Viktor Axelsen Pensiun Saat Perjuangannya Dikabulkan Federasi Badminton Dunia, Cedera Sejak 2025
Mulyadi Danu Saputra April 15, 2026 10:02 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID - Pertengahan April 2026 ini jadi momentum pahit bagi mantan atlet badminton nomor 1 dunia, Viktor Axelsen.
 
Dalam usia yang terbilang masih bisa bersaing, 32 tahun, Viktor Axelsen pilih meninggalkan arena bulu tangkis.

Dia gantung raket alias pensiun akibat cedera pinggng yang tak kunjung sembuh sejak 2025.

Baca juga: Daftar Fakta Alwi Farhan Debut Kejuaraan Dunia 2025: Victor Axelsen Mundur, Wakil ke-12 Indonesia

Kabar mengejutkan itu beredar tak lama setelah Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) secara resmi mengonfirmasi akan mengadopsi format turnamen baru yang lebih panjang dan menyerupai cabang olahraga tenis dimulai tahun 2027 nanti.

Namun, di balik kabar gembira itu, terselip sebuah ironi terkait Viktor Axelsen. 

Dia adalah sosok yang paling lantang memperjuangkan perubahan ini.

Meski Axelsen tidak akan lagi berdiri di lapangan saat format baru itu digulirkan, setidaknya BWF memiliki jadwal tanding yang lebih manusiawi pada tahun 2027.

Perubahan itu dinilai sebagai warisan terbesar yang ditinggalkan Viktor Axelsen untuk generasi muda bulu tangkis.

Perjuangan Jagoan Denmark

BWF telah menyusun format baru dalam perubahan jadwal untuk turnamen level Super 1000, seperti All England, Indonesia Open dan China Open.

Jika selama puluhan tahun turnamen tersebut hanya berlangsung selama enam hari (Selasa hingga Minggu) dengan jadwal yang mencekik fisik, maka mulai tahun 2027, durasinya akan diperpanjang menjadi 11 hingga 12 hari.

Langkah ini bukan sekadar perubahan angka di kalender. Dengan durasi hampir dua minggu, BWF akan menyisipkan rest day atau hari istirahat bagi para pemain.

Format ini mengadopsi kesuksesan turnamen Grand Slam di cabang tenis. 

Tujuannya jelas: agar pemain tidak perlu bertanding setiap hari tanpa jeda, sehingga kualitas fisik mereka tetap terjaga hingga partai puncak.

Inilah yang selama ini menjadi sorotan dari seorang Viktor Axelsen di luar lapangan.

Kritik Jadi Standar Baru

Jauh sebelum BWF mengadakan perubahan ini, Axelsen adalah tokoh utama yang berani melawan sistem yang dianggap kolot.

Juara Olimpiade dua kali tersebut kerap melontarkan kritik pedas terhadap jadwal BWF yang dinilai tidak manusiawi.

Bagi Axelsen, jadwal yang terlalu padat hanya akan menghancurkan karier atlet lebih cepat karena tingginya risiko cedera.

Lewat akun X (Twitter) pribadinya, Axelsen pernah menuliskan kegelisahannya yang kini menjadi fondasi perubahan BWF.

"All England dan Super 1000 lainnya bisa menjadi 10 hari lebih lama. Berikan para pemain satu hingga dua hari istirahat lebih banyak. Itu akan memberi lebih banyak waktu untuk memeriahkan pertandingan, serta memberi kesempatan media dan penggemar untuk berkomunikasi dengan pemain," tegasnya kala itu.

Dia tidak hanya mengeluh, tetapi memberikan solusi agar durasi turnamen elite minimal berlangsung tujuh hingga sembilan hari.

Axelsen ingin dunia melihat bahwa atlet bukanlah mesin, melainkan manusia yang membutuhkan waktu pemulihan untuk menyajikan tontonan berkualitas tinggi bagi para penggemar.

Pensiun Saat Keluhan Dikabulkan

Bak sebuah tragedi, BWF mengabulkan seluruh poin komplain Axelsen tepat saat fisiknya sudah tidak mampu lagi bertahan. 

Cedera pinggang yang membekap Axelsen sejak awal 2025 memaksanya menyerah lebih awal.

Di saat BWF mulai meninjau peningkatan prize money (hadiah uang) dan perpanjangan durasi turnamen demi kesejahteraan pemain, sang penggerak justru harus menepi secara permanen.

Meskipun tak sempat mencicipi buah dari perjuangannya sendiri, langkah mundurnya Axelsen meninggalkan warisan yang tak ternilai harganya bagi para pemain muda seperti Kunlavut Vitidsarn, Kodai Naraoka, hingga talenta muda Indonesia.

Keputusannya untuk tetap vokal hingga akhir karier telah membuka mata federasi dunia bahwa kesehatan atlet adalah aset paling berharga.

Perubahan format pada 2027 mendatang akan selalu dikenang sebagai "Axelsen’s Legacy".

Berkat desakannya, para pemain generasi baru kini memiliki harapan untuk menjalani karier yang lebih panjang dengan risiko cedera yang lebih terkendali.

(Tribunnews.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.