Buntut Keracunan Massal di SMPN 3 Jetis Bantul, BGN DIY Hentikan Sementara Operasional SPPG
Muhammad Fatoni April 15, 2026 09:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.CO, YOGGYA - Badan Gizi Nasional (BGN) DIY merespons cepat insiden dugaan keracunan massal yang menimpa lebih dari seratus siswa dan staf di SMP Negeri 3 Jetis, Kabupaten Bantul.

BGN secara resmi menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyuplai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke sekolah tersebut hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Penghentian operasional ini diiringi dengan syarat mutlak berupa pemenuhan seluruh Standar Operasional Prosedur (SOP) sebelum SPPG tersebut diizinkan kembali beroperasi. 

Koordinator Regional BGN DIY bersama Koordinator Wilayah dan jajaran terkait juga telah turun langsung ke lokasi SPPG untuk melakukan pendalaman, evaluasi menyeluruh, serta memastikan langkah-langkah perbaikan segera diimplementasikan.

Koordinator Regional BGN DIY, Wirandita Gagat Widyatmoko, menegaskan sikap lembaganya terkait jaminan keamanan pangan dan kelalaian operasional.

"Tidak ada toleransi terhadap pelanggaran SOP, khususnya yang berkaitan dengan keamanan pangan dan kualitas layanan. Seluruh SPPG wajib menjalankan operasional sesuai koridor SOP secara ketat dan konsisten. Setiap bentuk kelalaian yang berpotensi membahayakan penerima manfaat akan ditindak secara tegas," tegas Gagat Wirandita, Rabu (15/4/2026).

BGN juga telah melakukan koordinasi intensif dengan unsur wilayah, pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, dan pihak sekolah agar penanganan berjalan cepat dan tepat. 

BGN DIY menyatakan tidak akan ragu memberikan sanksi administratif hingga sanksi operasional kepada SPPG yang melanggar ketentuan, demi memastikan Program MBG tetap aman dan akuntabel.

Baca juga: Sekda DIY Peringatkan Pelaksana Program MBG di Lapangan: Jangan Rusak Upaya Mitigasi Stunting

Puluhan Siswa dan Guru Terdampak

Langkah tegas BGN ini merupakan imbas langsung dari peristiwa dugaan keracunan yang terjadi usai pembagian porsi MBG di SMP Negeri 3 Jetis pada Senin (13/4/2026) lalu.

Menu yang didistribusikan saat itu meliputi nasi, ayam bakar, sayur sawi, tahu goreng, dan buah semangka.

Dugaan sementara, penyebab keracunan berasal dari olahan ayam.

Hingga Rabu (15/4/2026), puluhan siswa yang terdampak dilaporkan belum masuk sekolah dan diperkenankan untuk beristirahat selama tiga hari.

Kepala SMP Negeri 3 Jetis, Widodo, mengungkapkan bahwa insiden tersebut berdampak pada 75 siswa serta 30 guru dan karyawan.

Pihak sekolah mengutamakan pemulihan kondisi para korban.

"Yang kemarin ke Puskesmas itu masih kami izinkan di rumah untuk memulihkan stamina dan psikisnya. Untuk yang tidak ke Puskesmas (tidak terkena diduga keracunan), kami imbau untuk masuk mengikuti kegiatan belajar mengajar," kata Widodo.

Bau Menyengat

Sementara itu, Wakil Kepala SMP Negeri 3 Jetis sekaligus Koordinator Penerima MBG, NIK, menuturkan bahwa secara kasat mata dan rasa, makanan yang disajikan tidak menunjukkan tanda-tanda basi, meski terdapat aroma yang berbeda dari biasanya.

"Katanya, rasa makanan itu enak-enak aja, enggak masalah. Cuma baunya agak sreng (menyengat). Kalau basi sih enggak. Kalau basi kan kita hentikan. Itu cuma agak bau," ucap NIK.

Kasus ini mulai terungkap masif pada Selasa (14/4/2026) pagi, saat sejumlah siswa mulai bergantian mengeluhkan diare dan bolak-balik ke toilet. Situasi pembelajaran yang tidak kondusif memaksa pihak sekolah menghentikan distribusi MBG hari itu dan meliburkan siswa.

"Karena ada kejadian luar biasa, pagi itu juga siswa kami informasi untuk libur sekolah dan beberapa siswa yang mengalami gejala diduga keracunan langsung kami antar ke Puskesmas. Yang sempat pulang juga diantar orang tuanya untuk berobat ke Puskesmas," jelas NIK menambahkan.

Dari total 713 penerima manfaat di sekolah tersebut (658 siswa dan 55 guru), distribusi makanan dilakukan dalam dua gelombang untuk meminimalisasi kerumunan.

Saat ini, sampel MBG sisa konsumsi hari Senin telah diamankan oleh pihak guru untuk dilakukan uji laboratorium guna mengetahui penyebab pasti keracunan.

Seluruh korban yang dilarikan ke Puskesmas Jetis 2 dilaporkan berangsur membaik.

Penanganan sejauh ini sebatas rawat jalan dan pengobatan mandiri, tanpa ada pasien yang harus menjalani rawat inap. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.