Nasib 250 Orang Pengungsi Rohingya dan Bangladesh: Kapalnya Terbalik dan Hilang di Laut Andaman
AbdiTumanggor April 15, 2026 04:54 PM

TRIBUN-MEDAN.COM - Sebanyak 250 orang pengungsi Rohingya dan warga Bangladesh dilaporkan hilang setelah kapal yang mengangkut mereka terbalik di Laut Andaman pada Selasa (14/4/2026). 

Menurut informasi badan pengungsi dan migrasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), 250 orang penumpang kapal itu terdiri dari pria, wanita, dan anak-anak.

Dikutip dari laporan CNN, kapal tersebut tenggelam akibat angin kencang, gelombang tinggi, serta kelebihan muatan.

Adapun kapal dilaporkan berlayar dari daerah Teknaf, wilayah selatan Bangladesh.

Tujuan mereka diduga ke Malaysia dan juga ke Indonesia.

“Tragedi ini menyoroti dampak kemanusiaan yang membawa kehancuran dari pengungsian berkepanjangan, dan terus berlanjutnya ketiadaan solusi jangka panjang bagi Rohingya,” kata Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), dan Organisasi Internasional untuk Migrasi kepada CNN

Selama bertahun-tahun, kelompok minoritas Rohingya dari Myanmar kerap menempuh perjalanan laut menggunakan perahu kayu sederhana.

Upaya tersebut dilakukan demi mencapai negara-negara tetangga di Asia Tenggara seperti Malaysia, Indonesia, dan Thailand.

Aksi berisiko itu terpaksa diambil untuk melarikan diri dari penganiayaan di Myanmar, maupun kondisi kamp pengungsi yang padat di Bangladesh.

Badan-badan PBB turut menyerukan peningkatan dukungan dari komunitas internasional, mencakup pendanaan bantuan kemanusiaan bagi pengungsi Rohingya di Bangladesh, serta bantuan bagi masyarakat setempat yang menampung mereka. 

Krisis Rohingya bermula pada 2017 saat militer Myanmar melancarkan operasi besar-besaran, membuat sedikitnya 730.000 warga Rohingya mengungsi ke Bangladesh. 

Para pengungsi melaporkan berbagai kekerasan, termasuk pembunuhan, pemerkosaan massal, dan pembakaran. 

Misi pencari fakta PBB menyimpulkan bahwa operasi militer Myanmar pada 2017 mengandung tindakan genosida.

Namun, Pemerintah Myanmar membantah tuduhan tersebut, menyatakan bahwa laporan tim pencari fakta PBB tidak obyektif dan tak dapat diandalkan.

Siapa Rohingya dan Sejarah di Myanmar

Pada Senin (21/3/2022) silam, Amerika Serikat secara resmi menyatakan, kekerasan militer Myanmar terhadap Muslim Rohingya yang menyebabkan lebih dari 700.000 orang melarikan diri merupakan tindakan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan. 

Ini adalah babak terbaru dalam sejarah panjang dan penuh gejolak kelompok Rohingya, populasi tanpa kewarganegaraan terbesar di dunia. 

Sekitar satu juta orang Rohingya tinggal di negara bagian Rakhine, barat Myanmar yang mayoritas beragama Buddha. Banyak di antara mereka yang jadi korban tindakan keras militer Myanmar tahun 2017. 

Lalu, siapa Rohingya dan bagaimana sejarahnya di Myanmar?

1. Sejarah Rohingya

Menurut beberapa catatan yang dikutip AFP, Rohingya adalah keturunan pedagang dan tentara Arab, Turki, atau Mongol yang pada abad ke-15 bermigrasi ke negara bagian Rakhine yang sebelumnya disebut Kerajaan Arakan.

Sejarawan lain mengatakan, Rohingya bermigrasi dari Banglades dalam beberapa gelombang.

Teori satu ini yang dipercaya banyak orang di Myanmar.

Selama berabad-abad minoritas Muslim kecil hidup damai bersama umat Buddha di kerajaan independen, dengan beberapa di antaranya bahkan menjadi penasihat bangsawan Buddha, menurut sejarawan. 

Pergolakan terjadi mulai akhir abad ke-18 ketika kerajaan itu ditaklukkan Burma dan kemudian oleh Inggris.

Sebagai bagian dari kebijakan membagi-dan-memerintah mereka, Inggris lebih menyukai orang Muslim, merekrutnya sebagai tentara selama Perang Dunia II dan mengadu mereka dengan umat Buddha yang bersekutu dengan Jepang saat konflik berkecamuk di tanah Burma.

Status mereka diperkuat pada 1947 ketika konstitusi baru dirancang, yang memberi mereka hak hukum dan suara penuh, tetapi itu hanya berlangsung singkat. 

2. Penganiayaan dan Penindasan

Kudeta militer Myanmar pada 1962 berujung pada era baru penindasan, dan undang-undang tahun 1982 melucuti mereka dari status kelompok etnis minoritas yang diakui.

Sebagian besar etnis Rohingya tinggal di Rakhine, tetapi ditolak kewarganegaraannya dan ditindas oleh pembatasan gerak dan pekerjaan.

Ratusan ribu orang Rohingya kemudian melarikan diri ke Banglades dalam gelombang kekerasan berturut-turut pada 1978 dan 1991-1992.

Oleh karena menggunakan dialek yang mirip dengan Chittagong di Banglades tenggara, Rohingya dibenci banyak orang di Myanmar yang melihat mereka sebagai imigran ilegal dan menyebutnya "Bengali".

Setelah junta dibubarkan pada 2011, di Myanmar terjadi peningkatan ekstremisme Buddhis yang semakin mengucilkan Rohingya dan menandai dimulainya era ketegangan terbaru. 

3. Rohingya jadi korban pemerkosaan, pembunuhan, pembakaran

Kekerasan sektarian antara Muslim Rohingya Sunni dan komunitas Buddha lokal pecah pada 2012, menyebabkan lebih dari 100 orang tewas dan negara terbagi menurut agama. 

Puluhan ribu orang Rohingya lalu melarikan diri selama lima tahun berikutnya ke Banglades dan Asia Tenggara, dengan perjalanan laut yang berbahaya dan dikendalikan oleh geng perdagangan brutal. 

Terlepas dari penganiayaan selama beberapa dekade, sebagian besar orang Rohingya tidak melawan balik dengan kekerasan. 

Baru pada 2016 sebuah kelompok militan kecil dan sebelumnya tidak dikenal yaitu Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) melancarkan serangkaian serangan yang terkoordinasi dengan baik dan mematikan terhadap pasukan keamanan.

Militer Myanmar pun menanggapinya dengan tindakan keras besar-besaran dengan alasan keamanan. 

Diperkirakan 391.000 orang Rohingya melarikan diri ke Bangladesh pada 2017, menurut PBB. 

Mereka membawa serta kisah-kisah mengerikan tentang pembunuhan, pemerkosaan, dan pembakaran.

Junta Myanmar saat ini mengeklaim pengadilan PBB tidak memiliki yurisdiksi dan meminta kasus tersebut dihentikan.

Statistik terbaru menunjukkan, sebanyak 850.000 orang Rohingya sekarang merana di kamp-kamp Bangladesh, dengan sekitar 600.000 lainnya di negara bagian Rakhine.

(*/Tribun-medan.com)

Baca juga: DPD RI Kunker ke Sumut, Bobby Nasution Sampaikan Permasalahan Kemiskinan dan Pengungsi Rohingya

Baca juga: SEGINI Uang Bulanan Pengungsi Rohingya Hingga Bisa Beli Kendaraan, Tapi Tetap Ada yang Maling

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.