SURYA.CO.ID - Militer Iran kini mengeluarkan ancaman serius yang bisa melumpuhkan jalur perdagangan dunia.
Mereka berencana memblokade Laut Merah, Teluk Persia, dan Laut Oman jika Amerika Serikat (AS) tidak menghentikan blokade di Selat Hormuz.
Pihak militer Iran merasa tindakan AS sudah kelewat batas dengan memblokade Selat Hormuz.
Dengan ditutupnya akses masuk dan keluar pelabuhan mereka, Iran merasa punya hak untuk membalas dengan cara yang sama.
"Angkatan bersenjata Iran tidak akan mengizinkan ekspor atau impor apa pun untuk berlanjut di Teluk Persia, Laut Oman, dan Laut Merah," tegas Ali Abdollahi, kepala pusat komando militer Iran, dikutip SURYA.co.id dari Kompas.com.
Ia juga memperingatkan bahwa langkah AS yang mengincar kapal dagang dan tanker minyak Iran bisa menjadi pemicu batalnya kesepakatan damai (gencatan senjata).
Baca juga: Sia-sia Trump Perintahkan Blokade Selat Hormuz? Ini Cara Cerdik Iran Bikin Armada Perang AS Kecele
Meskipun militernya mengeluarkan ancaman keras, Presiden Iran Pezeshkian menyatakan bahwa negaranya sebenarnya terbuka untuk jalan damai.
Namun, ia menekankan bahwa Iran tidak akan tunduk pada paksaan yang merugikan rakyatnya.
Pezeshkian juga mempertanyakan dasar hukum tindakan keras yang berdampak pada fasilitas publik dan kemanusiaan.
“Apa pembenaran yang ada dengan menargetkan warga sipil, elit, anak-anak, dan menghancurkan pusat-pusat vital, termasuk sekolah dan rumah sakit, dalam kerangka hukum internasional dan prinsip-prinsip kemanusiaan?” ujar Pezeshkian.
Baca juga: Presiden Donad Trump Sebut Iran Punya Nuklir, Tapi Intelijen AS Menyampaikan Fakta Lain
Krisis ini memuncak setelah perundingan di Pakistan pada 11 April 2026 gagal mencapai titik temu.
Iran tetap pada pendiriannya untuk tidak membuka Selat Hormuz dan menghentikan program uranium.
Presiden AS Donald Trump lantas memerintahkan militernya untuk memblokade Selat Hormuz mulai Senin (13/4/2026).
Langkah ini dilakukan untuk menekan ekonomi Iran dengan cara memutus salah satu sumber pendapatan yang masih tersisa.
Blokade tersebut berlaku untuk semua kapal, dari negara mana pun, yang masuk atau keluar dari pelabuhan dan wilayah pesisir Iran.
Termasuk juga seluruh pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman.
Baca juga: Negara yang Diuntungkan? Rusia Raup Rp 325 Triliun di Tengah Memanasnya Konflik AS-Iran
Di tengah ketegangan yang masih berlangsung, terdapat indikasi bahwa Amerika Serikat dan Iran dapat segera kembali ke meja perundingan.
Laporan menyebutkan bahwa delegasi kedua negara kemungkinan akan kembali ke Pakistan dalam waktu dekat untuk melanjutkan pembicaraan.
“Sesuatu bisa terjadi dalam dua hari ke depan,” kata Presiden Donald Trump.
"Karena kemungkinan kami pergi ke sana—ibu kota, Islamabad, Pakistan—telah meningkat.”