SURYA.CO.ID, MADIUN - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Madiun, Jawa Timur (Jatim), mencatat lonjakan kasus suspek campak dalam dua pekan terakhir. Kenaikan bahkan mencapai 100 persen, dibanding periode sebelumnya.
Pada Januari hingga Maret 2025, tercatat 25 kasus suspek campak. Namun, sejak awal April hingga 14 April 2026, jumlahnya meningkat menjadi 52 kasus.
"Sampel sudah kami kirim ke BBLK (Balai Besar Laboratorium Kesehatan), tapi sampai sekarang hasilnya belum dikirimkan karena terkendala reagen di sana. Nah, tetapi untuk pasien sudah kami tangani, sudah kami rawat di faskes (fasilitas kesehatan) dan sudah sembuh," kata Kepala Bidang P2P Dinkes Madiun, Agung Dodik Pujiyanto, Rabu (15/4/2026).
Dodik menjelaskan, gejala yang dialami pasien mirip campak, seperti ruam di seluruh tubuh, mata berair, konjungtivitis, demam hingga batuk atau sesak.
"Mayoritas usianya yang suspek ini balita, orang dewasa hampir tidak ada karena imunnya lebih kuat," lanjutnya.
Meski demikian, diagnosis pasti masih menunggu hasil laboratorium, karena gejala serupa juga bisa muncul pada penyakit lain seperti alergi atau gabag.
"Kalau pasien memerlukan rujukan dan perlu rawat inap karena ada komorbid atau penyakit lain yang menyertai ya kami rawat inap. Tetapi kalau tidak, cukup dengan rawat jalan di Puskesmas dengan pengawasan," jelas Dodik.
Sejak Februari, Dinkes telah mengeluarkan surat kewaspadaan ke seluruh fasilitas kesehatan, sebagai tindak lanjut imbauan Dinkes Provinsi Jawa Timur.
"Kami lakukan edukasi lewat promosi kesehatan, pemasangan banner, baliho, hingga penyuluhan langsung oleh tenaga kesehatan di kegiatan masyarakat seperti yasinan dan pertemuan warga," ujarnya.
Capaian imunisasi campak rubella (MR) di Madiun tergolong tinggi. MR2 telah mencapai 100 persen, sedangkan MR1 mencapai 99 persen.
"Target kami sudah hampir terpenuhi. Tinggal satu balita di wilayah Kecamatan Geger yang belum bisa diimunisasi karena masih sakit," ungkap Dodik.
Kasus suspek campak ditemukan tersebar di berbagai wilayah, dan tidak mengelompok dalam satu lokasi.
"Penularannya lewat udara. Maka kami imbau masyarakat tetap memakai masker, menjaga pola hidup bersih dan sehat, serta mencukupi asupan gizi," tegas Dodik.
"Kalau memang terbukti campak, kami akan lakukan ORI (Outbreak Response Immunization) untuk memutus rantai penularan. Stok vaksin kami cukup. Termasuk tenaga kesehatan juga kami siapkan dan lindungi, karena mereka yang paling sering kontak dengan pasien," pungkasnya.