serta membatasi aktivitas di luar rumah jika tidak diperlukan.
“Jika tidak ada kepentingan mendesak, sebaiknya kurangi aktivitas di luar rumah. Ini sebagai langkah pencegahan,” tutup Edriwan.