Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ray Rebon
POS-KUPANG.COM, KUPANG -- KSP TLM Indonesia membagikan pengalaman membangun koperasi sehat dan mandiri dalam workshop bersama Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Provinsi Nusa Tenggara Timur ( Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi NTT ) di La Cove Lasiana, Rabu (15/4/2026).
Workshop bertajuk "Kiat-kiat Sukses Mengelola Koperasi Menuju Lembaga yang Sehat dan Mandiri" ini diikuti puluhan pengurus koperasi, termasuk koperasi desa Merah Putih dari Kota dan Kabupaten Kupang.
Kegiatan yang diinisiasi Dinas Koperasi dan UMKM NTT itu dibuka oleh Staf Ahli Bidang Ekonomi Setda NTT, Dr. Drs. Jusuf Lery Rupidara, yang mewakili Gubernur NTT.
Turut hadir sejumlah pemangku kepentingan, di antaranya Kepala Dinas pemberdayaan Masyarakat Desa Provinsi Nusa Tenggara Timur ( Dinas PMD NTT) Alex Koroh serta Kepala Bidang SMK pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Ayub Sanam.
Baca juga: 3.422 Koperasi Merah Putih Terbentuk, Kepala Dinas Koperasi NTT: Bukan Supaya Papan Nama
Direktur Utama KSP TLM Indonesia, Zesly N. W. Pah, menegaskan bahwa keberhasilan koperasi tidak diraih secara instan. Ia mengungkapkan bahwa perjalanan lembaganya sempat diwarnai berbagai tantangan, termasuk tingginya kredit bermasalah.
"Perjalanan kami tidak seindah grafik hari ini. Kami pernah mengalami kredit bermasalah tinggi, tetapi dari situ kami belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama," ujarnya.
Menurut Zesly, salah satu prinsip utama yang kini diterapkan adalah penyelesaian cepat terhadap kredit bermasalah dengan komitmen nol toleransi terhadap Non-Performing Loan (NPL).
"Kalau ada kredit macet, hari itu juga harus diselesaikan atau dicarikan jalan keluar. Jangan dibiarkan berkembang," tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya integritas dalam pengelolaan koperasi. Setiap bentuk kecurangan, sekecil apa pun, akan ditindak tanpa kompromi.
"Kami tidak mentolerir kesalahan, bahkan untuk nominal kecil sekalipun. Ini harus dimulai dari pimpinan," katanya.
Selain itu, komitmen kolektif untuk menekan praktik KKN dan mengesampingkan kepentingan pribadi dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan koperasi.
Zesly menambahkan, budaya organisasi yang kuat akan terbentuk jika nilai-nilai tersebut dijaga secara konsisten dalam jangka panjang, termasuk menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, bahkan hingga luar negeri, untuk memperkuat permodalan.
Sejak berdiri pada 2011, KSP TLM Indonesia terus berkembang dan kini telah menjangkau lima provinsi, yakni NTT, Bali, NTB, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tengah.
Saat ini, koperasi tersebut memiliki 340.117 anggota yang tersebar di 44 kantor cabang dengan 1.039 karyawan. Outstanding kredit mencapai Rp9 triliun, total aset Rp1,2 triliun, serta modal sendiri Rp592 miliar. Tingkat kesehatan koperasi pun berada pada kategori "sehat" dengan skor 95 persen.
Zesly juga menekankan pentingnya kepatuhan terhadap regulasi pemerintah sebagai landasan menjaga stabilitas lembaga.
"Kalau regulasi dianggap beban, kita sulit berkembang. Tapi kalau dijadikan prinsip, itu akan membawa pada kesehatan koperasi," jelasnya.
Sementara itu, Kepala Biro Ekonomi dan Administrasi Pembangunan Setda NTT, Jusuf Lery Rupidara, menyampaikan bahwa workshop ini merupakan langkah strategis yang memberikan dampak besar bagi koperasi maupun pemerintah daerah.
Menurutnya, koperasi menjadi salah satu pilar utama pembangunan ekonomi di NTT.
"Koperasi itu asetnya triliun dan anggotanya jutaan. Keterkaitan antar anggota terjaga dengan baik," ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya pemanfaatan pinjaman koperasi untuk kegiatan usaha yang produktif dan berdampak langsung pada pembangunan daerah.
"Agar pinjaman itu bermuara pada usaha riil dan produktif," tegasnya.
Sementara Kepala Dinas Koperasi dan UMKM NTT, Linus Lusi, menyebut workshop ini sebagai momentum penting untuk menghimpun praktik-praktik baik antar koperasi.
"Hari ini kita saling berbagi pengalaman dan inovasi, sehingga bisa diadaptasi sesuai karakteristik masing-masing koperasi tanpa menghilangkan asas kekeluargaan," ungkapnya.
Ia juga mengapresiasi peran KSP TLM Indonesia dalam memfasilitasi kegiatan tersebut dan memastikan pemerintah akan terus melakukan evaluasi rutin terhadap tingkat kesehatan koperasi di NTT.
Melalui workshop ini, ia berharap koperasi-koperasi di NTT mampu meningkatkan kapasitas pengelolaan, memperkuat usaha produktif, serta berkontribusi nyata dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Dalam workship itu, Linus Lusi mengambil peran sekaligus sebagai moderator untuk lima narasumber yakni Kepala Dinas PMD NTT Alex Koroh, Kabid SMK Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT Ayub Sanam, Ketua Koperasi TLM Zasly Pah, Ketua Koperasi Kredit Sami Jaya Crispinus Paulus Tamal, Ketua KKMP Oepura Nixon Ama dan Ketua KDMP Penfui Timur Gesti Sino. (ray)