SRIPOKU.COM — Pelatih Sriwijaya FC Iwan Setiawan, mengungkapkan bahwa Laskar Wong Kito masih belum menemukan sosok finisher yang mumpuni pada putaran ketiga Pegadaian Championship 2025/26.
"Kita belum mendapatkan finisher yang hebat. Jadi, materi Sriwijaya FC yang ada inilah yang saya coba bangun dengan latihan-latihan finishing," ungkap Iwan Setiawan kepada Sripoku.com.
Pelatih yang dijuluki "Jose Mourinho Indonesia" ini menyebut, seandainya Sriwijaya FC memiliki striker asing, suasana tim tentu akan berbeda dalam memanfaatkan peluang-peluang yang selama ini terbuang.
"Kalian tentu setuju kalau di tim kita ada striker asing. Menurut kalian, kita sudah bisa bikin banyak gol belum di putaran ketiga ini? Pemain asing dengan level standar saja sudah cukup. Itu terbukti dari banyaknya peluang yang selalu kita dapatkan di setiap pertandingan," kata mantan pelatih Borneo FC tersebut.
Pelatih kelahiran Medan, 5 Juli 1968, ini menegaskan bahwa Sriwijaya FC sangat membutuhkan pemain depan yang memiliki kualitas finishing touch yang baik.
"Masalahnya kita belum (maksimal) mencetak gol. Sejauh ini kita baru mencetak gol melalui Sehabudin saat melawan Persiraja, dan Usman saat melawan Persikad Depok. Jadi, kita memang butuh pemain-pemain depan yang punya kualitas penyelesaian akhir yang baik," pungkas mantan pelatih Persibo Bojonegoro tersebut.
Sebelumnya Iwan Setiawan bertanya, mengapa Sriwijaya FC masih minim mencetak gol di putaran ketiga Pegadaian Championship 2025/26?
"Kembali lagi, proses counter attack sebenarnya sudah dilakukan dengan cepat begitu kita mendapatkan bola. Pemain yang diprioritaskan untuk maju adalah pemain sayap dengan kecepatan. Namun, persoalannya kembali lagi pada saat operan terakhir (final pass)," terangnya.
Iwan menjelaskan bahwa posisi pemain sebenarnya sudah terbuka dan sudah berlari ke depan. Namun, akurasi umpan menjadi tidak akurat karena dilakukan dalam intensitas dan kecepatan yang sangat tinggi.
"Nah, akurasi dalam kecepatan inilah yang belum kita dapatkan, sehingga kita selalu bermasalah dengan apa yang disebut final pass. Padahal, kalau umpan akhirnya banyak yang sukses, kita akan sering sekali berhadapan langsung dengan kiper lawan," tambah mantan pelatih Borneo FC tersebut.
Iwan menegaskan bahwa tuntutan utama dalam skema ini adalah ketepatan poin instruksi (coaching point), yakni cepat dan akurat.
"Kita sudah dapat kecepatannya, tapi akuratnya yang belum. Itu yang terus saya perbaiki. Sampai saat ini memang belum sampai ke tingkat yang lebih baik, padahal kita melatih hal itu terus-menerus. Itulah yang akan kita pertajam lagi mulai latihan hari ini untuk menghadapi PSMS Medan," terangnya.
Sebelumnya, Iwan Setiawan blak-blakan membongkar persoalan besar yang membuat Laskar Wong Kito belum beruntung dalam meraih poin sepanjang putaran ketiga ini.
Putaran ketiga Pegadaian Championship 2025/26 tinggal menyisakan tiga laga. Namun hingga kini, Sriwijaya FC masih belum berhasil menambah poin dari dua poin yang telah dikantongi pada putaran sebelumnya.
Pelatih Sriwijaya FC Iwan Setiawan, pun blak-blakan membongkar persoalan besar yang membuat Laskar Wong Kito belum beruntung dalam meraih poin sepanjang putaran ketiga ini.
"Yang menjadi masalah dan pertanyaannya, kenapa kita kalah terus? Kenapa sampai hari ini kita belum meraih poin? Salah satu persoalan terbesarnya adalah tim kita, Sriwijaya FC, tidak kuat dalam menjaga fokus bermain sepanjang pertandingan dengan pemahaman konsep taktikal yang sudah dikuasai," ungkap Iwan Setiawan kepada Sripoku.com.
Iwan Setiawan mulai membeberkan detail masalahnya. Persoalan pertama terletak pada mentalitas. Masalah mental ini membuat para pemain sulit tetap fokus sepanjang laga.
Persoalan kedua adalah banyaknya pemain muda di skuad Sriwijaya FC yang belum paham bagaimana merespon tekanan (pressure) yang dialami sepanjang pertandingan.
"Itu persoalan pemain muda. Sebagai contoh, di babak pertama kita bisa menahan lawan. Namun, tim mana pun di Wilayah Barat ini, saat bertemu Sriwijaya FC, mereka menganggap skor imbang (draw) itu seperti kekalahan bagi mereka. Secara psikologis, tim lawan melihat posisi kita saat ini sebagai juru kunci dengan baru mengantongi dua poin," beber mantan pelatih Persibo Bojonegoro tersebut.
Menurutnya, tim lawan menganggap hasil imbang adalah kegagalan meskipun bermain di kandang Sriwijaya FC. Apalagi, laga kandang SFC saat ini digelar tanpa penonton, sehingga lawan menganggapnya sebagai pertandingan di tempat netral.
"Saat lawan merasa mereka 'kalah' karena skor masih imbang di babak pertama, mereka akan memberikan tekanan yang jauh lebih besar di babak kedua. Mereka menganggap hasil imbang bukan hasil maksimal saat melawan Sriwijaya FC," terangnya.
Baca juga: Sriwijaya FC Minim Gol, Iwan Setiawan Ungkap Biang Keroknya: Cepat Saja Tidak Cukup!
Kondisi psikologis lawan yang meninggi ini membuat intensitas serangan meningkat drastis di babak kedua. Hal ini terjadi saat SFC melawan tim-tim seperti FC Bekasi City, Persiraja Banda Aceh, Persekat Tegal, hingga Persikad Depok.
Masalah utamanya, para pemain muda SFC sering kali terbuai dengan keberhasilan menahan lawan di babak pertama, sehingga gagal mengantisipasi lonjakan intensitas di babak berikutnya.
"Pemain merasa babak pertama sudah cukup berjuang keras mempertahankan pertahanan. Namun di babak kedua, mereka tidak cepat menghadapi tekanan yang lebih tinggi. Ini yang terjadi di sepak bola mana pun," katanya.
Iwan menyimpulkan bahwa adaptasi terhadap tekanan instan ini belum dikuasai dengan baik oleh para pemain mudanya.
"Untuk beradaptasi dengan lingkungan berbeda, mereka mungkin cepat. Namun, dalam merespon tekanan di lapangan, kita lamban sekali. Saat kita terlambat merespon tekanan yang berbeda, kita sudah kebobolan. Itu yang menjadi PR utama di sisi pertahanan (defending)," pungkasnya.