TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Wacana penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) beralih untuk anak kurang gizi disambut baik masyarakat, khususnya di Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, namun dengan beberapa catatan.
Sebagaimana diketahui, baru-baru ini pemerintah akan memberikan arahan baru terkait MBG yang tak lagi dibagikan secara universal ke semua anak.
Rencananya, pembagian MBG diprioritaskan untuk anak kalangan ekonomi kurang mampu dan kurang gizi. Sebab, berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2025, 7,8 juta anak di Indonesia masih mengalami kekurangan gizi.
Ratnasari (38), warga Kapanewon Bantul, Kabupaten Bantul, mendukung hal tersebut. Ia menyadari bahwa saat ini masih banyak anak yang kerap tidak mengonsumsi distribusi MBG dikarenakan menu tak cocok di lidah.
"Senang sih kabar gitu. Jadi enggak semua anak bisa dapat MBG. Karena kalau dilihat saat ini, banyak anak-anak yang kadang makananya enggak habis terus dibawa pulang. Pas sampai rumah ternyata enggak dimakan, malah dibuang karena menu kurang cocok," katanya kepada Tribunjogja.com, Rabu (15/4/2026).
Kendati begitu, pihaknya berharap agar pemerintah dapat menekankan masing-masing pengelola dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk bekerja sesuai standar operasional dan tidak asal-asalan.
Apalagi, saat ini kasus keracunan MBG kerap terjadi di Bumi Projotamansari. Akibatnya, ratusan orang penerima manfaat MBG dari kalangan siswa maupun guru atau karyawan sekolah terkena gejala keracunan makanan dan menganggu aktivitas belajar mengajar.
"Nah, jangan sampai nanti menu MBG yang hanya didistribusikan untuk anak kurang gizi dan kurang mampu menjadi asal-asalan, ala kadarnya. SPPG perlu diingatkan kembali seperti apa porsi gizi yang harus didistribukan ke penerima manfaat, standarnya seperti apa, jangan asal-asalan," harapnya.
Ia mengaku prihatin dengan banyaknya kabar keracunan dikarenakan konsumsi menu MBG. Selain itu, pihaknya berharap kepada pemerintah untuk menyikapi kejadian keracunan MBG dengan serius dikarenakan melibatkan kondisi tubuh manusia.
"Pemerintah harus rutin sidak SPPG. Karena bisa saja, yang kerja itu ternyata bukan orang atau benar-benar paham cara memasak. Buktinya masih ada banyak keracunan makanan. Kalau paham dan mentaati aturan kan tidak ada kejadian seperti ini lagi," tuturnya.
Senada, Sugeng (44), warga Kapanewon Bantul, Kabupaten Bantul, mengaku senang mendengar kabar itu. Dengan kebijakan baru itu, diharapkan MBG didistribusikan sesuai sasaran.
"Anak saya itu kadang kalau dapat MBG enggak dimakan karena menu kurang cocok. Karena kadang nasinya jemek (lembek), pernah ada menu yang bau dan sebagainya. Ya mungkin karena saking banyaknya penerima MBG yang diladeni, jadi jam masaknya sudah lama dan makanan yang dibagi sudah layu," ucap dia.
Ke depan, dengan adanya wacana itu, pihak SPPG diharapkan dapat membagikan MBG dalam keadaan lebih segar dan sesuai menu yang diinginkan para siswa. Pihaknya berharap SPPG juga dapat memperhatikan kadar gizi setiap menu yang didistribusikan dengan tepat.
"Saya sih sebenarnya mendukung MBG ya. Siapa sih yang enggak mau dapat MBG? Toh, anak jadi kenyang kan? Tapi tolong lah, kalau besok bagi MBG dibuat dalam keadaan benar-benar fresh. Jangan kasih anak itu nasi yang jemek (lembek), kan kasihan," tandasnya.(nei)